Terobosan Ilmiah, ‘Biobanking’ Selamatkan Satwa Langka dari Kepunahan
📅 Jumat, 17 Mar 2023, 10:56 WIB | Oleh: Tim PenulisSelain itu, ilmuwan juga memanfaatkan biobank untuk mempelajari dan memahami susunan genetik spesies hewan yang berbeda. Harapannya, mereka bisa lebih memahami biologi spesies yang punah ataupun terancam serta hubungannya dengan lingkungan. Pemahaman ini dapat digunakan untuk memperbaiki strategi pelestarian satwa.
Biobank juga bisa memperkaya keberagaman genetik dalam populasi satwa. Melalui penyimpanan materi genetik dari individu-individu yang berbeda dalam suatu spesies, biobanking dapat memastikan suatu populasi mempertahankan keberagaman genetiknya meskipun jumlah individu di alam liar menurun.
Keberagaman genetik sangat penting agar spesies beradaptasi lebih baik dengan perubahan lingkungan sekaligus meningkatkan ketahanan mereka terhadap penyakit. Saat ini, keberagaman genetik populasi satwa semakin mengecil akibat perambahan hutan dan habitat yang tak terhubung satu sama lainnya.
Bagaimana Tantangannya?
Sebaiknya Anda baca juga:
Meskipun jamak manfaat, ada juga beberapa tantangan pelaksanaan biobanking satwa liar. Salah satunya adalah biaya yang sangat mahal untuk mengumpulkan dan memelihara penyimpanan materi genetik.
Biobank juga membutuhkan infrastruktur, pasokan listrik, serta ketersediaan nitrogen cair yang berkelanjutan untuk menjaga dan melestarikan materi genetik dari waktu ke waktu.
Tantangan lainnya adalah keterbatasan pengetahuan yang kita miliki tentang biologi beberapa spesies yang terancam punah. Sebagai contoh, beberapa spesies seperti kancil (Tragulus javanicus), ular pit Toba (Trimeresurus toba), dan burung hantu bertopeng Seram (Tyto almae) belum pernah dipelajari secara mendetail. Akibatnya, pengumpulan dan penyimpanan materi genetiknya bisa lebih sulit.
Sebaiknya Anda baca juga:
Karena itu, kita membutuhkan lebih banyak penelitian dan sumber daya untuk mengatasi tantangan-tantangan ini. Banyak negara maju mulai mendirikan institusi biobanking dan bermitra dengan lembaga penelitian, museum, kebun binatang, maupun organisasi konservasi lainnya.
Misalnya, ada lembaga CryoArks di Inggris, serta Nature's SAFE dan EAZA Biobank di Eropa dan Timur Tengah. Ada juga inisiatif biobank dari Smithsonian Institution (PSCI) dan San Diego Frozen Zoo di Amerika Serikat (AS). Semuanya adalah contoh institusi biobanking dan praktik-praktik ini terus diikuti oleh negara lainnya.
Di Indonesia, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) bersama IPB University dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) sebenarnya memulai riset teknologi reproduksi berbantuan pada beberapa satwa seperti anoa, banteng, dan harimau sumatra.
Namun, kegiatan biobank satwa liar di tanah air baru dilakukan oleh IPB University bekerjasama dengan Leibniz Institute for Zoo and Wildlife Research (Leibniz-IZW) pada awal tahun 2022 dengan fokus pada penyelamatan badak Sumatra.
Indonesia harus melirik potensi biobanking untuk penyelamatan satwa-satwa liar terancam punah di tanah air. Kita membutuhkan dukungan kebijakan, pendanaan, infrastruktur, serta tenaga ahli untuk keberlanjutan proyek-proyek biobank satwa liar terancam lain yang berskala nasional.
Bak bahtera nabi Nuh, kita dapat memanfaatkan biobank untuk memastikan bahwa generasi mendatang dapat menghargai keindahan keberagaman hayati dan pentingnya mereka bagi planet kita.![]()
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!