Natal Jadi Simbol Persatuan di Pegunungan Tengah Papua
📅 Minggu, 21 Des 2025, 15:25 WIB | Oleh: Sujar
Doc: ANTARA/Yudhi Efendi.
WAMENA -- Toleransi, sebuah kata singkat yang mengandung makna mendalam untuk menggambarkan kasih orang asli Papua (OAP) dalam menata kehidupan sehari-sehari bersama warga lain di wilayah paling timur Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Papua, saat ini telah terbagi menjadi enam provinsi, yakni Papua, Papua Barat, Papua Tengah, Papua Selatan, Papua Pegunungan, dan Papua Barat Daya.
Indahnya di Papua, OAP tidak hidup sendiri, melainkan berbaur harmonis dengan masyarakat lainnya di Nusantara yang telah hidup beranak cucu di Tanah Papua.
Kebersamaan dan rasa memiliki satu dengan lainnya bertahun-tahun terpupuk erat dalam bingkai toleransi yang kuat di daerah ini.
Dari enam provinsi di Tanah Papua, terdapat wilayah yang disebut Pegunungan Tengah Papua yang meliputi dua daerah, yakni Papua Tengah dan Papua Pegunungan. Istilah ini digunakan untuk mengidentifikasi masyarakat OAP yang hidup di dataran tinggi, dengan suhu dingin ekstrem, hingga mencapai 5 derajat Celcius.
OAP memiliki sikap toleran dan kasih yang tinggi kepada saudara-saudara se-Nusantara yang hidup di daerah ini, baik sebagai aparatur sipil negara (ASN), TNI-Polri, tenaga kesehatan, tenaga pendidikan, pedagang, dan lain-lain, termasuk pendeta atau gembala.
Sebaiknya Anda baca juga:
Di wilayah ini kurang lebih terdapat 17 denominasi gereja, tiga di antaranya merupakan gereja masyarakat asli pribumi, yakni Gereja Injili di Indonesia (GIDI), Gereja Baptis dan Kemah Injil Gereja Masehi Indonesia (Kingmi).
Meskipun begitu, ketiga gereja asli masyarakat pribumi Pegunungan Tengah Papua selalu rukun dan berjalan beriringan bersama 14 denominasi gereja lainnya, termasuk dengan warga Muslim sebagai agama minoritas di daerah ini.
Natal
Sebaiknya Anda baca juga:
Perayaan Hari Raya Natal menjadi momen mewujudkan kerukunan umat beragama di Pegunungan Tengah Papua. Prajurit TNI, anggota kepolisian, baik Muslim maupun Nasrani atau pun agama lain, pada momen hari raya ini larut dalam nuansa kebersamaan memperingati kelahiran Putra Juru Selamat Umat Manusia, yakni Yesus Kristus.
Momen ini mampu menghilangkan jarak pemisah, karena yang ada hanyalah kebersamaan, kekompakan, saling menghargai satu dengan lainnya untuk sama-sama menciptakan kedamaian yang telah terwujud di daerah ini.
"OAP memiliki kasih yang begitu besar dan toleransi yang begitu tinggi," kata Gubernur Papua Pegunungan John Tabo.
Pada perayaan Hari Raya Natal, setiap pintu rumah orang Nasrani di wilayah Pegunungan Tengah Papua maupun Papua secara umum, selalu terbuka lebar bagi siapapun untuk dikunjungi, termasuk kaum Muslim.
Keterbukaan seperti itu terjadi juga pada saat perayaan Hari Raya Idul Fitri, dimana pintu-pintu rumah kaum Muslim terbuka untuk menerima tamu saudara maupun kerabat, teman kerja dan lain-lain untuk saling bersilaturahmi.
"Belajarlah toleransi yang sesungguhnya di Papua," kata Bupati Jayawijaya Atenius Murib.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!