Khotbah Jumat Bisa Efektif Dekatkan Isu Perubahan Iklim di Masyarakat, Bagaimana Caranya?
📅 Jumat, 03 Feb 2023, 12:18 WIB | Oleh: Tim PenulisAl-Quran turut membicarakan konsep al Mizan (keseimbangan), di mana manusia dilarang mengganggu ataupun merusak keseimbangan tersebut.
Karena itulah, keseimbangan merupakan hukum alam. Berbagai bukti ilmiah juga menunjukkan kerusakan-kerusakan yang terjadi di bumi ini, mulai dari kebakaran hutan, memutihnya terumbu karang, dan cuaca ekstrem, adalah akibat dari keseimbangan yang terganggu.
Al-Quran dalam Surat Ar-Rum ayat 41 juga menyampaikan kerusakan-kerusakan yang terjadi di darat dan laut akibat perbuatan manusia. Terjadinya bencana alam terjadi yang merugikan manusia dan makhluk di bumi menjadi peringatan bagi manusia untuk menjaga keseimbangan itu.
Namun begitu, penyampaian pesan perubahan iklim tak semata seputar kabar buruk. Untuk memelihara harapan di tengah-tengah masyarakat, para penceramah dapat memantik umat Islam untuk bahu-membahu mengatasi perubahan iklim.
Sebaiknya Anda baca juga:
Aksi ini sejalan dengan tugas manusia sebagai khalifah atau pengurus bumi, seperti yang sudah tertulis dalam Surat Al-Baqarah ayat 30.
Untuk memperkuat pesan ini, para penceramah dapat memberikan contoh langkah-langkah yang sudah dilakukan umat Islam di belahan dunia, upaya dari lembaga pesantren di Indonesia melestarikan lingkungan,, ataupun inisiatif 'hijau' lainnya yang ditempuh oleh masyarakat di lingkungan terdekat mereka.
Semua upaya tersebut dapat menjadi uswatun hasanah atau teladan baik yang bisa disampaikan para dai kepada umat.
Sebaiknya Anda baca juga:
Pentingnya Iqra
Ada sejumlah khotbah Jumat yang menyinggung isu bencana banjir tapi tidak memuat pesan yang mendorong masyarakat untuk berubah.
Ceramah seperti ini amat disayangkan karena berangkat dari pemahaman Islam yang setengah-setengah. Islam justru menekankan pentingnya amar ma'ruf nahi munkar (melakukan perbuatan baik dan mencegah perbuatan buruk).
Untuk memperbaiki kualitas pesan-pesan tersebut, para penceramah mesti kembali membuka buku dan literatur lainnya, termasuk karya-karya ilmiah.
Artinya, mereka harus kembali menghidupkan budaya iqra atau membaca. Bukan hanya teks yang tertulis yang ada di dalam Al-Quran (ayat-ayat qauliyah) tetapi juga bagaimana tanda-tanda kekuasaan Tuhan dalam bentuk ciptaan-Nya (ayat-ayat kauniyah) seperti peristiwa bergantinya siang dan malam, keberadaan langit maupun bumi.
Hal ini diperlukan agar khutbah sesuai perubahan zaman, di mana kerusakan bumi tengah menuju kondisi yang tidak bisa dipulihkan lagi.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!