Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Memilih Pemimpin yang Berjiwa Melayani

📅 Senin, 09 Sep 2024, 00:00 WIB | Oleh: Tim Penulis
Memilih Pemimpin yang Berjiwa Melayani Doc: istimewa
Ket. Antonius Benny Susetyo

Oleh: Antonius Benny Susetyo

Pakar Komunikasi

Pemilihan kepala daerah (Pilkada) serentak merupakan salah satu momen penting dalam demokrasi di Indonesia. Pilkada memungkinkan masyarakat untuk memilih pemimpin yang akan memimpin daerah mereka, baik di tingkat kabupaten, kota, maupun provinsi. Dengan demikian, keberhasilan Pilkada tidak hanya ditentukan oleh mekanisme pelaksanaannya yang berjalan lancar, tetapi juga oleh seberapa baik masyarakat memahami rekam jejak para calon kepala daerah yang akan dipilih.

Di tengah maraknya dinamika politik Indonesia, fenomena calon kepala daerah dengan latar belakang yang bermasalah, seperti dugaan korupsi, pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM), atau terlibat dalam kasus narkoba, kerap mencuat ke permukaan.

Hal ini menimbulkan pertanyaan, apakah kita, sebagai masyarakat, benar-benar memiliki akses yang memadai untuk mengetahui rekam jejak calon-calon tersebut? Sayangnya, banyak di antara kita yang masih kesulitan mendapatkan informasi yang komprehensif tentang calon kepala daerah yang akan dipilih, sebuah tantangan yang tidak hanya merugikan demokrasi, tetapi juga kualitas pemimpin yang terpilih.

Salah satu persoalan terbesar dalam Pilkada adalah sulitnya akses publik terhadap informasi rekam jejak calon kepala daerah. Berdasarkan berbagai survei, lebih dari 50% masyarakat merasa kesulitan dalam mengetahui rekam jejak para calon yang mereka hadapi dalam Pilkada.

Hal ini terjadi karena beberapa faktor, termasuk minimnya transparansi, akses terbatas ke dokumen resmi seperti Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN), dan keterbatasan informasi yang tersedia untuk umum. Akses publik terhadap informasi rekam jejak ini seharusnya menjadi hak dasar masyarakat. Transparansi adalah fondasi penting dalam sebuah demokrasi yang sehat.

Di Indonesia, sudah ada Undang-Undang Keterbukaan Informasi Publik yang seharusnya mempermudah masyarakat dalam memperoleh data terkait rekam jejak para calon kepala daerah. Sayangnya, dalam praktiknya, undang-undang tersebut sering kali tidak efektif diimplementasikan.

Masih banyak hambatan birokrasi yang membuat masyarakat kesulitan mengakses informasi penting ini. Tidak jarang kita mendapati calon kepala daerah yang pernah terjerat kasus korupsi atau bahkan sudah dipenjara, namun tetap bisa maju dalam Pilkada dan mendapatkan dukungan besar dari masyarakat. Ini menunjukkan banyak calon yang berusaha menutup-nutupi masa lalu mereka, atau memanfaatkan celah hukum untuk tetap bisa bersaing dalam kontestasi politik.

Salah satu fenomena yang sering terjadi dalam politik Indonesia adalah masyarakat yang mudah melupakan rekam jejak buruk para calon. Kondisi ini diperparah oleh tingginya pengaruh popularitas dan pencitraan dibandingkan dengan kompetensi dan rekam jejak yang sebenarnya.

Politisi yang pernah terlibat dalam kasus hukum atau memiliki rekam jejak yang buruk, sering kali tetap mendapatkan tempat di hati masyarakat hanya karena mereka mampu menciptakan citra yang baik melalui media massa atau kampanye yang menarik simpati rakyat. Fenomena ini dapat dijelaskan dengan kecenderungan masyarakat yang melodramatik, yang mudah terjebak pada narasi-narasi emosional.

Dalam Pilkada, banyak calon yang berhasil memanfaatkan perasaan simpati masyarakat dengan memainkan isu-isu populis, seperti kemiskinan atau infrastruktur, tanpa memberikan solusi yang konkrit untuk masalah tersebut. Hal ini mengakibatkan masyarakat sering kali tertipu oleh penampilan luar calon kepala daerah tanpa menggali lebih dalam tentang rekam jejak dan prestasi yang mereka miliki.

Sebagai contoh, calon yang sering memamerkan aksi "dekat dengan rakyat" dengan mengunjungi pasar-pasar tradisional atau ikut bekerja bersama masyarakat di lapangan, sering kali dipandang lebih positif dibandingkan calon yang tidak melakukan hal tersebut, meskipun rekam jejak mereka dalam tata kelola pemerintahan sangat buruk.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Megapolitan
Pemprov DKI gelar program o...
Megapolitan
Jelang Pertunjukkan Teater ...
Nasional
Keren, Unika Atma Jaya Masu...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Rupiah Tembus Rp18.000 per Dollar Pagi Ini, Dibayangi Tekanan Global dan Domestik

Rupiah Tembus Rp18.000 per Dollar Pagi Ini, Dibayangi Tekanan Global dan Domestik

04 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.