Percepatan Pembangunan Infrastruktur Papua Barat Gunakan Skema KPBU
📅 Jumat, 15 Agu 2025, 09:17 WIB | Oleh: Aloysius Widiyatmaka
Doc: ant
MANOKWARI - Kerja sama pemerintah dan badan usaha (KPBU) menjadi opsi strategis mempercepat pembangunan infrastruktur di Provinsi Papua Barat. Kepala Kantor Wilayah Ditjen Perbendaharaan Kemenkeu, Papua Barat Moch Abdul Kobir, di Manokwari, Kamis, mengatakan penggunaan skema pembiayaan alternatif melalui KPBU dapat mengatasi keterbatasan anggaran infrastruktur daerah.
"Skema ini beri peluang pemerintah daerah menggandeng pihak swasta untuk biayai proyek infrastruktur," kata Kobir. Penerapan skema KPBU, dapat mencakup sektor transportasi, energi, jaringan air bersih, dan infrastruktur sosial lainnya yang membutuhkan investasi besar namun terkendala kemampuan fiskal daerah.
Model pembiayaan tersebut memungkinkan pembagian risiko yang lebih adil antara pemerintah daerah dengan badan usaha, sekaligus memastikan kualitas layanan publik tetap terjaga dengan baik. "Pengembangan pembangunan tidak hanya bersumber dari APBD maupun APBN, salah satunya lewa pembiayaan alternatif," ujarnya.
Kemenkeu bersama Universitas Papua dan Badan Pengarah Percepatan Pembangunan Otonomi Khusus Papua (BP3OKP) mendorong pemerintah daerah menyusun perencanaan proyek yang akan dikerjasamakan. Hal itu sesuai dengan hasil seminar ekonomi fiskal regional bertema 'Pembiayaan alternatif untuk mendorong pembangunan ekonomi Papua Barat' yang diselenggarakan di Universitas Papua, Manokwari.
Sebaiknya Anda baca juga:
"Beberapa daerah di Indonesia sudah gunakan skema ini. Papua Barat belum sama sekali, jadi kami akan serahkan hasil seminar kepada kepala daerah," kata Kobir pula. Dia mengakui bahwa Papua Barat kaya akan sumber daya alam, namun menghadapi tantangan keterbatasan fiskal, dan ketergantungan yang relatif tinggi terhadap dana transfer dari pemerintah pusat.
Hal itu menyebabkan pembangunan daerah rentan dengan perubahan kebijakan fiskal nasional, sehingga perlu pembiayaan alternatif seperti kerja sama dengan swasta, dana filantropi, atau instrumen lainnya.
Di bagian lain, Bank Indonesia (BI) Perwakilan Papua Barat mengembangkan teknologi pertanian berbasis digital atau digital farming guna meningkatkan produktivitas petani sekaligus menjaga stabilitas harga pangan di daerah.
Sebaiknya Anda baca juga:
Deputi BI Perwakilan Papua Barat Arif Rahadian di Manokwari, Kamis, mengatakan program itu dikemas dalam Pelatihan Usaha Tani Berkualitas (PETATAS) yang menerapkan good agriculture practices atau praktik pertanian yang baik. "Melalui Petatas, kami melatih petani menggunakan teknologi tepat guna, termasuk mekanisasi berbasis Internet of Things (IoT) untuk memantau cuaca, hingga kecerdasan buatan (AI) dalam pengelolaan lahan," ujar dia.
Ia mengatakan BI bekerja sama dengan peneliti Institut Pertanian Bogor (IPB) untuk mengembangkan model bisnis dan teknologi pertanian yang bisa direplikasi oleh petani di berbagai wilayah.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!