Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Perbedaan Metode Penetapan Idul Fitri di Indonesia: Mengenal Pendekatan NU, Muhammadiyah, dan Pemerintah

📅 Kamis, 19 Mar 2026, 13:50 WIB | Oleh:
Perbedaan Metode Penetapan Idul Fitri di Indonesia: Mengenal Pendekatan NU, Muhammadiyah, dan Pemerintah Doc: ANTARA/HO - prastyo
Ket. Ilustrasi: Petugas Kemenag Ponorogo melakukan pemantauan hilal awal Ramadhan 1447 Hijriah di Ponorogo, Jawa Timur.

JAKARTA - Dinamika penentuan awal bulan Syawal di Indonesia kembali menjadi sorotan seiring dengan bertahannya dua mazhab besar dalam menetapkan Hari Raya Idul Fitri. 

Perbedaan penetapan Hari Raya Idul Fitri di Indonesia bukanlah hal baru, di mana sejak dekade awal kemerdekaan, umat Islam telah mengenal adanya perbedaan dalam menentukan awal bulan Hijriah, termasuk Syawal.

Perbedaan ini berakar pada metode penentuan awal bulan Hijriah yang telah berkembang sejak lama dalam tradisi keilmuan Islam. Dua pendekatan utama yang digunakan adalah rukyatul hilal (pengamatan langsung) dan hisab (perhitungan astronomi), yang masing-masing memiliki landasan teologis dan ilmiah yang kuat.

Di Indonesia, Nahdlatul Ulama (NU) mempertahankan metode rukyatul hilal sebagai pendekatan utama. Rukyat dilakukan dengan mengamati langsung kemunculan hilal di ufuk barat setelah matahari terbenam pada akhir bulan Ramadhan. Metode ini berangkat dari pemahaman tekstual terhadap hadis Nabi Muhammad SAW yang menyebutkan “berpuasalah karena melihat hilal dan berbukalah karena melihatnya”.

NU menilai observasi langsung tetap penting sebagai bentuk kehati-hatian sekaligus menjaga kesinambungan praktik yang telah diwariskan ulama klasik.

Meski mengedepankan rukyat, NU tidak menafikan peran ilmu astronomi. Hisab tetap digunakan sebagai alat bantu untuk memprediksi posisi hilal dan menentukan kemungkinan visibilitasnya. Pendekatan ini dikenal sebagai rukyat yang didukung hisab, sehingga keputusan yang diambil tetap berbasis observasi empiris yang terukur.

Sementara itu Muhammadiyah menggunakan metode hisab dengan prinsip wujudul hilal, yang dalam perkembangannya disempurnakan melalui konsep Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT). Dalam pendekatan ini awal bulan ditetapkan apabila secara astronomis hilal telah berada di atas ufuk, tanpa menunggu harus terlihat secara kasatmata.

Muhammadiyah menilai hisab memberikan kepastian dan konsistensi yang lebih tinggi. Dengan perhitungan astronomi yang presisi, kalender Hijriah dapat disusun jauh hari sebelumnya.

KHGT bahkan dirancang untuk menyatukan penanggalan Islam secara global, sehingga umat Islam di berbagai belahan dunia dapat memulai dan mengakhiri ibadah pada hari yang sama.

Perbedaan pendekatan ini mencerminkan dua cara pandang dalam memahami nash dan perkembangan ilmu pengetahuan. NU cenderung menekankan aspek rukyat sebagai implementasi langsung teks keagamaan, sementara Muhammadiyah melihat hisab sebagai bentuk ijtihad yang relevan dengan kemajuan sains modern.

Pemerintah melalui Kementerian Agama (Kemenag) berupaya menjembatani kedua pendekatan tersebut melalui sidang isbat. Dalam forum ini data hisab dan hasil rukyat dipertemukan untuk menghasilkan keputusan resmi. Meski demikian, pemerintah juga menghormati keputusan masing-masing organisasi keagamaan.

Contoh perbedaan yang kerap terjadi dapat dilihat pada beberapa tahun ketika posisi hilal berada pada batas kriteria visibilitas. Dalam kondisi tersebut Muhammadiyah dapat menetapkan Idul Fitri lebih awal karena hilal secara hisab sudah wujud, sementara NU menunggu hasil rukyat yang mungkin belum berhasil melihat hilal.

Akibatnya umat Islam di Indonesia merayakan Idul Fitri pada hari yang berbeda.

Meski berbeda hari, praktik di lapangan menunjukkan perbedaan ini tidak mengganggu kebersamaan. Masyarakat tetap saling bersilaturahmi, bahkan tidak jarang menghadiri dua momen halal bihalal dalam waktu berdekatan. Tradisi ini justru memperkuat relasi sosial di tengah keberagaman.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Nasional
Keren, Unika Atma Jaya Masu...
Megapolitan
Mau Tawuran, Dua Pemuda Baw...
Megapolitan
Perum Bulog Lebak-Pandeglan...

BPJS Kesehatan Edukasi Polda Kepri Terkait Program JKN

1.5 jam yang lalu | Bambang Wijanarko

Daerah
BPJS Kesehatan Edukasi Pold...
Rona
6 Drama Korea Baru yang Waj...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Wakil Menteri Imipas Silmy Karim Ditahan KPK

Wakil Menteri Imipas Silmy Karim Ditahan KPK

04 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.