Penyebab Turis Berperilaku Buruk di Lokasi Wisata: Instagram
📅 Senin, 31 Jul 2023, 10:43 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: The Conversation/Shutterstock/DavideAngelini
Lauren A. Siegel, University of Greenwich
Perjalanan wisata kembali hidup selama musim liburan tengah tahun ini - tapi perilaku buruk wisatawan juga tampak meningkat.
Dalam beberapa tahun terakhir, terjadi peningkatan insiden yang melibatkan turis di lokasi destinasi wisata populer. Tindakan seorang turis yang mengukir namanya dan kekasihnya di tembok Colosseum di Roma, Italia, menunjukkan bahwa banyak turis yang perilakunya buruk, bahkan di tempat-tempat yang sebelumnya jarang mendapat bermasalah.
Ada apa di balik tindakan tak beradab ini? Penelitian saya menunjukkan bahwa salah satu jawabannya adalah media sosial. Instagram dan TikTok seringkali memudahkan kita sebagai wisatawan untuk menemukan restoran "hidden gem" dan destinasi-destinasi wisata baru yang bisa masuk dalam daftar perjalanan kita. Namun, kebebasan dalam melakukan perjalanan ini telah menimbulkan konsekuensi lain.
Zaman sekarang, banyak orang melihat dari media sosial bagaimana orang-orang terdekat mereka bersikap ketika mengunjungi destinasi wisata yang eksotis, lalu mereka menganggap (sadar atau tidak) perilaku yang biasa mereka lakukan di lingkungannya juga akan diterima jika dilakukan di tempat tersebut.
Sebaiknya Anda baca juga:
Ini dikenal sebagai bukti sosial, yakni situasi ketika kita merasa perlu meniru tindakan orang lain untuk membentuk perilaku kita sendiri. Kebanyakan orang cenderung bertindak lebih hedonistik saat berlibur. Sekarang, para wisatawan juga mencontoh apa yang mereka lihat di media sosial sebagai bukti bagaimana orang lain seharusnya berperilaku. Jika teman di lingkungan dekatnya melakukan hal negatif saat berlibur, ini dapat menyebabkan efek domino dari perilaku buruk.
Saya mengidentifikasi sikap dan kebiasaan buruk wisatawan ketika berlibur, yang muncul sebagai akibat dari pengaruh konten terkait wisata di media sosial.
Misalnya, efek korban yang dapat diidentifikasi yang menjelaskan bagaimana orang lebih cenderung bersimpati dengan korban tragedi ketika mereka tahu siapa korbannya.
Sebaiknya Anda baca juga:
Wisatawan biasanya menginap di hotel dan resor yang jauh dari pemukiman lokal. Ini kadang membuat mereka (salah) berpikir bahwa jika bepergian ke tempat yang jauh dari rumah mereka punya kesempatan untuk berperilaku buruk tanpa menghadapi konsekuensi. Mereka meremehkan atau mengabaikan dampak tindakan mereka terhadap penduduk lokal atau ekonomi setempat.
Dampak Instagram
Saat kita mengunjungi tempat yang indah, biasanya godaan untuk mengunggah foto dan video ke media sosial sangat tinggi. Menurut saya, ini menciptakan siklus yang membuat perjalanan menjadi kesempatan untuk lebih menampilkan diri.
Pertama-tama, seorang wisatawan melihat temannya mengunggah foto mereka suatu tempat (ini bisa dilihat melalui geotag). Ia kemudian ingin mengunjungi tempat yang sama dan berfoto di sana. Lalu, ia mengunggahnya di media sosialnya foto mereka di tempat yang sama dengan tempat temannya itu.
Mampu melakukan perjalanan ke tempat yang sama dengan yang dikunjungi oleh orang yang berada di lingkaran sosial yang sama dan membagikannya di grup dapat menjadi bentuk pembuktian status sosial. Namun, dalam beberapa kasus, ini artinya wisatawan akan menghabiskan lebih banyak energi untuk membuat konten daripada mengeksplorasi, menemukan, atau mempelajari kebiasaan tempat tersebut.
Respons destinasi wisata yang terdampak
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!