Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

El Nino akan Melanda Indonesia, Ini yang Harus Dilakukan Agar Kebakaran Hutan Tak Meluas

📅 Selasa, 28 Mar 2023, 13:45 WIB | Oleh: Tim Penulis
El Nino akan Melanda Indonesia, Ini yang Harus Dilakukan Agar Kebakaran Hutan Tak Meluas Doc: ANTARA/Nova Wahyudi
Ket. Helikopter milik Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melakukan pemadaman kebakaran lahan dari udara (water bombing).

Bambang Hero Saharjo, IPB University

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) bermunculan di Indonesia karena sejumlah daerah memasuki fase kemarau kering. Kebakaran berisiko meluas apabila anomali cuaca El Nino yang menyebabkan kemarau panjang benar-benar terjadi tahun ini.

Sejak Desember 2022, api menghanguskan ribuan hektare hutan dan lahan di Taman Nasional Way Kambas, Lampung; empat kabupaten di Riau; lahan gambut di Pangkalan Bun, Kalimantan Selatan, dan Kepulauan Natuna, Kepulauan Riau, hingga Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai di Sulawesi Tenggara. Kebakaran disebabkan oleh sejumlah faktor, misalnya ulah manusia yang membakar lahan hingga kekeringan.

Insiden di atas seharusnya menjadi peringatan bagi pemerintah kabupaten kota, provinsi, hingga pusat agar lebih bersiaga melawan amukan si jago merah. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) meramalkan akan ada dua periode rawan kebakaran: Januari-April dan Juli-Oktober.

Bahaya terbesar sebenarnya adalah kebakaran kawasan gambut. Gambut yang terbakar akan melepaskan asap menyesakkan dan emisi gas rumah kaca yang jauh lebih banyak dibandingkan lahan biasa. Pada 2019, kebakaran gambut di Pulau Sumatera dan Kalimantan menyebabkan 900 ribu orang mengalami gangguan pernapasan dan kerugian hingga US$ 5,2 miliar.

Kita harus segera bertindak untuk mencegah tragedi berulang. Sebagai akademikus yang lebih dari 30 tahun berjibaku dengan urusan kebakaran, saya mencatat beberapa langkah yang mesti dilakukan Indonesia.

Gambut Harus Basah

Gambut terdiri dari dedaunan busuk dan bahan organik lainnya yang semestinya selalu basah. Sayangnya, kerusakan lahan akibat perkebunan, pertambangan, ataupun kebakaran mengeringkan banyak kawasan gambut kita.

Karena itulah, upaya penanganan dan pencegahan dampak kebakaran mesti berfokus pada pemantauan kebasahan gambut. Gambut yang kurang basah, apalagi gersang harus segera diguyur air habis-habisan.

Pemerintah memiliki standar kebasahan berupa tinggi muka air paling rendah 40 cm di bawah permukaan gambut. Di beberapa daerah seperti Kalimantan Tengah, standar ini semestinya bisa lebih becek lagi, sekitar 5 cm di bawah permukaan gambut.

Badan Restorasi Gambut dan Mangrove harus memantau standar kebasahan ini dengan satelit ataupun pemeriksaan lapangan besar-besaran. Libatkanlah perguruan tinggi, warga sekitar, hingga polisi dan tentara.

Saya mengapresiasi kepolisian sejumlah daerah yang memiliki sistem pemantauan tersendiri berbasiskan informasi dari lapangan. Cara-cara seperti ini harus diperbanyak.

Pemantauan juga harus dilakukan perusahaan yang mengelola lahan gambut. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan harus semakin rajin mengontrol kewajiban mereka menjaga kualitas lahan gambut.

Jangan Tunggu Helikopter

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
gaia musik festival

Daerah
Temui Khofifah, Dubes Marok...
Megapolitan
DPRD Dorong Pemkot Bekasi B...

Ariana Grande Luncurkan Album "Petal"

24 menit yang lalu | Ilham Sudrajat

Rona
Ariana Grande Luncurkan Alb...

Angin Segar, Khofifah Hapus Pajak Pokok dan Denda Kendaraan Ojol

31 menit yang lalu | Selocahyo Basoeki Utomo S

Daerah
Angin Segar, Khofifah Hapus...
Nasional
Mengagetkan, Ada Penipuan E...
Nasional
Kemendagri Integrasikan Lay...

Penyanyi Sheila Majid Dianugerahi Gelar "Datuk Seri"

59 menit yang lalu | Ilham Sudrajat

Rona
Penyanyi Sheila Majid Dianu...

Piala AFF 2026: Prediksi Line Up Indonesia vs Vietnam,  Herdman Siapkan Formasi Terbaik.

Piala AFF 2026: Prediksi Line Up Indonesia vs Vietnam, Herdman Siapkan Formasi Terbaik.

03 Aug 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.