Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

KTT Davos Dibayangi Perdagangan Global yang Kacau dan Krisis Iklim

📅 Senin, 16 Jan 2023, 00:00 WIB | Oleh:
KTT Davos Dibayangi Perdagangan Global yang Kacau dan Krisis Iklim Doc: ISTIMEWA
Ket. Ajang World Economic Forum di Davos, Swiss

DAVOS - Para pemimpin dunia dan bisnis mulai Senin (16/1) akan berkumpul di Davos dalam KTT Forum Ekonomi Dunia atau World Economic Forum (WEF). Ajang tahunan ini dibayangi perang di Ukraina, krisis iklim, dan perdagangan global yang kacau.

Dilansir oleh Deutsche Welle, WEF di Davos selama setengah abad telah mengumpulkan para eksekutif dan pembuat kebijakan untuk mendorong globalisasi. Namun, proses itu sekarang mulai terhambat dan bahkan situasi cenderung berbalik, akibat ketegangan geopolitik baru dengan berbagai krisis yang sedang melanda dunia.

Pandemi Covid-19 meningkatnya persaingan AS-Tiongkok, dan terutama invasi Russia ke Ukraina telah membuat beberapa politisi dan pakar bahkan berspekulasi tentang "berakhirnya era globalisasi", yang dulu mulai bergulir cepat dalam satu dekade setelah pertemuan Davos pertama pada 1971.

Klaus Schwab adalah ilmuwan dan ahli ekonomi dari Jerman yang menggagas agenda pertemuan tahunan di Pegunungan Alpen setiap musim dingin itu. Sekalipun hanya berbentuk pertemuan informal tanpa kesepakatan mengikat, KTT Davos selama beberapa dekade selalu menjadi sorotan media, lembaga-lembaga internasional dan organisasi non-pemerintah. Namun, belum pernah dunia begitu terpecah seperti saat ini.

"Tema pertemuan kali ini adalah 'kerja Sama di Dunia yang Terfragmentasi'," kata ketua eksekutif dan pendiri WEF, Klaus Schwab, kepada wartawan minggu ini.

Kanselir Jerman, Olaf Scholz, dan Sekjen PBB, Antonio Guterres, termasuk di antara tokoh paling menonjol yang akan menghadiri forum tersebut, bersama hampir 400 menteri dan pembuat kebijakan, 600 CEO dan berbagai media, LSM, dan tokoh akademis.

Dampak Perang Dagang

Satu sesi akan membahas apakah sedang menuju "de-globalisasi atau re-globalisasi", sementara sesi yang lain akan mengkajiulang dampak perang dagang, perang nyata, krisis biaya hidup, dan krisis iklim.

"Tidak ada keraguan pertemuan tahunan ke-53 kami di Davos akan berlangsung dengan latar belakang geopolitik dan geoekonomi yang paling kompleks dalam beberapa dekade terakhir. Begitu banyak yang dipertaruhkan," kata Borge Brende, mantan menteri luar negeri Norwegia, yang kini menjadi presiden pertemuan itu.

Russia diperkirakan tidak akan diwakili secara resmi, menggarisbawahi perubahan mencolok sejak 2021, ketika Presiden Vladimir Putin masih berpidato kepada para delegasi melalui video, atau ketika dia 2009 hadir secara langsung.

"Ada beberapa tahun di mana terdengar nada harapan, bahwa kita akan kembali ke situasi normal yang lama. Saya pikir, sekarang harus diakui bahwa era itu telah berakhir," kata Karen Harris, seorang ekonom di perusahaan konsultan Bain & Company.

Konflik di Ukraina dan pengaruhnya pada kebijakan energi dan pertahanan global akan menjadi tema yang menonjol selama pertemuan lima hari di Davos. Sekretaris Jenderal Pakta Pertahanan Atlantik Utara (North Atlantic Treaty Organization/NATO), Jens Stoltenberg, akan tampil tampil bersama Presiden Polandia, Andrzej Duda, yang meminta Barat lebih tegas lagi terhadap invasi Moskow.

Tidak jelas, apakah Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy, akan memberikan pidato lewat video seperti yang dia lakukan pada pertemuan Mei tahun lalu.Tetapi beberapa menteri dan pemimpin militer Ukraina akan termasuk di antara delegasi besar yang diharapkan bisa melobi untuk mendapatkan lebih banyak bantuan senjata dan dukungan keuangan dari Barat.

Perubahan iklim akan menjadi salah satu isu utama. Penyelenggara menyatakan tertarik untuk berdiskusi guna membantu mempersiapkan putaran pembicaraan global berikutnya, COP28, yang akan berlangsung di Uni Emirat Arab mulai 30 November mendatang.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Ekonomi
Harga Cabai Rawit Rp84.400/...
Nasional
Wakil Menteri Imipas Silmy ...
Nasional
Grab Tegaskan Rumor Hengkan...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Wakil Menteri Imipas Silmy Karim Ditahan KPK

Wakil Menteri Imipas Silmy Karim Ditahan KPK

04 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.