Tim Peneliti Ungkap Misteri di Balik Kepunahan Kera Raksasa
📅 Jumat, 12 Jan 2024, 18:21 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: Antara/Xinhua/Disediakan oleh CAS
BEIJING - Sekelompok tim ilmuwan internasional dari Tiongkok, Australia, dan Amerika Serikat (AS) mengungkap misteri tentang kapan dan bagaimana terjadinya kepunahan kera terbesar yang pernah ada di Bumi.
Gigantopithecus blacki atau G blacki, primata setinggi tiga meter dan memiliki bobot hingga 300 kilogram, yang pernah mendiami dataran Karst di Tiongkok selatan, punah sekitar 295.000 hingga 215.000 tahun yang lalu, lebih awal dari kemunculan manusia modern di daerah tersebut, menurut studi yang dipublikasikan dalam jurnal Nature pada Kamis (11/1).
Temuan itu mematahkan mitos dalam sejumlah cerita rakyat bahwa kera raksasa yang berkerabat dekat dengan orang utan tersebut pernah terlihat di hutan oleh manusia.
Fosil gigi
G blacki dinamai oleh ahli paleoantropologi Ralph von Koenigswald pada 1935 berdasarkan satu gigi geraham belakang yang panjangnya sekitar dua sentimeter. Nama "blacki" disematkan untuk menghormati ahli anatomi Kanada Davidson Black, yang menyelidiki evolusi manusia di Tiongkok.
Sebaiknya Anda baca juga:
Sejak 1950-an, sekitar 2.000 fosil gigi dan empat tulang rahang kera raksasa itu diekskavasi di Daerah Otonom Etnis Zhuang Guangxi, Tiongkok selatan. Namun, belum ada satu pun fosil bagian leher ke bawah atau rahang ke atas yang pernah ditemukan hingga saat ini.
"Kisah G blacki merupakan sebuah misteri dalam paleoantropologi," ujar salah satu penulis utama makalah itu, Zhang Yingqi, dari Institut Paleontologi Vertebrata dan Paleoantropologi (Institute of Vertebrate Palaeontology and Palaeoanthropology/IVPP) di bawah naungan Akademi Ilmu Pengetahuan Tiongkok (Chinese Academy of Sciences/CAS).
"Penyebab punahnya (kera) yang belum terpecahkan itu telah menjadi Cawan Suci dalam bidang tersebut," imbuh dia.
Sebaiknya Anda baca juga:
Pada 2015, Zhang dan rekan-rekannya meluncurkan penyelidikan berskala besar dengan melakukan pencarian menyeluruh di area perbukitan di seluruh Guangxi. Mereka mengumpulkan bukti-bukti dari 22 situs gua. Hasilnya, 11 gua di antaranya ditemukan menyimpan fosil G blacki dan 11 gua lainnya dengan rentang masa yang sama tidak.
Dalam penelitian lanjutan, tim itu menggunakan enam teknik penanggalan berbeda untuk sedimen gua dan fosil. Sebanyak 157 hasil penanggalan mengungkap bahwa spesies ini berada di ambang kepunahan antara 295.000 hingga 215.000 tahun silam.
Teknik penanggalan utama yang digunakan dalam studi tersebut mengukur sinyal peka cahaya yang ditemukan di sedimen penguburan yang menyelimuti fosil-fosil itu.
Angka usia yang diperoleh dari teknik itu selaras dengan hasil penanggalan langsung pada fosil. Bersama dengan hasil dari teknik lainnya, mereka kemudian menyusun kronologi yang komprehensif dan dapat diandalkan perihal kepunahan G blacki.
"Menetapkan waktu yang tepat saat suatu spesies punah dari catatan fosil memberikan kami target kerangka waktu untuk rekonstruksi lingkungan dan penilaian perilaku," kata salah satu penulis utama makalah itu, Kira Westaway, dari Universitas Macquarie di Australia.
Kerentanan
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!