Sistem Keuangan Asean+3 Lebih Rentan terhadap Guncangan
📅 Rabu, 06 Des 2023, 00:04 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Doc: Sumber: Kementerian Keuangan – Litbang KJ/and - KJ
» Meningkatnya stok utang dan biaya pembayaran utang di tengah suku bunga tinggi akan meningkatkan risiko terhadap stabilitas keuangan.
» Koreksi harga rumah dan meningkatnya beban utang akibat kenaikan suku bunga atau resesi dapat meningkatkan risiko gagal bayar.
JAKARTA - Kantor Penelitian Makroekonomi Asean+3 (AMRO) dalam laporan stabilitas keuangan atau Asean+3 Financial Stability Report/AFSR) 2023 menyatakan tingkat utang yang tinggi menyebabkan stabilitas keuangan Asean+3 rentan terhadap guncangan yang muncul mendadak.
Kepala Ekonom AMRO, Hoe Ee Khor, mengatakan akumulasi utang yang cepat baik oleh sektor swasta maupun publik membuat sistem keuangan lebih rentan terhadap guncangan yang tiba-tiba.
Total rasio utang terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Asean+3, termasuk utang korporasi, rumah tangga, dan publik terus meningkat, mencapai puncaknya menjadi 325 persen terhadap PDB kawasan selama pandemi sebelum turun menjadi 299 persen PDB pada akhir pandemi Covid-19 pada 2022.
Sebaiknya Anda baca juga:
Meningkatnya stok utang dan biaya pembayaran utang di tengah suku bunga tinggi telah meningkatkan risiko terhadap stabilitas keuangan, terutama karena langkah-langkah dukungan terhadap pandemi telah dihapuskan.
Hoe menuturkan peningkatan utang yang lebih tinggi didorong oleh likuiditas yang melimpah dan langkah-langkah penanganan pandemi Covid-19.
Likuiditas yang melimpah dan berbiaya rendah yang disediakan oleh bank sentral global setelah krisis keuangan global telah memicu peningkatan utang Asean+3.
Sebaiknya Anda baca juga:
Dalam kondisi suku bunga rendah untuk jangka panjang itu, banyak perusahaan, rumah tangga, dan pemerintah di kawasan ini mengambil utang baru untuk membiayai konsumsi dan investasi.
"Lingkungan suku bunga rendah untuk jangka panjang yang ada sebelum kenaikan inflasi global baru-baru ini memfasilitasi akumulasi utang yang besar oleh dunia usaha, rumah tangga, dan pemerintah," katanya.
Selain itu, langkah-langkah stimulus moneter dan fiskal yang diterapkan selama pandemi semakin berkontribusi terhadap peningkatan rasio utang terhadap PDB.
Hoe juga menuturkan bahwa koreksi harga rumah dan meningkatnya beban utang akibat kenaikan suku bunga atau resesi dapat meningkatkan risiko gagal bayar, terutama bagi rumah tangga dengan leverage tinggi.
Perusahaan dengan neraca yang lemah mungkin menghadapi tantangan dalam pembiayaan kembali dan memenuhi beban bunga. Pemerintah dengan rasio utang terhadap PDB yang tinggi mungkin menghadapi peningkatan biaya refinancing dan risiko perpanjangan utang yang jatuh tempo.
Ketahanan beberapa lembaga perantara keuangan bank dan nonbank, yang bertindak sebagai perantara utang dan kreditor, mungkin akan diuji, sehingga berpotensi memperburuk kerentanan di pasar keuangan.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!