Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Transplantasi Uterus, Usaha Perempuan Dapatkan Anak Biologis yang Semakin Populer

📅 Jumat, 27 Sep 2024, 06:10 WIB | Oleh:
Transplantasi Uterus, Usaha Perempuan Dapatkan Anak Biologis yang Semakin Populer Doc: afp/ Hospital das Clinicas da FMUSP

Memiliki anak biologis menjadi harapan orang-orang di seluruh dunia. Sejak dilakukan pertama kalinya satu dekade lalu, kini lebih dari 100 perempuan di dunia telah menerima transplantasi uterus.

Bagi orang-orang yang memiliki kelainan rahim (uterus) yang serius misalnya kondisi yang menyebabkan rahim tidak ada saat lahir atau rahimnya rusak atau diangkat, satu-satunya pilihan untuk memiliki anak selama ini terbatas pada ibu pengganti gestasional yang ilegal di banyak negara atau adopsi.

Namun, kemajuan terkini telah memungkinkan transplantasi rahim dari donor yang masih hidup atau yang sudah meninggal. Dari berbagai kasus transplantasi dan rahim tersebut, dapat menciptakan kehamilan yang layak.

Sejak transplantasi rahim manusia pertama yang berhasil lebih dari satu dekade lalu, lebih dari 100 transplantasi telah dilakukan di seluruh dunia. Sekitar setengahnya dapat menghasilkan kelahiran bayi hidup.

Diakui oleh para ahli prosedur ini masih eksperimental dan mengandung risiko bagi donor dan penerima. Semakin hari, cara ini menawarkan harapan untuk memiliki anak biologis bagi orang-orang di seluruh dunia. Namun para peneliti mengatakan masih ada jalan panjang yang harus ditempuh sebelum transplantasi ini tersedia bagi semua orang yang mungkin menginginkannya.

Tercatat sekitar satu dari 500 perempuan usia produktif memiliki beberapa bentuk infertilitas terkait rahim. Sekitar satu dari 4.000 hingga 5.000 orang yang dianggap perempuan saat lahir, tanpa rahim sama sekali. Yang lainnya lahir dengan kelainan rahim atau mengalami kerusakan saat melahirkan atau akibat kanker rahim. Beruntungnya banyak dari orang-orang ini masih memiliki ovarium dan sel telur yang berfungsi.

Pada tahun 2003, para peneliti melakukan transplantasi rahim yang berhasil pada tikus yang menghasilkan kelahiran hidup. Transplantasi kemudian beralih ke hewan yang lebih besar, termasuk domba, babi, dan primata nonmanusia.

Transplantasi rahim manusia pertama dalam sejarah modern, yang dilakukan pada tahun 2000 di Arab Saudi dengan donor hidup, tidak berhasil. Pada tahun 2011, ahli bedah di Turki mentransplantasikan rahim dari donor yang sudah meninggal, tetapi tidak menghasilkan kehamilan atau kelahiran hidup yang berhasil sampai sembilan tahun kemudian.

Dari tahun 2012 hingga 2013, sebuah tim di Universitas Gothenburg di Swedia melakukan sembilan transplantasi dengan rahim dari donor hidup yang sebagian besar dari mereka adalah ibu atau kerabat lain dari penerima. Pada tahun 2014, anak pertama lahir dari salah satu prosedur ini dan bayi itu baru saja berusia 10 tahun dan dalam kondisi baik.

"Ketika kami melakukan uji coba dengan sembilan orang, saya berharap dua atau tiga orang akan punya bayi. Sekarang, enam orang hamil dan melahirkan, totalnya jadi sembilan bayi," kata Mats Brännström, seorang profesor kebidanan dan ginekologi di Akademi Sahlgrenska, Universitas Gothenburg, yang memimpin studi awal transplantasi rahim pada hewan dan uji coba manusia pertama di Swedia. "Jadi, tingkat keberhasilan uji coba itu jauh lebih besar dari yang saya perkirakan," imbuh dia.

Sejak itu, lebih banyak transplantasi semacam itu telah dilakukan di berbagai pusat klinis di seluruh dunia.

Para peneliti di Baylor University Medical Center di Texas baru-baru ini menerbitkan sebuah studi di JAMA yang mengevaluasi 20 pasien yang menerima transplantasi rahim. Mereka semuanya berusia antara 20 dan 40 tahun yang mengalami infertilitas rahim, namun masih memiliki setidaknya satu ovarium yang berfungsi. Delapan belas donor masih hidup dan dua telah meninggal. Dari 17 donor hidup tidak mengenal penerima tetapi memilih untuk menyumbangkan rahim mereka, dan semua donor telah melalui kehamilan sebelumnya. Dari 20 orang yang menerima transplantasi, 14 menjalani operasi yang berhasil dan ke-14 orang tersebut kemudian berhasil hamil dan melahirkan.

"Ketika kami memulai (penelitian Baylor) pada tahun 2016, saat itulah kami melakukan operasi pertama dan kami memang berjuang di awal," kata rekan penulis studi JAMA, Liza Johannesson, Direktur Medis Transplantasi Rahim di Baylor University Medical Center.

"Beberapa operasi transplantasi pertama di sana gagal dalam waktu sepekan," tutur Johannesson yang juga merupakan bagian dari tim di Swedia yang melakukan transplantasi pertama yang berhasil pada hewan. "Pada 10 pasien pertama yang kami (lakukan transplantasi di Baylor), kami mengalami lima kegagalan, jadi tingkat keberhasilannya 50 persen. Dan pada 10 pasien berikutnya, kami sebenarnya hanya mengalami satu kegagalan. Jadi, itu 90 persen. Jadi, Anda dapat melihat bahwa ada kurva pembelajaran yang curam saat Anda memulai sebuah program," imbuh dia.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Megapolitan
Perum Bulog Lebak-Pandeglan...

BPJS Kesehatan Edukasi Polda Kepri Terkait Program JKN

42 menit yang lalu | Bambang Wijanarko

Daerah
BPJS Kesehatan Edukasi Pold...
Rona
6 Drama Korea Baru yang Waj...
Daerah
Bus Transjateng Akan Tambah...

Wakil Menteri Imipas Silmy Karim Ditahan KPK

1.5 jam yang lalu | Lili Lestari

Nasional
Wakil Menteri Imipas Silmy ...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Wakil Menteri Imipas Silmy Karim Ditahan KPK

Wakil Menteri Imipas Silmy Karim Ditahan KPK

04 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.