Semua Elemen Bangsa Harus Hidup Jujur dan Aktif Perangi Korupsi
📅 Sabtu, 04 Feb 2023, 00:04 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Doc: ISTIMEWA
» Para koruptor tidak punya harkat dan martabat, bahkan tidak malu menyandang stigma tersebut.
» Nilai kejujuran harus menjadi keutamaan dalam menggelorakan semangat antikorupsi.
JAKARTA - Jumlah Lembaga Swadaya Masyarakat (NGO) atau para pegiat antikorupsi harus lebih banyak lagi untuk mendobrak perilaku korupsi yang terus menggerogoti keuangan negara. Lebih banyaknya pegiat itu karena aparat negara sudah sulit diharapkan untuk mendobrak kejahatan tersebut.
Pengajar Mata Kuliah Antikorupsi, Felisianus Novandri Rahmat, di Jakarta, Jumat (3/2), mengatakan sikap antikorupsi harus digaungkan lebih luas, bukan hanya segelintir lembaga seperti ICW yang hanya banyak menyampaikan retorika tanpa memainkan peran yang lebih dirasakan masyarakat.
Sebaiknya Anda baca juga:
"Sekarang, semua bisa punya peran. Kita bersama harus memperbaiki diri dengan kejujuran. Kalau kita jujur, pasti menuntut orang lain juga untuk jujur. Kenapa zaman kita baru merdeka, kehidupan masyarakat Indonesia jauh lebih jujur dari sekarang. Modern, ternyata tidak membuat manusia lebih baik. Tahun 60-an masih baik. Kenapa sekarang tidak. Padahal mereka tidak sekolah di luar negeri. Kenapa sekarang yang memimpin bangsa tidak seperti dulu, padahal sekolah di luar negeri," kata Felisianus.
Pernyataan kalau budaya korupsi itu bagian dari perilaku orang Indonesia, sebenarnya itu keliru besar. Sebab, pada dasarnya jiwa orang Indonesia dari dulu selalu dilandasi kejujuran. Makanya, zaman dulu sangat jarang kemalingan walaupun rumah tidak dikunci, berbeda dengan sekarang.
Hal itu membuktikan kalau perilaku korup itu bukan budaya, karena dari dulu kejujuran merupakan harga diri bangsa. Masalahnya sekarang yang melanda bangsa adalah banyaknya mereka yang pulang dari luar negeri, tapi malah menjadi maling. Meskipun ilmunya tinggi, tetapi mereka tidak punya harga diri.
Sebaiknya Anda baca juga:
"Kita harus berjuang memperbaiki diri untuk kejujuran. Ini roh antikorupsi. Sekarang, mereka tidak punya harga diri, para koruptor tidak lagi malu. Kita harus bersama perbaiki diri tingkatkan harkat martabat kita. Kita jujur juga harus tuntut orang lain juga jujur. Ini semangat antikorupsi," katanya.
Indonesia, jelas Felisianus, perlu mencontoh Jepang. Dompet kalau jatuh pasti dikembalikan ke pemilik dan isinya utuh. Begitu juga di New Zealand, setiap warga negara memiliki harkat nilai hidup yang tinggi dalam kejujuran.
"Sebelumnya, kita merasa bukan tanggung jawab rakyat untuk bersihkan korupsi. Kita jangan menuntut kalau kita tidak berperan dalam gerakan tersebut. Kata kuncinya memperbaiki diri, hidup jujur, malu kalau tidak jujur. Koruptor tiap kali minta maaf kalau ketangkap, tujuannya supaya tuntutan lebih ringan. Mereka menyesal karena ketangkap, bukan karena menyesali perbuatan jahatnya," katanya.
Nilai kejujuran, tambahnya, harus menjadi keutamaan dalam menggelorakan semangat antikorupsi. "Akarnya dari situ, sehingga harus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Semua pihak harus bersinergi dan memiliki komitmen yang sama untuk melawan korupsi," ungkapnya.
Upaya pemerintah saat ini seperti dengan membekali pendidikan antikorupsi sejak dini harus didukung masyarakat dengan mulai menerapkan dari lingkungan keluarga dan sekolah. Di tingkat perguruan tinggi pun harus tetap fokus pada pembangunan karakter anak bangsa.
Di tengah upaya membangun perilaku antikorupsi, sayangnya elite-elite di birokrasi baik di pusat maupun di daerah tanpa rasa malu sedikit pun mempertontonkan praktik-praktik korupsi.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!