Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Mewaspadai Virus Nipah, Apa Saja yang Harus Anda Ketahui?

📅 Minggu, 01 Okt 2023, 13:43 WIB | Oleh: Tim Penulis
Mewaspadai Virus Nipah, Apa Saja yang Harus Anda Ketahui? Doc: AP/Shijith.K
Ket. Orang-orang yang mengenakan pakaian pelindung bersiap mengkremasi jenazah anak laki-laki berusia 12 tahun yang meninggal karena virus Nipah di Kozhikode, negara bagian Kerala, India, Minggu, 5 September 2021.

Paul Hunter, University of East Anglia

Wabah virus Nipah yang mematikan terjadi di Kerala, India. Lima orang telah tertular virus ini. Dua di antaranya meninggal .

Pihak berwenang di distrik Kozhikode, tempat wabah itu terjadi, telah menetapkan "zona pembendungan" di wilayah tersebut dan sekolah-sekolah telah ditutup.

Sebanyak 76 orang yang berkontak dengan orang terinfeksi sedang dimonitor secara ketat untuk mengetahui tanda-tanda penyakit tersebut.

Ini merupakan wabah virus Nipah yang keempat di Kerala. Yang paling mematikan terjadi pada 2018, dengan 18 kasus terkonfirmasi laboratorium dan lima kasus suspek, 17 di antaranya meninggal.

Virus Nipah adalah virus RNA dari keluarga Paramyxoviridae. Wabah pada manusia pertama kali terdeteksi terjadi di Malaysia pada 1998 dan menyebabkan 265 kasus dan 105 kematian. Sejak itu, satu atau dua wabah terjadi setiap tahunnya. Lebih dari separuh orang yang terinfeksi meninggal.

Wabah paling sering dilaporkan tidak hanya di Bangladesh, tapi juga di India, Malaysia, Singapura, dan Filipina.

Proporsi infeksi virus Nipah yang tidak menunjukkan gejala bervariasi dari satu wabah ke wabah lainnya dan berkisar antara 17% hingga 45%. Bila virus memang menimbulkan penyakit, dampak utamanya adalah ensefalitis (pembengkakan otak). Pasien mengalami demam dan mengeluh sakit kepala hebat. Banyak pula yang mengalami disorientasi, kantuk, dan kebingungan. Beberapa pasien juga mengalami infeksi dada.

Tidak ada obat khusus untuk mengatasi virus Nipah, sehingga perawatan medis hanya bersifat "suportif", yaitu mengobati gejala individu dan menjaga kenyamanan pasien hingga diharapkan sembuh.

Beberapa pengobatan tampaknya memiliki potensi, setidaknya dalam penelitian pada hewan, tapi hanya sedikit riset pada manusia. Sebuah uji coba kecil terhadap obat yang disebut ribavirin menunjukkan obat ini dapat mengurangi kematian, tapi penelitian lebih lanjut perlu dilakukan.

Sebuah terapi bertarget yang disebut antibodi monoklonal telah terbukti efektif dalam mengurangi kematian pada monyet hijau jika diberikan cukup dini selama masa pengobatan pada infeksi virus Nipah. Namun belum ada penelitian yang menunjukkan seberapa efektif obat ini pada manusia dengan virus Nipah.

Namun demikian, pihak berwenang India membeli antibodi monoklonal dari Australia untuk digunakan dalam wabah saat ini.

Tidak ada vaksin untuk melawan virus Nipah meskipun vaksin mRNA untuk melawan virus tersebut sedang diuji pada manusia.

Bagaimana orang bisa terinfeksi?

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Nasional
SBY: Kepercayaan Publik Jad...
Megapolitan
DKI Perluas Pelatihan Kerja...
Nasional
DPR Minta Kepala BGN Baru F...
Nasional
Huntara di Langkahan roboh ...
Nasional
Atap bangunan sekolah SDN d...
Megapolitan
Operasi uji emisi kendaraan...
Nasional
Pelaksanaan program penghap...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Rupiah Tembus Rp18.000 per Dollar Pagi Ini, Dibayangi Tekanan Global dan Domestik

Rupiah Tembus Rp18.000 per Dollar Pagi Ini, Dibayangi Tekanan Global dan Domestik

04 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.