Konflik Timur Tengah dapat Picu Ambisi Energi Nuklir di Asia Tenggara

Senin, 04 Mei 2026, 01:00 WIB

SINGAPURA – Perang di Iran diperkirakan dapat mempercepat rencana negara-negara Asia Tenggara untuk mengembangkan energi nuklir, seiring upaya kawasan ini mengurangi ketergantungan pada minyak dan gas dari Timur Tengah, demikian disampaikan para ahli kepada The Straits Times.

Penutupan Selat Hormuz—jalur pelayaran utama yang menangani sekitar 20 persen perdagangan minyak global—telah mengungkap tingginya ketergantungan Asia Tenggara pada impor energi. Kondisi ini membuat kawasan tersebut rentan terhadap fluktuasi harga bahan bakar, gangguan ekonomi, serta tekanan pada sistem energi.

Ket. Foto: Reaktor Serbaguna — Sumber: antara

Para ahli menilai situasi ini semakin menegaskan perlunya diversifikasi bauran energi, termasuk memperkuat argumen penggunaan energi nuklir untuk meningkatkan ketahanan energi kawasan.

Ahli strategi komoditas Citibank, Arkady Gevorkyan, mengatakan gangguan pasokan minyak dan gas telah mendorong kenaikan biaya pembangkitan listrik serta harga listrik dasar. Hal ini menjadikan energi nuklir sebagai alternatif yang semakin menarik untuk menjamin pasokan listrik stabil.

“Daya beban dasar merupakan kebutuhan minimum listrik yang dibutuhkan jaringan pada waktu tertentu,” ujarnya.

Meski demikian, minat terhadap energi terbarukan seperti tenaga surya dan angin juga meningkat. Namun, kedua sumber tersebut sangat bergantung pada kondisi cuaca sehingga menghasilkan pasokan energi yang tidak stabil.

Energi nuklir kini dinilai sebagai salah satu opsi strategis karena tidak menghasilkan emisi gas rumah kaca, mampu menghasilkan energi dalam jumlah besar, dan tidak memerlukan banyak lahan. Selain itu, pembangkit nuklir dapat beroperasi secara berkelanjutan serta mendukung sektor industri berat dan pusat data yang membutuhkan energi besar.

Peneliti Sekolah Kebijakan Publik Lee Kuan Yew, National University of Singapore (NUS), Tan-Soo Jie-Sheng, menyebut minat terhadap energi nuklir sebenarnya sudah meningkat sebelum konflik Iran, dipicu oleh pertumbuhan kebutuhan listrik, target dekarbonisasi, keterbatasan lahan, dan ketidakstabilan energi terbarukan.

“Konflik ini memperkuat alasan fundamental untuk energi nuklir, tetapi implementasinya tetap membutuhkan komitmen jangka panjang,” katanya.

Ia menambahkan bahwa negara-negara yang sebelumnya menunda program nuklir kini mulai mempertimbangkan kembali opsi tersebut. Konflik ini juga menegaskan kembali isu keamanan energi akibat ketergantungan pada bahan bakar fosil impor dan risiko geopolitik.

Minat Nuklir

Menurut Badan Energi Internasional, sejumlah negara Asia Tenggara seperti Vietnam, Indonesia, Thailand, dan Filipina telah memasukkan energi nuklir dalam rencana energi nasional mereka, termasuk studi kelayakan dan kerja sama internasional.

Vietnam bahkan telah menandatangani kerja sama dengan Russia pada 23 Maret untuk membangun pembangkit listrik tenaga nuklir dengan dua reaktor berkapasitas total 2.400 MW, yang ditargetkan mulai beroperasi pada 2030.

Redaktur: Andes Tanjung

Penulis: Eko S, Selocahyo Basoeki Utomo S

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.