PMI Manufaktur Tiongkok Turun, Ekspor Komoditas RI Terancam Anjlok
📅 Selasa, 02 Jun 2026, 01:10 WIB | Oleh: Tim RedaksiBEIJING - Aktivitas manufaktur Tiongkok melemah pada Mei 2026 karena gangguan seiring dengan masa liburan dan tekanan dari biaya input yang lebih tinggi, sehingga membebani produksi.
Data yang dirilis Biro Statistik Nasional Tiongkok atau National Bureau of Statistics of China (NBS) dan Federasi Logistik dan Pembelian Tiongkok, sebagaimana dilaporkan Bloomberg pada hari Minggu (31/5) seperti dilansir oleh Yahoo Finance, indeks pembelian manufaktur atau Purchasing Managers' Index (PMI) Manufaktur Tiongkok resmi turun menjadi 50,0 pada bulan Mei dari 50,3 pada bulan April.
Angka tersebut sesuai dengan ambang batas 50 poin yang memisahkan ekspansi dari kontraksi dan sejalan dengan ekspektasi para ekonom. Sementara itu, PMI non-manufaktur, yang mengukur aktivitas di sektor konstruksi dan jasa, naik menjadi 50,1 dari 49,4 pada bulan April, kembali ke wilayah ekspansi dan melampaui perkiraan pasar.
Data terbaru itu menambah indikasi bahwa momentum ekonomi Tiongkok telah melambat setelah awal tahun yang kuat. Indikator ekonomi yang dirilis untuk bulan April menunjukkan pertumbuhan yang lebih lemah dalam produksi industri dan penjualan ritel, yang memicu seruan untuk dukungan kebijakan tambahan.
Merespon perlambatan aktivitas ekonomi, pemerintah Tiongkok telah memperkenalkan serangkaian langkah yang bertujuan untuk mendukung pertumbuhan. Awal bulan ini, Bank Rakyat Tiongkok menurunkan suku bunga pinjaman kebijakan satu tahun kepada bank-bank ke level terendah sepanjang sejarah.
Sebaiknya Anda baca juga:
Beijing juga telah mengumumkan rencana untuk memperluas akses ke layanan publik, termasuk perawatan kesehatan dan pendidikan, bagi pekerja migran sebagai bagian dari upaya yang lebih luas untuk mendukung konsumsi dan meningkatkan standar hidup.
Menanggapi kondisi tersebut, pakar ekonomi dari Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Dian Anita Nuswantara, mengatakan, menurunnya aktivitas manufaktur di Tiongkok bisa menurunkan permintaan ekspor dari Indonesia karena Tiongkok adalah salah satu mitra dagang terbesar.
“Jika pabrik-pabrik Tiongkok mengurangi produksi, kebutuhan mereka terhadap bahan baku dari Indonesia seperti batu bara, nikel, bijih logam, karet, dan minyak sawit dapat menurun. Parahnya lagi, tekanan pada harga komoditas yang menjadi andalan ekspor dapat ikut tertekan,” kata Dian.
Sebaiknya Anda baca juga:
Sebagai salah satu penggerak perekonomian nasional, penurunan ekspor Indonesia khususnya ke Tiongkok dapat menekan pertumbuhan di daerah yang bergantung pada bahan tambang dan komoditas perkebunan.
Di kesempatan lain, Pengamat kebijakan publik Fitra, Badiul Hadi mengatakan penurunan PMI Manufaktur Tiongkok bukan sekadar perlambatan industri biasa, tetapi sebagai sinyal awal melemahnya mesin pertumbuhan ekonomi global yang jadi penopang utama permintaan komoditas Indonesia.
Ia juga menyoroti penurunan tajam indeks pesanan ekspor baru Tiongkok dari 50,3 menjadi 48,6. Kondisi itu menunjukkan kontraksi permintaan global sudah mulai terjadi dan Tiongkok sedang menghadapi tekanan dari sisi pasar ekspor.
Dampak ke Indonesia jelasnya tidak langsung terlihat pada pertumbuhan ekonomi nasional. Namun efeknya akan cepat terasa di harga komoditas dan penerimaan negara.
“Dalam beberapa tahun terakhir kinerja ekspor surplus karena sebagian penerimaan negara ditopang oleh boom komoditas, khususnya nikel, batu bara, besi baja, dan CPO yang pasar utamanya ke industri manufaktur Tiongkok.
Saat aktivitas industri Tiongkok melambat, tekanan akan terlihat pada harga komoditas global. Hal itu berpotensi mengurangi keuntungan perusahaan, penerimaan pajak, royalti, hingga Penerimaan Negara Bukan Pajak.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!