Rupiah Bakal Merosot Susul Mata Uang Global
📅 Jumat, 30 Sep 2022, 00:04 WIB | Oleh: Tim RedaksiEkonom dari Cornell University, Eswar Prasad, mengatakan penurunan itu memberi pukulan kuat bagi posisi Inggris. "Serangkaian luka yang ditimbulkan sendiri, termasuk Brexit dan rencana pengeluaran terbaru pemerintah, telah mempercepat penurunan pound dan semakin membahayakan status London sebagai pusat keuangan global," ungkapnya.
Dari Tokyo, seperti dikutip Japan Forward menyebutkan upaya mengantisipasi kenaikan suku bunga besar lebih lanjut, pada 2 September, membuat nilai yen Jepang anjlok hingga di bawah 140 yen terhadap dollar AS di pasar valuta asing Tokyo. Ini adalah pertama kalinya dalam sekitar 24 tahun melemah ke level itu.
Investor sepertinya telah mencatat perbedaan kebijakan moneter AS dan Jepang. Semakin mereka menjual yen untuk membeli dollar AS karena menjanjikan hasil yang lebih tinggi, pada akhirnya akan meningkatkan tekanan pada yen.
Maka hasilnya adalah kenaikan harga menjadi akut, bahkan di Jepang. Indeks harga konsumen (tidak termasuk makanan segar) pada basis tahun-ke-tahun telah melampaui target BOJ sebesar dua persen dalam empat bulan berturut-turut hingga Juli 2022.
Sebaiknya Anda baca juga:

Impor Mahal
Pengamat Ekonomi dari Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI), Teuku Riefky, mengatakan tren depresiasi terhadap dollar AS hampir terjadi pada semua mata uang termasuk rupiah. Depresiasinya memang berbeda-beda antara satu negara dengan negara lain. Rupiah sendiri, depresiasinya relatif tidak terlalu buruk dibandingkan dengan negara negara lain seperti Inggris dan negara-negara di Eropa yang menggunakan euro.
Sebaiknya Anda baca juga:
Namun demikian, pemerintah harus memikirkan kalau depresiasi rupiah akan mempengaruhi harga impor yang semakin mahal. "Kalau dilihat dari profil impor 90 persen impor kita itu terdiri dari bahan baku dan barang modal sehingga dampaknya kemudian ongkos produksi dalam negeri akan semakin mahal," kata Riefky.
Secara terpisah, Direktur Celios, Bhima Yudisthira, mengatakan pemerintah dan Bank Sentral perlu mewaspadai penguatan dollar AS karena dollar indeks sudah menyentuh 113 dan trennya terus meningkat atau naik 17 persen secara year to date.
Menguatnya dollar AS terhadap hampir seluruh mata uang yang ada di dunia itu karena normalisasi kebijakan moneter dan juga kenaikan inflasi yang terjadi di negara- negara maju, kemudian krisis energi yang terjadi di Eropa.
"Jadi, dampaknya nanti kepada meningkatnya inflasi di dalam negeri kalau rupiahnya terus melemah dan ini akan menciptakan imported inflation atau inflasi karena biaya impor menjadi lebih tinggi, keluarnya arus modal asing terutama di pasar surat utang karena investor mencari instrumen yang lebih aman.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!