PBB Minta Dukungan Anggota untuk Atasi Krisis Pangan dan Energi

Senin, 23 Mei 2022, 00:02 WIB

JAKARTA - Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (Sekjen PBB), António Guterres, memimpin pertemuan pertama tingkat Kepala Negara/Pemerintahan forum Champions Group of the Global Crisis Response Group (GCRG) yang berlangsung akhir pekan lalu. Dalam pertemuan secara daring itu membahas babak baru pemulihan krisis pangan, energi, dan keuangan global.

Guterres mengatakan situasi global yang dihadapi saat ini sangat kompleks, terutama kondisi pangan, energi, dan keuangan dunia.

Ket. Foto: Sekjen PBB, António Guterres — Sumber: ALEX HALADA/AFP

"Progres untuk mengatasi krisis pangan dengan memprioritaskan pengembalian ekspor bahan pangan dari Ukraina dan Russia dalam waktu dekat. Berbagai kemungkinan juga telah dikaji sebagai solusi mengatasi krisis keuangan. PBB memerlukan masukan dan dukungan dari negara-negara dunia untuk mengatasi krisis energi," kata Guterres.

Dia berharap agar dalam berbagai forum seperti G7, G20 dan forum lainnya memberi sebanyak mungkin dampak positif.

Usai pertemuan ini, Sekjen PBB akan melakukan pembicaraan tersendiri dengan Presiden Joko Widodo pada 23 Mei 2022, dan Perdana Menteri Denmark pada 24 Mei 2022.

Sementara itu, Kanselir Jerman, Olaf Scholz, menyerukan penghentian perang. Sanksi yang ada selama ini dinilai sebagai reaksi atas pelanggaran terang-terangan Russia terhadap Piagam PBB. "Sanksi tidak menargetkan komoditas pangan, termasuk ekspor gandum Russia. Tidak ada sanksi terhadap upaya kemanusiaan, perang harus segera dihentikan," kata Scholz.

Indonesia dalam kesempatan itu diwakili Sekretaris Kementerian Koordinator bidang Perekonomian, Susiwijono Moegiarso, selaku Sherpa GCRG.

Selain kanselir Jerman, pertemuan GCRG juga Perdana Menteri Bangladesh Sheikh Hasina, Perdana Menteri Barbados, Mia Amor Mottley, dan Sekretaris Jenderal United Nation Conference on Trade and Development (UNCTAD) Rebeca Grynspan.

Para kepala negara dalam forum pertemuan akan membahas rekomendasi solusi untuk mengatasi tantangan besar yang saling terkait dalam mewujudkan ketahanan pangan, energi, dan keuangan global akibat konflik Russia dan Ukraina.

Solidaritas Diperkuat

Perdana Menteri Bangladesh, Sheikh Hasina, menegaskan dukungan negaranya untuk penghentian perang dan sanksi yang berdampak pada berbagai aspek di banyak negara di dunia, serta menyerukan agar solidaritas global dan lembaga pembiayaan internasional diperkuat.

Dukungan yang tepat sasaran perlu diberikan kepada negara-negara yang rentan, termasuk akses pasar, rantai pasok, logistik global, dan akses pembiayaan, hingga dukungan teknologi dan penelitian untuk sektor pertanian.

Sementara itu Sekjen UNCTAD, Rebeca Grynspan, menyambut baik pertukaran informasi yang dilakukan oleh para Champions dan berharap dapat menyuarakan aspirasi setiap negara yang terdampak krisis.

"Kerja sama yang baik diharapkan dapat terjalin dalam mengatasi krisis ini," ujar Grynspan.

Redaktur: Vitto Budi

Penulis: Eko S

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.