Pandemi Covid-19 Terkendali, Kasus Hipertensi Malah Naik, Begini Penjelasannya
📅 Senin, 06 Feb 2023, 15:08 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: ANTARA/Raisan Al Farisi
Tatas Hardo Panintingjati Brotosudarmo, Universitas Ciputra
Jumlah pengidap tekanan darah tinggi (hipertensi), salah satu jenis 'pembunuh senyap', makin meningkat setelah pandemi COVID makin terkendali.
Hampir 100 juta orang dewasa di seluruh dunia menderita hipertensi. Sekitar 9-17% di antaranya disebabkan oleh asupan natrium yang berlebihan dari sumber makanan. Kini prevalensi hipertensi terus meningkat tajam dan diprediksi pada 2025 sebanyak 29% orang dewasa di seluruh dunia terkena hipertensi.
Hipertensi mengakibatkan kematian sekitar 8 juta orang setiap tahun. Dari jumlah itu, sebanyak 1,5 juta di antaranya terjadi di Asia Tenggara yang sepertiga populasinya menderita hipertensi. Penyakit tidak menular dan bisa dicegah ini dapat menyebabkan peningkatan beban biaya kesehatan.
COVID-19 sebenarnya tidak berkaitan dengan penyebab tekanan darah tinggi tersebut. Namun pascapandemi COVID-19, banyak riset melaporkan kasus hipertensi di beberapa belahan dunia meningkat.
Sebaiknya Anda baca juga:
Peningkatan tersebut diduga akibat pergeseran pola makan masyarakat selama bekerja dari rumah (WFH) yang mengarah ke makanan olahan yang mengandung natrium (garam) tinggi. Makanan tinggi garam natrium memiliki kandungan natrium yang pada umumnya melebihi 500 miligram per 100 gram. Banyak makanan yang diproses dan yang telah melalui tahap pengawetan juga termasuk dalam kategori ini.
Di Indonesia, kontribusi makanan dalam asupan natrium anak-anak berusia muda (6-18 tahun) dilaporakan mencapai nilai >2000 mg per hari. Rinciannya, 55,3% bagi laki-laki dan 54,2% bagi perempuan. Sedangkan dari semua populasi (0 hingga > 55 tahun), individu berusia 13-18 dan 19-55 tahun-lah yang paling banyak mengkonsumsi natrium, yaitu 2,8 g per hari.
Pandemi Ubah Pola Makan
Sebaiknya Anda baca juga:
Pola makan dan preferensi makanan masyarakat berubah selama wabah COVID-19. Makanan beku (frozen food) yang merupakan kategori makanan yang selain memiliki harga terjangkau, memiliki umur simpan yang relatif panjang.
Tidak mengherankan apabila jumlah konsumsi makanan beku oleh konsumen selama pandemi COVID-19 dua tahun terakhir meningkat luar biasa. Di Indonesia, ada 2020, nilai transaksi makanan beku mencapai Rp 670 triliun, dan diproyeksikan akan tumbuh sebesar 8,49% per tahun antara 2021 dan 2026.
Beberapa kategori makanan yang paling diminati selama pandemi lainnya adalah makanan kaleng (canned foods), makanan instan, serta makanan ringan (snacks).
Produk-produk tersebut dikenal dengan kandungan garam natrium yang tinggi. Sehingga, singkatnya, kebijakan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) atau pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) yang diterapkan selama pandemi COVID-19 menghasilkan perubahan yang dapat diamati dalam preferensi diet masyarakat.
Cukup jelas bahwa selama pembatasan itu sebagian besar populasi cenderung meningkatkan konsumsi makanan tinggi natrium.
Asupan natrium yang berlebihan telah terbukti terkait dengan sejumlah besar masalah dan gangguan penyakit tidak menular, termasuk penyakit kardiovaskular, hipertensi, dan penyakit ginjal.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!