Proyek Blok Masela Dikebut, Pemerintah Kantongi Komitmen Investasi 20 Miliar Dolar AS
📅 Senin, 16 Mar 2026, 11:55 WIB | Oleh: Tim PenulisJAKARTA – Mempercepat penyelesaian proyek gas bumi di Lapangan Abadi menjadi langkah strategis untuk memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi kawasan timur Indonesia.
Proyek di Blok Masela ini diperkirakan memiliki cadangan gas besar yang dapat meningkatkan pasokan energi domestik, mendukung industri hilir, serta menambah penerimaan negara dari sektor migas.
Karena itu, percepatan realisasi proyek perlu diiringi kepastian regulasi, penyelesaian skema investasi, serta koordinasi kuat antara pemerintah dan investor agar potensi energi tersebut segera memberi dampak ekonomi nyata bagi daerah dan nasional.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan pemerintah mempercepat penyelesaian proyek gas bumi Lapangan Abadi, Blok Masela, Maluku, setelah tercapainya kesepakatan investasi megaproyek tersebut senilai 20 miliar dolar AS.
Menurut Bahlil, dalam keterangannya di Jakarta, Senin (16/3), pemerintah serius memastikan proyek Abadi Masela benar-benar berjalan setelah puluhan tahun tertunda.
Sebaiknya Anda baca juga:
Dalam pertemuannya dengan CEO INPEX Corporation Takayuki Ueda, di Tokyo, Jepang, Minggu (15/3), Menteri Energi Bahlil telah secara langsung menekankan agar proyek gas raksasa di Laut Arafura itu segera masuk tahap keputusan investasi akhir dan tidak lagi berlarut-larut.
Pertemuan itu menjadi momentum penting untuk mendorong percepatan proyek senilai 20 miliar dolar AS atau setara Rp339 triliun tersebut.
Bagi pemerintah, lanjut Bahlil, Proyek Masela memiliki nilai penggerak ekonomi baru bagi Indonesia bagian timur, sekaligus sumber pasokan gas besar untuk industri nasional di masa depan.
Sebaiknya Anda baca juga:
Ia pun mengapresiasi kemajuan pembangunan proyek, yang kini telah mencapai sekitar 25 persen.
Melihat kemajuan yang signifikan ini, lanjut Bahlil, dirinya berkeinginan agar proyek Abadi Masela dapat memajukan kegiatan front end engineering and design (FEED) pada kuartal kedua atau selambatnya kuartal ketiga tahun ini, supaya secara paralel dapat melakukan tender engineering, procurement and construction (EPC).
"Kami berkeinginan ini bisa cepat supaya jangan diulur-ulur lagi. Ini sudah 27 tahun, masa kita mau tunggu sampai usia saya 60 tahun, baru jadi. Apalagi itu kampung Ibu saya. Jadi, saya pikir bisa tahun ini kita tender EPC," ujar Bahlil dalam pertemuan tersebut.
Untuk mencapai target FEED tersebut, Bahlil menawarkan kepada INPEX supaya produksi Lapangan Abadi, yang mencapai 9 juta ton per tahun (million tonnes per annum/MTPA), apabila belum ada pembeli serius hingga akhir April 2026, agar dibeli Danantara, termasuk untuk memenuhi pasokan program hilirisasi.
"Supaya ada kepastian buyer. Saya menghargai buyer luar negeri, tapi pada saat sekarang, negara Indonesia harus hadir, untuk bersama-sama dengan INPEX dalam rangka memastikan operasi. Jadi, kami (Danantara) saja yang beli," ujar Bahlil.
Menanggapi pernyataan Menteri ESDM itu, Takayuki Ueda menyampaikan komitmennya untuk segera menyelesaikan proyek Abadi Masela.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!