Amin Soebandrio : Pemeriksaan Sampel Covid-19 Harus Diperluas
📅 Sabtu, 18 Apr 2020, 03:00 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: ISTIMEWA
Kasus kematian di Indonesia berbeda dengan negara lain, di mana tidak hanya mengancam usia rentan, tapi juga masyarakat dengan usia relatif muda. Meski ada kabar baik, di mana jumlah pasien sembuh melebihi jumlah pasien meninggal, kewaspadaan dan percepatan penanganan tidak bisa dikendorkan. Pemeriksaan menjadi penting untuk menentukan langkah penanganan selanjutnya bagi orang yang diperiksa.
Untuk mengetahui apa saja yang perlu dilakukan dalam mengatasi pandemi Covid-19, wartawan Koran Jakarta, Muhamad Marup dan Gadis Saktika, berkesempatan mewawancarai Kepala Lembaga Biologi Molekuler Eijkman, Amin Soebandrio, dalam beberapa kesempatan di Jakarta. Berikut petikan selengkapnya.
Sejauh mana peran lembaga Eijkman membantu deteksi dini dan uji sampel virus korona?
Kami sudah menyiapkan diri sejak Januari. Fasilitasnya sudah terpasang sejak 2-3 tahun lalu. Kami sudah menggunakan itu untuk mendeteksi berbagai macam virus pada hewan liar yang dekat dengan manusia. Kami sudah mendeteksi beberapa virus korona yang lain. Menurut kami, mendeteksi virus korona bukan sesuatu hal yang baru.
Terkait dengan wabah ini, kami sudah menyiapkan diri. Ketika kami sudah diberi izin meneliti, kami siap. Peralatan dan peneliti pun sudah siap. Namun, kami memiliki kebijakan tidak menerima pasien langsung untuk datang. Jadi, kami hanya menerima sampel yang diambil di rumah sakit.
Kami pun meneliti sampel pasien bukan hanya dari Jakarta, namun beberapa daerah lain. Kami menyediakan Virus Transfer Media (VTM) yang digunakan untuk meletakkan spesimen yang diambil dari pasien menggunakan metode swab. Kami menyediakan alat swab kepada rumah sakit yang membutuhkan.
Bagaimana proses pemeriksaan di Lembaga Eijkman?
Kami mengambil spesimen yang berkualitas tinggi agar virus tetap hidup setelah dari tenggorokan. Cara pengambilan spesimen harus baik dan benar cara penempatan dan lokasi pengambilannya. Setelah itu, baru dibawa ke Eijkman. Dari VTM itu, muncul reaksi RNA dari genetik virus korona. Dari RNA itu, kemudian diproses ke dalam PCR. RNA diubah menjadi DNA, kemudian dibaca mesin PCR setelah beberapa jam akan kelihatan mana yang bereaksi dan mana yang tidak. Bereaksi itu positif, lalu setelah konfirmasi positif baru dilaporkan.
Lembaga Eijkman sudah menguji berapa sampel?
Di Eijkman per hari mengalami fluktuasi yaitu antara 300 sampai hampir mencapai 800 sampel. Meskipun angka ini terus bertambah, tapi masih belum disebut mencapai puncaknya.
Bagi Lembaga Eijkman, bagaimana ketersediaan SDM saat ini?
Kami mengantisipasi itu, melihat tren perkembangannya yang terus naik. Jadi, kami masih bekerja satu shift, dari jam 9 pagi sampai malam. Dengan demikian, kami memobilisasi teman-teman peneliti dari unit lain yang ada di Lembaga Eijkman.
Apa tantangan terberat dalam mendeteksi virus korona?
Tantangan yang cukup berat yaitu kami diminta mendeteksi secepat mungkin. Kami tahu virusnya sudah menyebar ke seluruh Indonesia. Deteksi virus yang lebih cepat sangat penting untuk penanganan pasien. Artinya, informasi pasien ini mengidap penyakit Covid-19 atau tidak.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!