Tentang Childless, Ini Kata Perempuan yang Hidup Tanpa Anak Bukan Karena Pilihan
📅 Kamis, 23 Feb 2023, 13:44 WIB | Oleh: Tim PenulisHeather* dan suaminya kini berusia 60-an. Pada usia 36 tahun, setelah mencoba hamil selama tiga tahun, Heather mengalami keguguran di usia delapan minggu kehamilannya. Mereka kemudian menjalani delapan siklus IVF, tanpa hasil, dan akhirnya memutuskan untuk menghentikan pengobatan.
Keguguran itu, yang terjadi setelah dia melihat detak jantung bayinya dan mengalami mual hebat di pagi hari, membuatnya sangat trauma. Baginya, kehamilannya tetap terasa istimewa dan berarti.
Hampir 30 tahun kemudian, ada situasi yang masih dia hindari karena dapat memicu emosi dirinya. Sejak pensiun, dia menjadi aktif di University of the Third Age (gerakan internasional untuk pendidikan dan stimulasi bagi orang lanjut usia) namun menghindari beberapa kelas karena terus-menerus ada percakapan tentang cucu:
Mereka bertanya kepada saya tentang anak dan cucu, dan saya harus memberi tahu mereka "tidak, kami tidak punya". Dan itu hampir terasa seperti meminta maaf […] permintaan maaf dan kegagalan.
Sebaiknya Anda baca juga:
Bagi Mary*, yang berusia 70-an pada saat kami wawancarai, menjadi tua berarti menghidupkan kembali trauma ketika menghadiri pesta ulang tahun anak-anak teman-temannya.
Dia ingat ketika berusia 30-an, ia harus meninggalkan pesta itu karena terasa "terlalu berat" baginya, dan perasaan itu muncul kembali ketika teman-temannya sudah menjadi kakek-nenek. Dia merenungkan, "saya kehilangan teman-teman saya lagi."
Renee*, usia 59 pada saat wawancara, mengatakan bahwa kini tidak ada lagi orang yang bertanya apakah dia punya anak. "Sekarang, yang ditanyakan adalah cucu," katanya.
Sebaiknya Anda baca juga:
Dampak berkelanjutan dari tidak memiliki anak juga dirasakan di dalam keluarga.
Greta*, 54 tahun, tidak punya anak, sementara saudara perempuannya punya. Ibunya telah pindah ke negara bagian lain untuk tinggal bersama putri dan cucunya itu di bulan-bulan terakhirnya.
Saya sangat senang, sekarang, karena ibu saya punya waktu untuk bersama mereka, walaupun pada saat itu rasanya cukup memilukan.
Dia merenungkan berapa banyak orang yang tidak punya anak jadi kehilangan hubungan dengan keluarga mereka secara dari generasi ke generasi. "Itu dampak jangka panjangnya. Kalau saya sudah tua, siapa yang akan mempedulikan saya?", katanya.
Hidup yang Berwarna dan Lengkap
Terlepas dari kesedihan berkelanjutan mereka, para perempuan yang saya ajak bicara menekankan bahwa hidup mereka tetap berwarna dan terasa lengkap meskipun tidak memiliki anak. Ini termasuk memiliki karier internasional yang sukses, sekolah lebih tinggi dan perubahan karier, menjalankan bisnis sendiri, menjadi orang tua tiri dan kakek-nenek tiri.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!