Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Risiko Serangan Siber Meningkat

📅 Rabu, 18 Mei 2022, 09:14 WIB | Oleh:
Risiko Serangan Siber Meningkat Doc: ISTIMEWA

JAKARTA - Perkembangan digitalisasi di industri keuangan berpotensi menaikkan risiko serangan siber di sektor tersebut. Karena itu, industri keuangan, terutama perbankan, dinilai perlu meningkatkan sistem keamanan dan mitigasi risiko terhadap serangan siber.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai berkembangnya digitalisasi di sektor keuangan bagai pedang bermata dua. Di satu sisi, digitalisasi mempermudah transaksi, namun juga meningkatkan probabilitas serangan siber.

Deputi Direktur Basel & Perbankan Internasional, Departemen Penelitian dan Pengaturan Perbankan OJK, Tony, mengungkapkan serangan siber yang terjadi pada 10 besar industri pada 2021 sebanyak 22,4 persennya terjadi di sektor keuangan. Jika dirinci, ada 70 persen serangan yang ditujukan kepada perbankan, 16 persen perusahaan asuransi, dan 14 persen sektor keuangan lainnya.

"Probabilitas serangan siber di sektor keuangan ke depan diprediksi bisa mencapai 86,7 persen dan memang diprediksi akan sukses apabila bank-bank tidak siap untuk melakukan mitigasi kepada keamanan siber," ujar Tony lewat keterangan di Jakarta, Selasa (17/5).

Di tengah proyeksi kenaikan ekonomi dan keuangan digital, lanjutnya, ancaman keamanan siber berpotensi menimbulkan risiko besar bagi bisnis perbankan digital pada beberapa tahun mendatang.

Berdasarkan data International Monetary Fund (IMF) pada 2020, estimasi total kerugian rata-rata tahunan yang dialami sektor jasa keuangan secara global yang disebabkan oleh serangan siber yaitu senilai 100 miliar dollar AS atau lebih dari 1.433 triliun rupiah.

Chief Information Security Officer Bank Mandiri, Saladin D Effendi, mengatakan digitalisasi yang terus berkembang dalam memberikan kenyamanan para nasabah, tentu dibarengi dengan ancaman risiko serangan. Hal tersebut tentu harus diantisipasi oleh perbankan.

Menurutnya, ada tiga ancaman kejahatan siber teratas global 2022, yaitu social engineering dan ransomware, identity dan access control attack, serta supply chain attack.

Dalam kasus social engineering dan ransomware, lanjut Saladin, sebenarnya yang banyak terjadi adalah orang-orang jadi sering "klak-klik" gara-gara kerja di rumah. Sebanyak 47 persen ternyata terjebak pada phishing email yang diklik, jadi mengaktifkan ransomware.

"Kemudian, ransomware dari 2020 ke 2021 itu meningkat 435 persen karena sekarang sudah ada servisnya yang bisa diunduh, bisa diambil, bisa nyerang. Ini yang jadi threat nomor satu, threat keduanya itu identity dan access control attack, dan threat ketiga itu supply chain attack," ujar Saladin.

Ancaman Serangan

Pada kesempatan lain, Multipolar Technology mengingatkan setiap perusahaan terutama sektor keuangan mewaspadai ancaman serangan siber yang bersumber dari internal di samping eksternal. Timbulnya serangan internal, salah satunya juga dipicu akses-akses karyawan yang membuka pintu bagi oknum untuk masuk ke sistem penting.

"Kita perlu mengelola karyawan baik yang masih bekerja maupun yang sudah selesai bekerja dengan perusahaan terkait dengan account dan akses terhadap sistem-sistem kritikal yang ada di perusahaan. Sering kali, kita lupa menghapus kredensial atau akses privilege yang mereka punya," ujar Section Head Multipolar Technology, Ignasius Oky Yoewono, lewat keterangan di Jakarta, Selasa (17/5).

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Industri Tekstil RI Kalah Canggih dari China, Menperin Sarmuji Bongkar Biang Keroknya
    Langkah Kemenperin memprioritaskan restrukturisasi mesin yang telah berusia ...
  • Pasar Makin Prospektif, Kemenperin Pacu Industri Mainan Tembus Pasar Global
    Pencapaian ekspor mainan yang menembus USD 351,8 juta ...
  • Industri Mesin Diperkuat, Indonesia Tak Mau Terus Bergantung Impor
    Langkah strategis Ditjen ILMATE Kemenperin yang disampaikan oleh ...
  • Kemenperin Catat Sektor Industri Mainan Indonesia Serap 15.663 Naker
    Pencapaian surplus ekspor industri mainan nasional yang tembus ...
  • Timnas Indonesia Juara FIFA Asean Cup 2026, Tundukkan Thailand 4-2 Lewat Adu Penalti
    final ideal, kekuatan berimbang, pertandingan yg menguras tenaga ...

Para Pembalap Mencermati Cuaca di Mandalika

1 jam lalu | Aloysius Widiyatmaka

Daerah
Para Pembalap Mencermati Cu...
Ekonomi
Bantu UMKM, Pemerintah Kota...
Advertisement
BMKG: Gempa Lombok Barat akibat Deformasi Batuan Lempeng Indo-Australia

BMKG: Gempa Lombok Barat akibat Deformasi Batuan Lempeng Indo-Australia

07 Oct 2026
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.