Ekspansi Gemilang Raja Attila di Wilayah Kekaisaran Romawi
📅 Senin, 16 Jan 2023, 06:20 WIB | Oleh: Haryo Brono
Doc: Istimewa
Kekaisaran Romawi timur dan barat pernah mendapatkan serangan dari Attila, raja bangsa Hun. Melalui beberapa kali serangan, wilayah yang dapat dikuasai sangat luas meski kekuasaannya tidak bertahan lama.
Negara Romawi di Eropa pernah mengalami beberapa serangan dari bangsa lain. Sebelum bangsa Mongol melakukan ekspansi pada abad ke-13, bangsa atau suku Hun telah melakukan serangan yang dipimpin oleh Raja Attila atau Attila the Hun yang hidup antara 406 - 453 M.
Attila merupakan raja bangsa Hun terakhir sekaligus terkuat. Kekuasaannya relatif singkat, mampu memperluas kerajaan dari tahun 434 sampai kematiannya tersebut. Kerajaannya membentang dari Eropa tengah ke Laut Hitam dan dari Sungai Danube ke Baltik.
Selama pemerintahannya, dia adalah salah satu musuh bebuyutan Kekaisaran Romawi timur dan barat. Ia menginvasi Balkan sebanyak dua kali dan mengepung Konstantinopel dalam invasi kedua. Pasukannya berbaris melalui Prancis hingga ke Orleans sebelum kembali ke Chalons. Atilla mengusir kaisar barat Valentinian III dari ibu kotanya di Ravenna pada tahun 452.
Bangsa Hun oleh Eropa sering dianggap sebagai suku pengembara dari Tiongkok timur laut dan Asia tengah. Orang-orang ini mencapai keunggulan militer atas para pesaing mereka karena kemampuan berperang, senjata yang lebih baik berupa busur dan kecepatan mobilitasnya.
Sebaiknya Anda baca juga:
Attila lahir sekitar tahun 406 M, namun tidak ada yang mengetahui secara pasti kehidupan masa kecilnya. Namun beberapa analisa mengungkapkan pada usia muda dia sudah menjadi pemimpin dan pejuang yang cakap. Menyusul negosiasi persyaratan perdamaian pada tahun 418, Attila muda, pada usia 12 tahun, dikirim sebagai sandera anak ke istana Romawi yang diperintah Kaisar Honorius.
Sebagai imbalannya, bangsa Hun menerima Flavius Aetius, dalam pertukaran sandera anak yang diatur oleh orang Romawi. Kemungkinan besar kekaisaran mendidik Attila di istana, adat istiadat dan tradisinya serta dalam gaya hidupnya yang mewah. Harapannya akan membawa apresiasi terhadap hal-hal ini ketika kembali ke bangsanya sendiri, sebagai modal memperluas pengaruh Romawi.
Namun bangsa Hun juga berharap banyak kepada Attila karena dapat meningkatkan kemampuan spionase melalui pertukaran itu. Pada 432, suku Hun dipersatukan di bawah Ruga. Pada 434, Ruga wafat, meninggalkan keponakannya Attila dan Bleda, serta putra saudaranya Munjuk, mengendalikan semua suku Hun yang bersatu.
Sebaiknya Anda baca juga:
Pada saat aksesi mereka, bangsa Hun sedang melakukan tawar-menawar dengan utusan Kaisar Theodosius II atas kembalinya beberapa suku pemberontak yang berlindung di dalam Kekaisaran Bizantium. Bangsa Hun, puas dengan perjanjian itu, keluar dari kekaisaran dan pergi ke pedalaman benua, mungkin untuk mengkonsolidasikan dan memperkuat kerajaan.
Sejak saat itu suku Hun tidak terlihat oleh Romawi selama lima tahun berikutnya. Ternyata mereka sedang melakukan invasi ke Kekaisaran Persia. Pada 440, mereka muncul kembali di perbatasan kekaisaran, menyerang para pedagang di pasar di tepi utara Sungai Donau yang telah diatur dalam perjanjian.
Attila dan Bleda mengancam perang lebih lanjut. Mereka beranggapan Romawi telah gagal memenuhi kewajiban perjanjian. Merespons hal ini, keduanya memperbarui kampanye perang pada tahun 443.
Selanjutnya mereka menyerang di sepanjang Danube, menyerbu pusat militer Ratiara dan berhasil mengepung Naissus (sekarang Niš). Kecanggihan militer yang baru di perbendaharaan Hun kemudian merangsek di sepanjang Nisava mereka merebut Serdica (Sofia), Philippopolis (Plovdiv), dan Arcadiopolis.
Di luar pusat kerajaan Romawi Timur, Konstantinopel mereka berhasil melumpuhkan pertahanan. Pasukan Hun sempat terhenti karena kurangnya peralatan pengepungan yang mampu menembus tembok besar kota. Utusan Kaisar Theodosius mengaku kalah dan mengirim pejabat pengadilan Anatolius untuk merundingkan persyaratan perdamaian, yang lebih tegas dari perjanjian sebelumnya.
Kaisar setuju untuk menyerahkan emas seberat 6.000 pound Romawi atau setara dengan 1.963 kilogram emas. Emas ini sebagai bentuk hukuman karena tidak mematuhi ketentuan perjanjian selama invasi. Upeti tahunan menjadi tiga kali lipat, naik menjadi 2.100 pound Romawi atau sekitar 687 kilogram dalam bentuk emas. Tebusan untuk setiap tahanan Romawi naik menjadi 12solidi. Harta berharga ini memuaskan untuk sementara waktu. Para pemimpin Hun mundur ke pedalaman kerajaan.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!