Pertumbuhan Terkunci: Ketimpangan Ekonomi Jadi Biang Kerok
📅 Rabu, 13 Agu 2025, 00:00 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Doc: KORAN JAKARTA/M. FACHRI
JAKARTA - Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara Indonesia) optimistis mampu menjadi motor penggerak ekonomi nasional dengan target pertumbuhan 6-7 persen. Namun, ambisi besar ini hanya bisa terwujud jika kekuatan ekonomi tidak lagi didominasi oleh segelintir elit yang menghambat distribusi peluang dan inovasi.
Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Esther Sri Astuti menilai pertumbuhan ekonomi harus mengedapankan pemerataan. Artinya, pertumbuhan ekonomi ini harus secara nyata dinikmati dan dirasakan seluruh lapisan masyarakat.
"Jangan sampai kekayaan hanya dinikmati oleh segelintir orang!" tegas Esther pada Koran Jakarta, Selasa (12/8).
Dia menegaskan berbagai kelompok Masyarakat harus meningkatkan kesejahteraannya. Menurutnya, pertumbuhan ekonomi itu tak hanya sekadar masalah kapital yang diinvestasikan Danantara, melainkan juga upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) dan penguasaan teknologi.
Data Badan Pusat Stastistik (BPS) menyebut Rasio Gini Indonesia pada 2025 sebesar 0,375 atau lebih baik dari target 0,379–0,382. Meski demikian, langkah pemerintah mengurangi ketimpangan menunjukkan stagnasi.
Sebaiknya Anda baca juga:
Berdasarkan World Inequality Report pada 2022, sekitar 10 persen penduduk dunia memiliki pendapatan 19 kali lebih besar dibandingkan 50 persen terbawah. Artinya, kekayaan nasional masih terkonsentrasi pada kelompok elite.
Indonesia masih menjadi negara dengan tingkat kemiskinan ekstrem relatif tinggi di Asean jika mengacu pada standar Bank Dunia yakni pendapatan sekitar 3 dollar AS per hari. Tak hanya itu, ketimpangan antarwilayah masih juga relatif tinggi.
Senada, Direktur Mubyarto Institute, Awan Santosa menilai pertumbuhan ekonomi harus berpihak pada kenyataan ekonomi rakyat kecil sehari-sehari. Mubyarto Institute, papar Awan, berpandangan pemerintah harus memiliki keberpihakan yang jelas kepada ekonomi kerakyatan, khususnya pertanian rakyat sebagai pelaku ekonomi mayoritas di Indonesia.
Sebaiknya Anda baca juga:
"Patut disayangkan jika sistem, struktur, dan kebijakan ekonomi menyimpang dari ideologi dan amanat konstitusi, di mana yang justru dominan adalah pemodal besar dan bukannya ekonomi rakyat," tegas Awan dari Yogyakarta.
Optimistis Tercapai
Chief Economist Danantara Indonesia, Reza Yamora Siregar mengatakan pihaknya memiliki peta jalan model bisnis ke depan. Bila peta jalan ini berhasil dieksekusi, dirinya optimistis target ambisius pertumbuhan ekonomi dapat tercapai.
“Dengan kondisi saat ini kita bisa lima persen, kalau kita dorong, saya percaya diri 6-7 persen itu tidak sulit,” katanya dalam Seminar Nasional P3V XXV di Jakarta, awal pekan ini.
Reza menambahkan Danantara mengelola aset hingga mencapai Rp14 ribu triliun atau hampir setara 1 triliun dollar AS. Nilai ini, kata dia, mencakup sekitar 80 persen dari produk domestik bruto (PDB) Indonesia.
Untuk mengejar target itu, Danantara dikatakan bakal menyasar investasi pada sektor strategis, seperti mineral dan sumber daya alam (SDA), energi, ketahanan pangan, kesehatan, asuransi, hingga dana pensiun. Reza pun menyampaikan Danantara menarik perhatian banyak investor asing.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!