Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Tanpa Pengenaan Tarif ke Barang Impor, Produk Lokal Bakal Semakin Terpuruk

📅 Selasa, 28 Jan 2025, 01:15 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Tanpa Pengenaan Tarif ke Barang Impor, Produk Lokal Bakal Semakin Terpuruk Doc: ANTARA /Yudi Manar
Ket. Pekerja melakukan bongkar muat beras impor asal Myanmar di Pelabuhan Ujung Baru, Medan Belawan, Medan, Sumatera Utara, beberapa waktu lalu.

JAKARTA - Kebijakan fiskal Pemerintah yang berupaya menggenjot penerimaan dengan selalu menaikkan tarif pajak di tengah penurunan daya beli masyarakat dinilai keliru. Sebab, Pemerintah sebenarnya masih bisa memanfaatkan instrumen pengenaan bea masuk atas barang impor terutama barang konsumsi sekaligus melincungi produk dalam negeri. 

Pengamat ekonomi dari STIE YKP, Yogyakarta, Aditya Hera Nurmoko mengatakan Pemerintah terlalu fokus meningkatkan pendapatan negara melalui kenaikan tarif Pajak Pertambahan Nilai (PPN), tetapi belum memaksimalkan potensi tarif impor sebagai salah satu instrumen fiskal yang strategis.

“Tarif impor itu punya dua fungsi utama, yaitu sebagai sumber pendapatan negara dan sebagai instrumen untuk melindungi industri dalam negeri. Dengan potensi puluhan triliun rupiah, pendapatan dari tarif impor bisa digunakan untuk mendukung program-program peningkatan gizi rakyat dan pengembangan ekonomi rakyat,” kata Aditya.

Kenaikan tarif PPN sebut Aditya berdampak langsung ke masyarakat, termasuk golongan menengah ke bawah. Namun, di sisi lain, barang-barang impor yang membanjiri pasar domestik tidak dikenakan tarif yang memadai, terutama pada barang konsumsi non-esensial.

“Hal ini menimbulkan pertanyaan, mengapa potensi besar dari tarif impor belum dimanfaatkan secara optimal? Padahal, kebijakan ini lebih adil dibandingkan membebani masyarakat melalui kenaikan PPN,” lanjutnya.

Dia pun menyayangkan dampak dari kebijakan tarif impor yang lemah terhadap ekonomi rakyat. Barang impor yang membanjiri pasar karena harga yang lebih murah, membuat produk lokal sulit bersaing.

“Ketika barang impor tidak dikenakan tarif yang memadai, produk lokal terpuruk, dan kita kehilangan potensi besar untuk mengembangkan industri kecil dan menengah (IKM),” jelasnya.

Dia menyarankan Pemerintah untuk lebih memanfaatkan pendapatan dari tarif impor untuk mendukung program-program sosial yang berdampak langsung pada rakyat, seperti penyediaan pangan bergizi murah untuk mengatasi masalah stunting.

“Dengan alokasi yang tepat, tarif impor bisa menjadi solusi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, tanpa harus menambah beban pajak langsung,” tambahnya.

Aditya juga menilai kebijakan fiskal pemerintah saat ini tidak seimbang. Kenaikan PPN yang berlaku untuk semua lapisan masyarakat menunjukkan upaya pemerintah untuk meningkatkan pendapatan, tetapi di sisi lain, tarif impor yang bisa menjadi instrumen proteksi sekaligus sumber pendapatan negara justru belum dimanfaatkan secara maksimal.

“Peningkatan pendapatan negara melalui tarif impor sebenarnya lebih adil dan strategis. Ini juga bisa melindungi industri dalam negeri dari gempuran barang luar yang mengancam keberlangsungan usaha rakyat kecil,” tegas Aditya.

Atas keenganan Pemerintah mengenakan tarif impor, dia menduga hal itu karena adanya komitmen terhadap perjanjian dagang internasional (FTA/Free Trade Agreement), yang membatasi fleksibilitas dalam menetapkan tarif. Selain itu, kebijakan yang terlalu fokus pada menarik investasi asing dengan menurunkan hambatan perdagangan juga dinilai mengesampingkan pentingnya melindungi industri dalam negeri.

“Namun, jika kebijakan ini tidak dibarengi dengan strategi penguatan industri lokal, dampaknya akan sangat merugikan dalam jangka panjang. Kita hanya akan menjadi pasar bagi barang luar, tanpa ada nilai tambah bagi ekonomi domestik,” tuturnya.

Ketahanan Pangan

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Luar Negeri
Diserang Rudal Iran, Bandar...
Luar Negeri
Warga Singapura Makin Panja...
Luar Negeri
Disapu Topan Jangmi, 23 War...

Babel Gatiskan 6.000 Sertifikat Halal

47 menit yang lalu | Sujar

Daerah
Babel Gatiskan 6.000 Sertif...
Luar Negeri
Bandara Dihantam Rudal, Kuw...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Rupiah Tembus Rp18.000 per Dollar Pagi Ini, Dibayangi Tekanan Global dan Domestik

Rupiah Tembus Rp18.000 per Dollar Pagi Ini, Dibayangi Tekanan Global dan Domestik

04 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.