Unsur Agama Bisa Hadirkan Kenyamanan Anak dan Perempuan
📅 Selasa, 09 Des 2025, 03:25 WIB | Oleh: Aloysius Widiyatmaka
Doc: Dok PemprovDKI
JAKARTA – Unsur-unsur keagamaan seperti tokoh dan komunitas dapat memberi penguatan akan hadirnya rasa aman bagi anak dan perempuan. Penegasan ini dikemukakan Sekretaris Dinas Pemberdayaan, Perlindungan Anak, dan Pengendalian Penduduk (PPAPP) Jakarta, Marini Sri Indarwati. Dia mengatakan ini dalam seminar “Pencegahan Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak,” Senin (8/12).
“Tokoh agama dan komunitas keagamaan memiliki kekuatan untuk memperkuat upaya pencegahan dan menciptakan ruang aman bagi perempuan dan anak,” ujarnya. Mereka memiliki kekuatan besar untuk membentuk cara pandang masyarakat dari mimbar ke mimbar, dari ruang doa ke ruang keluarga. “Pesan-pesan moral yang disampaikan semoga mampu mengubah perilaku dan menumbuhkan kepedulian,” jelas Marini.
Menurutnya, tokoh agama mempunyai peran memberikan pemahaman terkait ajaran nilai-nilai agama yang mendorong perlindungan terhadap perempuan dan anak, kepada masyarakat.
Di sisi lain, kekerasan terhadap perempuan dan anak bukan sekadar isu individual melainkan persoalan struktural yang membutuhkan kerja bersama untuk mengatasinya.
Maka, Pemerintah Provinsi berupaya memperkuat kolaborasi dengan berbagai pihak termasuk tokoh agama untuk menciptakan lingkungan yang aman, inklusif, dan bebas kekerasan.
Sebaiknya Anda baca juga:
“Pemerintah tidak dapat berjalan sendiri. Dukungan semua pihak termasuk dari para tokoh agama, komunitas ibadah, dan masyarakat sangat diperlukan untuk membangun budaya aman, saling menghormati, dan bebas kekerasan,” jelas Marini.
Pemprov Jakarta juga terus memperkuat ekosistem perlindungan melalui penyediaan layanan pusat perlindungan perempuan dan anak, fasilitas kesehatan, serta rumah aman bagi perempuan dan anak orang kekerasan. Selain itu, dia juga menyediakan edukasi dan kampanye publik. Kemudian, sinergi lintas sektor dan lembaga pendidikan. Perlu kerja sama dunia usaha, lembaga masyarakat, lembaga agama, dan media massa. Perlu juga penguatan layanan seluruh kota dan kabupaten.
Adapun angka pelaporan kekerasan masih menunjukkan bahwa banyak perempuan dan anak menghadapi ancaman di ruang publik, tempat kerja, dan bahkan di dalam rumah. Data Pusat Perlindungan Perempuan dan Anak Provinsi Jakarta periode Januari hingga 5 Desember menunjukkan jumlah kasus yang ditangani mencapai 2.117.
Sebaiknya Anda baca juga:
Dari data tersebut, jumlah kasus kekerasan terhadap perempuan sebanyak 976 kasus atau 46,1 persen. Sedangkan jumlah kasus anak sebanyak 1.141 kasus atau 53,9 persen. “Kekerasan terhadap perempuan dan anak masih menjadi tantangan besar kita semua. Setiap kasus bukan hanya angka, tetapi mencerminkan luka, ketidakadilan, dan hilangnya rasa aman warga,” tandas Marini.
Rasa Kemanusiaan
Sementara itu, Pemkot Jakarta Selatan minta para anggota Palang Merah Remaja (PMR) mampu menanamkan rasa sosial dan kemanusiaan bagi sesama anak muda. “Gali terus pengetahuan yang dapat menyentuh dan mempertahankan rasa sosial kemanusiaan,” kata Wali Kota Jakarta Selatan, Muhammad Anwar, saat melantik 3.930 anggota PMR Jakarta Selatan.
Menurutnya, PMR yang sudah dilantik telah memiliki bekal pengetahuan yang dapat dipergunakan untuk menolong diri sendiri, keluarga, dan masyarakat. Menurutnya, keikhlasan dan profesionalisme dalam menjalankan tugas kemanusiaan itu datang tidak secara tiba-tiba. Dia membutuhkan penguatan jiwa sosial melalui berbagai factor. Salah satunya melalui pelatihan-pelatihan yang diadakan lembaga formal seperti sekolah maupun organisasi seperti PMI. wid/Ant/G-1
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!