Kredit Bermasalah Properti | Koran Jakarta
Koran Jakarta | January 27 2021
No Comments
PERSPEKTIF

Kredit Bermasalah Properti

Kredit Bermasalah Properti

Foto : ANTARA/ Ganet Dirgantoro..
Vice President Non-Subsidized Mortgage and Consumer Lending Division, PT. Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk, Suryanti Agustinar saat memberikan penjelasan terkait Indonesia Properti Virtual Expo 2020.
A   A   A   Pengaturan Font
Situasi sulit ini hendaknya bisa dijadikan pelajaran bagi pengembang untuk tidak jor-joran dalam mengembangkan bisnisnya.

Pembangunan gila-gilaan proyek properti di berbagai wilayah di Indonesia sudah lama diprediksi ­akan menjadi kredit macet. Ada atau tidak ada pandemi Covid-19, pembangunan properti yang jor-joran tanpa memperhatikan daya beli masyarakat, pasti akan bermasalah, akan oversupply.

Para pengembang membangun dalam jumlah besar ­dengan menggunakan dana bank. Giliran saat menjual, tidak ada yang beli. Yang sudah beli dengan kredit pun tidak mampu membayar karena pendapatannya berkurang. Diperparah lagi dengan adanya pandemi Covid-19.

PT Bank Tabungan Negara Tbk mencatat rasio kredit bermasalah atau non performing loan (NPL) yang cukup tinggi di perusahaannya terutama bersumber dari penurunan penjualan dari debitur pengembang apartemen. Setidaknya ada sekitar 17 debitur pengembang ­apartemen highrise building yang bermasalah karena penurunan ­penjualan.

Colliers International Indonesia mencatat, total ­apartemen yang terjual di Jakarta pada 2020 kurang ­dari 2.000 unit, turun 57 persen dibanding penjualan 2019 ­yang mencapai 4.682 unit. ­Dengan penjualan yang tidak sampai 2.000 unit itu, terdapat stok 215.291 unit apartemen.  Di Surabaya, ada stok 44.000 unit apartemen. Jadi, total Jakarta dan Surabaya sekitar 260.000 unit apartemen yang belum terjual.

Suramnya penjualan properti di 2020 tersebut dipastikan akan berlanjut di 2021, bahkan bisa hingga 2022 karena sebagian konsumen membeli ­apartemen untuk investasi. Padahal properti itu kurang likuid karena memang sifatnya jangka panjang. Untuk disewakan pun kurang laku karena itu tadi, menurunnya daya beli masyarakat akibat pandemi Covid-19 ­yang berkepanjangan.

Banyaknya unit apartemen yang belum terjual, akan mempengaruhi arus kas (cash flow) pengembang. Mereka yang rata-rata menggunakan kredit modal kerja dari bank, dipastikan kesulitan membayar cicilan. Turunnya kemampuan pengembang mengembalikan pinjamannya, otomatis berpotensi meningkatkan rasio kredit bermasalah.

Situasi sulit ini hendaknya bisa dijadikan pelajaran bagi pengembang untuk tidak jor-joran dalam mengembangkan bisnisnya.  Bagi pihak bank, ke depan harus lebih selektif lagi menyetujui pengajuan kredit di sektor properti karena demand-nya lagi turun. Jangan hanya bangga bisa menyalurkan kredit tanpa mendalami risiko yang ditimbulkan.

Meski pihak perbankan sudah berupaya mengurangi kredit bermasalah dengan melakukan restrukturisasi, namun hal itu tidak akan bertahan lama. Konsumen yang sudah direstrukturisasi pun kreditnya tetap berpotensi bermasalah bahkan menjadi kredit macet mengingat pandemi ini yang belum ketahuan kapan akan berakhir.

Solusi jangka pendek yang bisa dilakukan, pengembang mengobral unit-unit propertinya yang mangkrak, ­daripada rusak atau menjadi “rumah hantu”.  Kita harus angkat ­topi dengan upaya pemulihan aset dari salah satu bank ­milik negara dengan menggelar asset sales festival di ­beberapa kota di Indonesia untuk mempertemukan penjual dan ­calon pembeli properti. Tujuannya jelas, untuk menekan rasio kredit bermasalah. n

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment