Perjuangan Kemanusiaan Gus Dur dan Gus Mus
📅 Sabtu, 13 Okt 2018, 06:00 WIB | Oleh: Tim Penulis"Tolong jangan bawa-bawa namaku untuk berkelahi. Aku tidak suka berkelahi dengan siapa pun dan alasan apa pun. Aku mencintai kalian semua," tegasnya (hlm 149).
Belakangan, dia banyak mengulas tema kebencian. Menurutnya, kadar akal rakyat sudah banyak berkurang akibat ditutupi kebencian. Epidemi kebencian mudah menjangkiti ideologi, pemikiran, agama, dan partai politik.
Ketika kebencian didulukan, apa pun kebaikan dari pihak yang dibenci pasti tampak jelek. "Kebencian melahirkan ketidakadilan.
Orang yang sudah benci dari awal tidak mungkin bersikap adil," kata budayawan tersebut (hlm 156). Kebencian mudah tumbuh dan menyebar akibat rendahnya kemahiran literasi bangsa berhadapan dengan gempuran informasi.
Acap kali mereka mudah percaya terhadap berita tanpa mengklarifikasi lebih jauh. Tidak hanya akal sehat yang hilang, namun juga rasa aman seturut dengan gumpalan kebencian yang mudah mengobarkan tindakan anarkistis.
Di tengah eskalasi yang makin panas karena pertikaian partai untuk merebut suara dalam pilpres, buku ini bisa jadi bacaan tentang arti penting perbuatan terhadap kebaikan sesama.
Akal diharapkan senantiasa waras agar tetap jadi manusia otentik dalam menghadapi gempuran kampanye politis yang menyeret beragam hal yang sering kali tidak manusiawi lagi.Diresensi Habibullah, Alumnus Pascasarjana UIN Malang
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!