Bisnis Limbah Fesyen, Bagian dari Perjuangan Lindungi Lingkungan
📅 Selasa, 21 Feb 2023, 20:01 WIB | Oleh: Ilham Sudrajat"Jadi campaign-nya Bazooqu ini tidak hanya untuk menangani limbah, tapi juga memberdayakan para penjahit yang kondisi ekonominya sulit," ungkap dia.
Konsep reworked thrift juga diadopsi Via Ria Anggraeni, 25 tahun, pendiri toko online TemanThrifhty. Lulusan jurusan Komunikasi Universitas Islam Bandung ini awalnya, sekitar Oktober 2019, hanya menawarkan pakaian bekas miliknya pada akun Instagram-nya (@temanthrifty). Ternyata, peminatnya banyak.
Ia kemudian berpikir untuk menjadikan usaha isengnya menjadi bisnis sungguhan, dengan melibatkan lebih banyak orang. Ia tidak hanya menjual pakaian bekas, tapi mendesain ulang pakaian-pakaian itu menjadi pakaian baru. Ketika mengunggah karya-karyanya di Instagram, pada Oktober 2020, reaksinya di luar perkiraan. Harga pakaian-pakaian yang ditawarkannya jauh lebih tinggi daripada biasanya namun peminatnya justru meningkat.
Via mengaku, tema yang diterapkan pada karya-karyanya adalah fun and cute. "Yang membedakan mungkin dari ciri khas kain dan desain yang secara kontinyu dibuat. Kami menggunakan kain polkadot, kain warna-warni dan rampel di beberapa bagian baju yang berbeda dengan reworked biasanya," kata dia.
Sebaiknya Anda baca juga:
Menurut Via, minatnya menekuni second hand fashion tidak lepas dari keprihatinannya akan limbah fesyen. Ia mengungkapkan, pabrik pakaian semakin hari makin banyak, sehingga limbahnya makin menumpuk. Mengajak orang-orang untuk memperpanjang usia pakaian, katanya, adalah bagian dari usahanya mengurangi limbah itu.
Peluang besar bisnis limbah fesyen juga terbaca oleh Hana Surya, 58 tahun, pendiri Threadpeutic, studio kerajinan tangan di bidang tekstil di Jakarta Timur, yang mendasarkan konsep produksinya pada upaya meminimalkan limbah.
Hana mengetahui itu sewaktu menjadi liason Indonesia Fashion Week 2015. Ibu rumah tangga dengan latar pendidikan bisnis administrasi ini diminta menyiapkan sekitar 200 tas souvenir untuk media. Hanya saja, katanya, ketika, itu ia diminta hanya memanfaatkan limbah fesyen yang tersedia, termasuk event banner, sisa-sisa bahan dari para perancang, dan produk-produk fesyen lama yang sudah tidak terpakai. Ternyata, kata dia, banyak yang tertarik dengan ide memanfaatkan limbah fesyen ini dan ini berarti ada pasarnya.
Sebaiknya Anda baca juga:
Threadpeutic pada awalnya hanya terfokus pada aksesori fesyen seperti tas dan dompet, tapi kemudian melebarkan sayapnya ke produk-produk interior, seperti tapestri, sarung bantal, dan karpet dinding (wall panel). Hampir keseluruhan bahan untuk kebutuhan produksinya diperoleh dari limbah industri pakaian yang diperolehnya secara gratis -- tapi bukan pakaian bekas.
Tapi ia sendiri mengaku usahanya belum begitu banyak membantu mengatasi limbah fesyen. "Dari satu pabrik garmen saja, yang kita ambil untuk diolah hanya secuil. Dalam sebulan mereka bisa menghasilkan waste hingga 10 ton, Sedangkan kita, selama tujuh tahun hanya bisa mengolah sekitar satu ton," jelas dia.
Threadpeutic yang hanya dioperasikan kelompok kecil yang terdiri dari delapan orang, termasuk Hana meraih pendapatan rata-rata 500 juta rupiah per tahun. Bisnis tas dari limbah fesyen, menurut pengakuannya, hanya menyumbang sekitar 20 persen dari pendapatannya. Order besar yang sesekali muncul, biasanya datang dari perusahaan-perusahaan arsitektur atau desain interior yang membutuhkan berbagai kebutuhan interior.
Threadpeutic menjelajahi pasar desain interior sejak menghadirkan panel dinding kain pada tahun 2019 di pameran perdagangan dekorasi dan gaya hidup terkenal, Maison&Objet Paris. Saat ini, panel dinding mereka ditampilkan dalam dua instalasi di kantor pusat Bank Jago di Jakarta Selatan.
"Saya tidak mau bilang saya orang yang sangat ecoconscious. Saya hanya melihat kesempatan bahwa raw material sebuah bisnis tidak harus dari bahan yang baru. Terbukti bahwa kita bisa memanfaatkan waste. Jadi kita upayakan 80-90 persen raw material itu dari bahan sisa. Yang kita utamakan adalah fashion waste," papar dia.
Hana mengaku tidak punya banyak pengalaman di bisnis fesyen ketika membuka Threadpeutic. Ia bahkan baru mempelajari teknik jahit stich and slash untuk menghasilkan bahan dekoratif berlapis dengan efek faux chenille (halus dan empuk setelah dicuci) enam bulan setelah membuka bisnisnya. Teknik itu banyak digunakan untuk produk-produk Threadpeutic.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!