Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

BNPB: Mitigasi Bencana Hidrometeorologi Jadi Prioritas

📅 Kamis, 26 Jan 2023, 00:34 WIB | Oleh: Tim Penulis
BNPB: Mitigasi Bencana Hidrometeorologi Jadi Prioritas Doc: ANTARA/Wuryanti Puspitasari.
Ket. Tangkapan layar - Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari dalam Disaster Briefing daring di Jakarta, Rabu (25/01/2023).

Jakarta - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyatakan bahwa upaya mitigasi bencana hidrometeorologi basah seperti banjir dan tanah longsor tetap menjadi prioritas pada tahun 2023 guna meminimalkan dampak risiko bencana yang mungkin terjadi.

"Mitigasi bencana hidrometeorologi basah masih tetap diutamakan," kata Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari dalam Disaster Briefing daring di Jakarta, Rabu.

Abdul Muhari menjelaskan pemerintah tetap menjadikan upaya pengendalian bencana hidrometeorologi basah sebagai prioritas karena di Indonesia pada musim kemarau tetap terdapat kemungkinan terjadinya hujan yang berpotensi mengakibatkan banjir.

"Berdasarkan pengalaman, di Indonesia kejadian bencana banjir dan tanah longsor dapat berlangsung sepanjang tahun, tidak hanya pada musim hujan, karena pada musim kemarau pun masih terdapat potensi hujan meskipun intensitasnya berkurang," katanya.

Dengan demikian, kata dia, kesiapsiagaan dan kewaspadaan terhadap kemungkinan terjadinya bencana hidrometeorologi basah tetap diperlukan," katanya.

Sebaiknya Anda baca juga:

Dia juga menambahkan bahwa pada saat ini BNPB sudah mulai meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi musim kemarau guna mengantisipasi terjadinya bencana hidrometeorologi kering seperti kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Pasalnya, kata dia, pada tahun 2023 ini terdapat potensi terjadinya kondisi cuaca panas yang bisa berdampak pada kejadian bencana kekeringan dan karhutla.

"Beberapa lembaga meteorologi internasional menyebut bahwa mungkin kita akan berada pada salah satu tahun terpanas, dalam 20 tahun terakhir sehingga mau tidak mau efeknya adalah terjadi kekeringan dan karhutla, sehingga perlu dipersiapkan langkah kesiapsiagaan sejak awal," katanya.

Abdul Muhari menambahkan bahwa upaya mitigasi diperlukan guna mengurangi jumlah penduduk yang menderita dan juga yang mengungsi.

"Bagaimanapun jika berbicara tentang bencana hidrometeorologi maka perlu dibarengi dengan upaya menjaga kondisi lingkungan," katanya.

Dengan demikian, BNPB mengajak seluruh pihak untuk melakukan restorasi lingkungan agar dapat menjadi solusi permanen dalam rangka mencegah terjadinya bencana.

"Salah satu upaya mencegah bencana hidrometeorologi adalah melakukan restorasi lingkungan dan mempertahankan fungsi lahan mulai dari hulu hingga hilir," katanya.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Pasar Eropa Terbuka Lewat IEU-CEPA, Industri Tekstil Indonesia Punya Peluang Baru
    Artikel yang sangat mencerahkan. Sepakat dengan pandangan Kadin ...
  • Produksi Kapal Baru RI Melonjak 251 Persen, Menperin: Negara Maritim Jangan Kalah di Laut Sendiri
    Menanggapi lonjakan produksi kapal baru hingga 251 persen ...
  • Bidik Transformasi Industri Indonesia, Danantara Gelar Forum Teknologi dan Investasi Global
    Fokus Danantara pada industrialisasi inovasi dalam forum DTIIF ...
  • Produksi Dipangkas 50 Persen, Industri Keramik Terancam Lumpuh Gara-Gara Gas!
    Membaca kondisi industri keramik yang terpaksa memangkas kapasitas ...
  • Gelombang Tsunami Setinggi 18 Meter Mengancam Pantai Selatan Kebumen
    Membayangkannya saja sudah bikin takut. Apalagi ada keluarga ...
Advertisement
Homedec Detail Sidebar
pasang iklan di koran jakarta
pasang iklan di koran jakarta
Advertisement
Kebiasaan Bangun Paling Pagi Bikin Kita Banyak Rezeki, Benarkah?

Kebiasaan Bangun Paling Pagi Bikin Kita Banyak Rezeki, Benarkah?

22 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.