Laporan Palo Alto Networks Ungkap Taktik Baru Serangan Ransomware
📅 Rabu, 18 Jun 2025, 10:35 WIB | Oleh: Haryo Brono
Doc: Palo Alto Networks
JAKARTA - Perusahaan keamanan siber, Palo Alto Networks, baru-baru ini merilis laporan Unit 42 Extortion and Ransomware Trends untuk periode Januari-Maret 2025. Laporan ini mengungkapkan bahwa para pelaku ancaman siber terus mengembangkan taktik mereka, berkolaborasi dengan kelompok-kelompok yang didukung negara, dan menggunakan modus pemerasan untuk mendapatkan pembayaran .
Seiring dengan meningkatnya risiko atas ancaman ransomware dan pemerasan yang terus berkembang, sejumlah organisasi di seluruh wilayah Asia-Pasifik dan Jepang (JAPAC) kerap memprioritaskan postur keamanan mereka, dan banyak diantaranya kini mampu mendeteksi serangan di tahap awal, sebelum penyerang dapat mencapai tujuannya.
Hal tersebut telah menyebabkan peningkatan kasus respons insiden yang berhasil diatasi pada tahap akses jaringan. Meskipun terdapat kemajuan, kampanye ransomware dan pemerasan tetap berhasil dengan kecepatan yang signifikan.
Dengan menganalisis kasus-kasus insiden respons, para peneliti di Unit 42 Palo Alto Networks menemukan bahwa pelaku ancaman, sebagai balasan, memperkuat taktik mereka dengan menggunakan metode yang lebih agresif untuk menekan korban dan memperoleh pembayaran yang lebih tinggi dan konsisten.
Oleh karena itu, organisasi disarankan untuk harus tetap waspada terhadap tren ransomware. Mereka juga diharapkan menerapkan strategi pertahanan berlapis untuk perlindungan guna tetap siap menghadapi serangan tersebut.
Sebaiknya Anda baca juga:
"Kami melihat pergeseran nyata di dalam cara pelaku ransomware dan pemerasan beroperasi secara global dan di seluruh wilayah Asia-Pasifik dan Jepang. Para penyerang beralih dari taktik enkripsi tradisional ke metode yang lebih agresif dan manipulatif, mencakup klaim palsu, akses ke orang dalam, dan tools yang dapat menonaktifkan kontrol keamanan," ujar Vice President dan Managing Partner, Unit 42, Asia-Pasifik & Jepang, Palo Alto Networks Philippa Cogswell dalam keterangannya pada hari Rabu (18/6).
"Taktik-taktik baru dan terus berkembang ini menunjukkan betapa pentingnya bagi organisasi untuk tidak hanya mengandalkan pertahanan reaktif, tetapi juga berinvestasi dalam strategi keamanan yang memberikan visibilitas penuh dan respons cepat di seluruh lingkungan mereka," ucapnya.
Melihat pergeseran metode pelaku ransomware dan pemerasan menjadi lebih canggih, wilayah Asia-Pasifik (APAC) dan Jepang serta negara-negara berkembang seperti Indonesia harus tetap waspada dikarenakan adanya berbagai celah keamanan siber yang sistemik.
Sebaiknya Anda baca juga:
Menurut Laporan Lanskap Keamanan Siber Indonesia yang diterbitkan oleh Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) pada tahun 2024, total trafik anomali di Indonesia selama tahun 2024 mencapai 330.527.636, dan 514.508 di antaranya berasal dari aktivitas ransomware.
Setelah insiden ransomware berskala besar yang menargetkan infrastruktur penting, Indonesia tengah menyusun Rancangan Undang-Undang Keamanan Siber dan Ketahanan Siber untuk memperkuat tata kelola institusional, memperjelas peran antar lembaga, dan meningkatkan penegakan hukum terhadap tindak kejahatan siber.
Para pelaku industri juga mengadopsi deteksi ancaman berbasis AI untuk meningkatkan pemantauan real-time dan respons cepat terhadap insiden secara signifikan. Hal ini sangat penting, seiring dengan meningkatnya kecepatan, kompleksitas, dan kecanggihan dari serangan ransomware.
Country Manager Indonesia, Palo Alto Networks Adi Rusli, mengatakan, kelompok ransomware kini beralih dari serangan massal ke serangan yang lebih ditargetkan dan canggih. Hal seperti ini menyebabkan kerugian finansial yang lebih serius bagi bisnis.
Perlindungan yang efektif memerlukan pendekatan berbasis platform yang memberikan visibilitas jaringan secara menyeluruh untuk memantau trafik dan memblokir aktivitas mencurigakan, serta dipadukan dengan peninjauan keamanan secara berkala, pelatihan untuk para pegawai, dan rencana tanggap ancaman yang solid.
“Bisnis di Indonesia perlu terus berinvestasi pada teknologi keamanan siber dan membangun fondasi ini dengan peningkatan keamanan yang berkelanjutan serta pemantauan ancaman,” ungkapnya.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!