Menyoal Fenomena Resesi Seks
📅 Kamis, 14 Nov 2019, 01:00 WIB | Oleh: Tim PenulisRobot sex bisa dikatakan sebuah fenomena dunia modern yang ajaib, karena 100 persen hubungan fisik manusia bisa digantikan dengan sebuah boneka, yang memang disematkan dengan teknologi canggih, sehingga terkesan memiliki rasa dan kecocokan layaknya seorang pasangan ketika berinteraksi.
Sebuah perusahaan teknologi lokal di Shenzhen, Tiongkok bahkan menilai robot boneka asmara milik mereka dapat menggantikan hubungan intim manusia ke depan. Hal tersebut berkat kemampuan teknologi kecerdasan AI yang ditanamkan pada produk itu.
Robot asmara bernama Emma itu memiliki kemampuan yang dapat mendorong perilaku sang robot layaknya manusia. Emma dapat menyerap dan menyimpan informasi sebagai bekal merespons percakapan yang diharapkan sang pemilik.
Selain kemampuan percakapan interaktif, robot asmara itu juga dapat menolehkan kepala, menyampaikan ekspresi wajah, serta mengedipkan mata sealamiah mungkin sehingga menyerupai manusia. Seorang pakar di balik kehadiran robot-robot asmara itu bahkan berani mengklaim produk-produk ciptaan mereka bahkan telah menggantikan hubungan emosional dan fisik para pemilik robot itu, terlepas dari kontroversi kehadiran robot boneka asmara itu. ima/R-1
Ketidakmampuan secara Ekonomi
Selain AS, dampak dari perubahan kebiasaan yang sangat besar ada pada Jepang. Negeri Sakura itu kini sedang mengalami penurunan jumlah kelahiran, karena tingkat kesuburan sangat rendah.
Seperti Shota Suzuki, penjaga gedung di Tokyo, yang selepas bekerja lebih suka nongkrong dengan teman-temannya. Di usia ke-28, Suzuki tidak pernah memiliki hubungan romantis dan pesimistis akan mengalaminya.
Peter Ueda, peneliti kesehatan masyarakat di Universitas Tokyo mengatakan tingkat keperawanan Jepang melonjak, kekeringan seks adalah berita buruk. "Akibat buruknya dalam kurun waktu 100 tahun, apabila tren ini terus terjadi, populasi di Jepang dapat berkurang setengahnya," ujarnya.
Penurunan angka kelahiran di Jepang sering dikaitkan dengan jam kerja yang panjang dan terlalu banyak waktu yang dihabiskan untuk online. Namun Ueda mengatakan ia mencurigai kerawanan keuangan dan pekerjaan adalah pemicu utama.

"Dibandingkan dengan laki-laki yang memiliki pekerjaan tetap, mereka yang memiliki pekerjaan paruh waktu atau sementara, empat kali lebih mungkin tidak berpengalaman secara heteroseksual pada usia 25 hingga 39 tahun, dan mereka yang menganggur delapan kali lebih mungkin," katanya.
Para pekerja muda usia produktif juga merasa tidak menghasilkan cukup uang untuk menikah karena hanya cukup untuk menghidupi diri sendiri. Bahkan ada tren merasa dirugikan apabila menikah. Para peneliti pun memperingatkan jika masalah ini bisa menyasar AS selanjutnya.
Berdasarkan laporan dari Biro Sensus AS pada 2018, mencatat bahwa keamanan ekonomi merupakan prioritas tinggi ketika seseorang ingin membangun pernikahan atau hubungan serius yang dilakukan. Hal ini menunjukan kalau banyak orang di AS kini merasa cemas untuk menjalin hubungan yang lebih serius dengan lawan jenis karena mereka merasa harus stabil secara ekonomi terlebih dahulu.
Padahal bila angka pernikahan dan kelahiran anak rendah dapat menyebabkan pelemahan terhadap ekonomi secara keseluruhan, yang pada akhirnya akan membuat orang semakin sulit untuk bisa stabil secara ekonomi.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!