Manila: Kapal Tiongkok Kembali Berkerumun di Laut Filipina Barat
📅 Senin, 18 Sep 2023, 02:59 WIB | Oleh: Ilham Sudrajat
Doc: AFP/Philippine Coastguard
MANILA - Angkatan Bersenjata Filipina mengatakan pihaknya akan menggandakan upaya pengawasan maritim setelah mendeteksi makin banyaknya kapal-kapal Tiongkok berkerumun di sekitar Laut Filipina Barat.
Laut Filipina Barat adalah istilah yang digunakan orang Filipina untuk merujuk pada bagian timur Laut Tiongkok Selatan (LTS) yang termasuk dalam zona ekonomi eksklusif negara itu sepanjang 200 mil laut, namun diklaim oleh Beijing sebagai miliknya.
"Setelah militer Filipina berhasil mengusir 50 kapal milisi Tiongkok pada Juli lalu, kapal-kapal tersebut kembali pada akhir Agustus setelah kapal patroli kami meninggalkan wilayah tersebut," kata Angkatan Bersenjata Filipina dalam sebuah pernyataan.
"Kami juga mendeteksi adanya pengambilan besar-besaran terumbu karang di perairan yang disengketakan," imbuh mereka.
Pengambilan terumbu karang ilegal secara besar-besaran di wilayah tersebut diduga berdasarkan survei bawah air yang dilakukan oleh penyelam Angkatan Laut Filipina di Rozul Reef, menurut pernyataan Angkatan Bersenjata Filipina.
Sebaiknya Anda baca juga:
Pengambilan terumbu karang ilegal secara besar-besaran ini diungkapkan Panglima Komando Barat Angkatan Bersenjata Filipina, Laksamana Alberto Carlos, dalam jumpa pers pada Sabtu (16/9).
"Dugaan pengambilan terumbu karang secara besar-besaran secara ilegal di wilayah tersebut merupakan pelanggaran terhadap hak kedaulatan, karena Filipina memiliki klaim yang sah atas sumber daya di zona ekonomi eksklusifnya di Laut Filipina Barat," ucap Laksamana Carlos.
Menanggapi dugaan pelanggaran itu, Laksamana Carlos mengatakan bahwa Angkatan Bersenjata Filipina berencana mengerahkan lebih banyak aset dan personel ke Laut Filipina Barat untuk mengatasi masalah ini, meski ia tidak menyebutkan berapa banyak lagi personel militer yang akan dikerahkan.
Sebaiknya Anda baca juga:
Pelecehan
Filipina dan Tiongkok terlibat dalam sengketa teritorial yang sedang berlangsung di LTS yang kaya sumber daya, yang juga diklaim oleh negara-negara lain di Asia tenggara.
Presiden Filipina, Ferdinand Marcos Jr, telah meningkatkan protes atas tindakan Tiongkok di perairan tersebut sejak ia mengambil alih kekuasaan tahun lalu.
Tiongkok secara teratur mengganggu dan memblokir kapal-kapal Filipina dalam misi pasokan ke Ayungin Shoal (Second Thomas Shoal). Insiden-insiden ini mendapat sorotan terutama pada Agustus, mengingat upaya Penjaga Pantai Filipina untuk mempublikasikan pelecehan yang dilakukan Tiongkok terhadap kapal-kapal Filipina, termasuk mengajak media untuk memberikan pasokan atau dengan merilis rekaman dari misi-misi tersebut.
Pada awal Agustus, misi pasokan mengalami kegagalan setelah kapal Penjaga Pantai Tiongkok dan milisi maritim memblokir, mengganggu, kemudian menggunakan meriam air terhadap kapal-kapal yang ditugaskan oleh Penjaga Pantai Filipina dan Angkatan Bersenjata Filipina. Filipina mencobanya lagi pada akhir Agustus dan September. Meskipun misi tersebut berhasil , kapal Filipina masih mengalami gangguan dari kapal Tiongkok.
Ayungin Shoal sendiri berada dalam ZEE Filipina, menurut putusan arbitrase tahun 2016. Tiongkok menolak mengakui keputusan tersebut dan baru-baru ini merilis peta standar Tiongkok versi tahun 2023, yang menampilkan sepuluh garis putus-putus (ten-dash line) yang mencakup seluruh LTS. ST/Rappler/I-1
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!