Covid-19 dan Perlawanan Gaya Hidup Masyarakat
📅 Kamis, 28 Mei 2020, 21:18 WIB | Oleh: Tim PenulisDamayanti yang juga Direktur Administrasi Bidang Akademik, Promosi dan PMB UAI ini menyoroti trend sosial media yang membuat masyarakat sibuk mengejar unsur-unsur yang bersifat duniawi ketimbang ukhrawi. Hal-hal yang terkait kebendaan dan nilai-nilai yang terlihat secara kasat mata menjadi ukuran yang lebih penting untuk dikejar. Setelah berbelanja dan mengunjungi suatu tempat wajib upload dan posting. Jangan sampai kalah dengan yang lain. Ketika berada dalam situasi berat seperti ini kebiasaan yang seharusnya mulai diminimalisir justru tetap dipertahankan.
Jika merujuk pada konsep hirarki kebutuhan Maslow yang tetap berlaku dalam situasi apapun katanya, maka kebutuhan makan dan sandang sebagai kebutuhan mendasar tetap yang paling utama. Untuk manusia dapat bertahan hidup tentunya. Kebutuhan tahap selanjutnya yaitu rasa aman yang diperlukan saat ini adalah aman dari penularan virus korona.
Sehingga untuk memperoleh kebutuhan rasa aman maka tingkat kebutuhan lainnya seperti sosialisasi, dan aktualisasi perlu ditunda dahulu untuk beberapa waktu. Kita perlu menahan diri untukbeberapa waktu demi terpenuhinya kebutuhan yang mendasar. Bukannya hal ini juga merupakan aspek kita menjalankan ibadah puasa? Bukan sekedar menahan rasa lapar dan haus namun juga menahan diri untuk melakukan hal-hal yang bersifat mudharat. Dalam situasi ancaman pandemi seperti ini maka berada dalam kerumunanakan lebih banyak mudharatnya ketimbang manfaat.
Damayanti menegaskan, jika pada suatu saat gaya hidup konsumtif jelang lebaran ini tiba-tiba harus berhenti karena adanya pandemimaka bagi sebagian masyarakat hal ini nampaknya masih sulit dilakukan. Pertama, karena ketidak tahuan masyarakat mengenai bahaya penularan virus korona.
Lebih lanjut dikemukakan, berbagai informasi di media mengapa kita harus mematuhi PSBB, apalagi istilah asing seperti social distancing, physical distancing, lockdown tentu tidak semua masyarakat bisa memahami. Istilah medis seperti desinfektant, rapid test, pandemi yang populer akhir-akhir ini juga tidak membuat sebagian masyarakat takut. Bahkan penderitaan akibat sakit dan kematianpun jangan-jangan dianggap hal yang biasa saja.
Belum lagi istilah yang lebih ilmiah seperti permodelan kurva, krisis ekonomi, Ro (angka reproduksi kasus), doubling time (waktu penggandaan) dan sebagainya. Padahal berbagai pengetahuan ini diperlukan untuk mencegah naiknya angka penderita dan menentukan akhir penularan virus. "Dengan pengetahuan yang memadai maka gaya hidup konsumtif juga bisa diminimalisir, ditunda atau bahkan dihilangkan," ujar Damayanti.
Kedua, merubah kebiasaan tidak mudah. Tindakan yang dilakukan berulang akan menjadi kebiasaan dan akhirnya menjadi karakter. Masyarakat yang punya kebiasaan belanja jelang lebaran memiliki karakter yang sulit untuk diubah. Sejak kecil sudah dibiasakan dengan kewajiban belanja baju baru saat lebaran. Maka ketika ada situasi yang berbeda menunda kenikmatan berbelanja meskipun hanya sesaat menjadi berat. Kecuali benar-benar masyarakat tidak memiliki uang. Itupun biasanya masih ada upaya untuk meminta bantuan darisana sini.
Damayanti mengungkapkan, ditemukan beberapa kasus bahwa dana Bansos yang diberikan pemerintah untuk memenuhi kebutuhan pokok pangan keluarga jutrudigunakan untuk belanja baju dan rokok.
"Pandemi ini mengajarkan banyak hal kepada kita. Mengingatkan kembali mana sebenarnya yang merupakan kebutuhan atau sekedar keinginan. Mana kebutuhan yang mendesak atau bisa ditunda bahkan bisa dihilangkan sama sekali," kata Damayanti.
Pascapandemi yang entah kapan akan berakhir kini kita memasuki situasi normal yang baru (new normal). Tentu dengan gaya hidup yang baru. Memprioritaskan hal-hal yang penting, memenuhi kebutuhan dasar dengan optimal untuk kualitas kehidupan masyarakat yang lebih baik. Sur/AR-3
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!