Penyerapan Belanja Pemerintah Tidak Selalu Berdampak Nyata
📅 Jumat, 28 Feb 2025, 01:15 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Doc: antara
JAKARTA - Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) menilai kegagalan perencanaan menjadi pemicu utama belanja Pemerintah tidak efektif. Hal itu terlihat pada belanja Pemerintah yang terserap, tetapi tidak selalu berdampak nyata.
Kepala Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) Muhammad Yusuf Ateh dalam keterangannya yang dikutip Kamis (27/2) mengatakan tidak adanya dampak nyata dari penyerapan anggaran itu menandakan kualitas belanja yang rendah.
“Tantangan penyelenggaraan pembangunan nasional tidaklah mudah. Untuk itu, diperlukan tata kelola yang mumpuni dalam pencegahan kebocoran keuangan negara,” kata Yusuf Ateh.
Dia pun meminta para pengguna anggaran baik Kementerian maupun Lembaga agar memastikan penyusunan anggaran secara matang, mengelola risiko dengan baik serta mengambil keputusan berbasis data dan bukti.
Pengawasan BPKP jelasnya memotret kondisi riil di lapangan sebagai feedback atas kinerja pemerintah dalam merumuskan rekomendasi kunci yang perlu menjadi perhatian sebagai evaluasi keberhasilan program pemerintah. Dengan begitu, manfaat belanja negara dapat dipertanggungjawabkan bagi masyarakat.
Sebaiknya Anda baca juga:
BPKP tegasnya juga berkolaborasi dengan aparat penegak hukum (APH) seperti Kejaksaan dan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), serta PPATK dalam penanganan tindak kecurangan.
”Mari kita tingkatkan sinergi dan kolaborasi agar upaya pencegahan kebocoran keuangan negara berjalan lebih optimal,” katanya.
Pada kesempatan lain, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas) Rachmat Pambudy pernah menyampaikan bahwa kebocoran keuangan negara terjadi di semua lapisan dan bidang.
Sebaiknya Anda baca juga:
Kebocoran pertama katanya terlihat pada belum optimalnya penerimaan negara. Selain itu, kebocoran Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) di atas 30 persen yang telah berlangsung sejak 30 tahun lamanya. Sumber utama dari kebocoran APBN adalah korupsi yang melibatkan pengusaha, birokrasi, legislatif, hingga penegak hukum.
Potensi kerugian negara juga berasal dari penambangan ilegal yang diperkirakan mencapai 105 triliun rupiah per tahun dan judi online juga merugikan perekonomian hingga 900 triliun rupiah pada 2024.
Menanggapi hal itu, Direktur Eksekutif Indef, Esther Sri Astuti mengatakan aturan soal penyerapan anggaran harus diubah.
“Jangan hanya asal anggaran terserap, tetapi anggaran yang terserap harus dikaitkan dengan key performance indikator-nya dan dampak nyata ke masyarakat,”tegasnya.
Anggaran yang terserap harus diukur berapa dampaknya ke penciptaan lapangan pekerjaan dan berapa dampaknya ke investasi yang masuk. Begitu pula sektor lainnya, sejauh mana dampaknya ke peningkatan ekspor dan sebagainya.
Selama ini, penyerapan anggaran baru dikebut menjelang akhir tahun, sehingga manfaatnya kurang.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!