Dendam Cinta yang Tak Berkesudahan
📅 Sabtu, 21 Jul 2018, 01:00 WIB | Oleh: Tim PenulisDalam kisah Mahabharata, Aswatama merupakan seorang brahmana dan ksatria, dan putra dari Drona dengan Krepi. Dalam mitologi Hindu pun disebutkan bahwa ia dikenal sebagai makhluk abadi yang dikutuk untuk hidup selamanya tanpa memiliki rasa cinta setelah melakukan pembunuhan terhadap lima putra Pandawa dan mencoba menggugurkan janin yang telah dikandung oleh istri Abimanyu.
Aswatama artinya adalah bersuara seperti kuda. Ia diberi nama seperti itu karena saat lahir tangisannya seperti ringkikan kuda. Ia dideskripsikan sebagai lelaki bertubuh tinggi, dengan kulit gelap, bermata hitam, dan dilekati sebuah permata di dahi. Ia pun pandai bermain pedang dan merupakan salah satu jendral andalan Korawa dalam perang di Kurukshetra.
Semasa kecil ia hidup miskin, tetapi kemudian hidupnya mengalami perubahan ketika Drona, ayahnya, diangkat menjadi guru kerajaan oleh pemerintah Hastinapura. Aswatama kecil pun mengeyam pendidikan militer bersama dengan para pangeran Dinasti Kuru, seperti seratus Korawa, dan lima Pandawa.
Kekuatannya hampir setara dengan Arjuna, termasuk keahliannya dalam memanah. Kematian ayahnya dalam perang di Kurukshetra membuat Aswatama dendam pada Drestadyumna. Akhirnya ia pun membunuhnya setelah perang besar itu resmi berakhir.
Di akhir peperangan, Aswatama berjanji kepada Duryodana, salah seorang Korawa bahwa akan membunuh Pandawa. Kelima putra Pandawa pun berhasil dibunuh Aswatama dan berbalik membuatnya dikejar oleh Pandawa dengan perasaan marah. Takut akan kehancuran dunia, Bhagawan Abyasa menyuruh Aswatama dan Arjuna untuk melakukan gencatan senjata. Hal itu tidak dilakukan oleh Aswatama yang kemudian mencoba menggugurkan janin yang dikandung oleh Utari, menantu Arjuna. Akhirnya, Kresna pun gusar dan mengutuk Aswatama dan menjadi perjalanan terakhir dalam hidupnya.
Sementara dalam versi pewayangan Jawa, memiliki inti cerita yang mirip dengan kisah dari Mahabharata. Namun memiliki beberapa perbedaan seperti nama tokoh, lokasi, dan kejadiannya.

Pada pewayangan Jawa, Aswatama adalah putra Bhagawan Drona dengan Dewi Krepi. Ia berambut dan bertelapak kaki kuda, karena pada saat mengandung dirinya, Dewi Krepi tengah beralih rupa menjadi seekor kuda sembrani untuk menolong Bambang Kumbayana, Drona saat masih muda, terbang menyebrangi lautan.
Pada perang Bharatayuddha, Drona gugur karena siasat para Pandawa. Aswatama yang memihak Korawa pun membunuh keluarga Pandawa setelah perang berakhir yang diceritakan setelahnya, ia dibunuh oleh Bima karena kejadian tersebut.
gma/R-1
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!