Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Rupiah Bakal Merosot Susul Mata Uang Global

📅 Jumat, 30 Sep 2022, 00:04 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Rupiah Bakal Merosot Susul Mata Uang Global Doc: ANTARA/RIVAN AWAL LINGGA
Ket. NILAI TUKAR MEROSOT I Petugas menghitung pecahan uang 100 dollar AS di jasa penukaran uang asing di Melawai, Jakarta, Rabu (28/9). Nilai tukar mata uang asing seperti euro, yen Jepang, dan yuan Tiongkok termasuk rupiah telah merosot dalam beberapa pekan terakhir.

» Merosotnya kurs poundsterling yang lebih rendah dibanding dollar AS menutup sebuah bab dalam sejarah Inggris.

» Depresiasi rupiah akan mempengaruhi harga impor yang akan semakin mahal.

JAKARTA - Hampir semua mata uang global mulai dari euro, yen Jepang, dan yuan Tiongkok, telah merosot dalam beberapa pekan terakhir. Kenaikan suku bunga dan prospek ekonomi yang relatif cerah di Amerika Serikat (AS) dikombinasikan dengan gejolak ekonomi global telah membuat investasi dalam dollar sangat menarik.

Yuan Tiongkok, pada Rabu (28/9), telah jatuh ke rekor terendah terhadap dollar AS di pasar offshore (luar negeri). Kantor berita Bloomberg melaporkan yuan lepas di luar Tiongkok jatuh ke posisi 7,2386 terhadap dollar AS, terendah sejak Beijing melonggarkan aturan perdagangan mata uang di Hong Kong pada 2010.

Penurunan itu terjadi, saat bank sentral Tiongkok, PBOC, pada Senin, mengumumkan langkah untuk membendung penurunan yuan dengan membuatnya lebih mahal untuk bertaruh terhadap mata uang lain.

Investor global telah bergegas memborong dollar AS, sebagai safe haven tradisional, karena kenaikan suku bunga yang agresif oleh bank sentral AS, Federal Reserve, yang memicu pesimisme tentang prospek ekonomi global, sehingga mengangkat mata uang ke tertinggi multidekade terhadap mata uang utama lainnya.

Sementara itu, poundsterling Inggris juga merosot ke rekor terendah terhadap dollar AS, sebab investor membuang mata uang karena mosi tidak percaya pada rencana ekonomi London, yang mencakup pemotongan pajak besar yang didanai oleh peningkatan tajam dalam pinjaman pemerintah.

Dari Oxford dilaporkan, koin Poundsterling Inggris yang berbingkai nikel dan kuningan dengan gambar timbul Ratu Elizabeth II di tengahnya, selama ini selalu diandalkan lebih berharga signifikan daripada dollar AS.

Tampaknya, klaim itu berakhir pekan ini ketika nilai pound merosot ke level terendah yang tercatat 1 poundsterling setara dengan 1,03 dollar AS setelah jatuh lebih dari 20 persen tahun ini.

Dikutip dari New York Times, merosotnya kurs poundsterling itu menutup sebuah bab dalam sejarah Inggris. "Kejatuhan pound ke level terendah sebagai indikasi penurunan yang lebih luas dalam berbagai dimensi," kata pakar globalisasi dan pembangunan dari Universitas Oxford, Ian Goldin, baru-baru ini.

Penyebab langsung kejatuhan pound yang mengkhawatirkan pada Senin adalah pengumuman rencana pengeluaran dan pajak pemerintah Konservatif baru Inggris yang menjanjikan pemotongan pajak yang tajam, yang menguntungkan kaum terkaya.

Kekhawatiran krisis meningkat pada Rabu ketika Bank of England melakukan intervensi, dan memperingatkan "risiko material terhadap stabilitas keuangan Inggris" dari rencana pemerintah. Bank sentral mengatakan akan mulai membeli obligasi pemerintah Inggris "dalam skala apa pun yang diperlukan" untuk membendung aksi jual utang Inggris.

Tindakan darurat Bank of England tampaknya bertentangan dengan upaya mereka yang dimulai beberapa bulan lalu untuk memperlambat tingkat inflasi tahunan hampir 10 persen, yang telah mengangkat harga kebutuhan pokok seperti bensin dan makanan ke tingkat yang menyakitkan.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
jakartafair2026

133 Kelompok Budidaya Ikan di Mataram Terima Bantuan Rp1,7 Miliar dari DKP.

133 Kelompok Budidaya Ikan di Mataram Terima Bantuan Rp1,7 Miliar dari DKP.

03 Jul 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.