Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Komunitas Lima Gunung Gelar Aksi “Napak Bumi” sebagai Panggilan Nurani Cinta Alam dan Budaya

📅 Kamis, 22 Mei 2025, 10:15 WIB | Oleh:
Komunitas Lima Gunung Gelar Aksi “Napak Bumi” sebagai Panggilan Nurani Cinta Alam dan Budaya Doc: Antara Foto
Ket. Komunitas Lima Gunung kembali menggelar aksi budaya bertajuk “Napak Bumi” sebagai wujud panggilan nurani untuk mencintai alam dan merawat nilai-nilai budaya lokal. Aksi ini menyatukan seniman, petani, dan masyarakat dalam harmoni spiritual dan ekologis.

Dalam dekapan hawa dingin malam kawasan Gunung Merapi, seniman petani Komunitas Lima Gunung berkumpul di Pendopo Padepokan Tjipto Boedojo Dusun Tutup Ngisor, Desa Sumber, Kabupaten Magelang, Jateng memulai agenda tahun kelima, peringatan Hari Peradaban Desa.

Peringatan yang oleh komunitas seniman petani Gunung Merapi, Merbabu, Andong, Sumbing, dan Menoreh Kabupaten Magelang dengan para pegiatnya dijatuhkan setiap 21 Mei tersebut, pada tahun kelima ini mengusung tema "Napak Bumi".

Selama Selasa (20/5) malam hingga Rabu (21/5) pagi, komunitas yang dirintis kelahiran dan dibangun kemandirian oleh budayawan Magelang, Sutanto Mendut (71), lebih dari 25 tahun lalu tersebut, melakukan peringatan Hari Peradaban Desa. Mereka yang mengikuti kegiatan itu berjumlah sekitar 100 seniman petani dan pegiat budaya, baik laki-laki maupun perempuan. Masing-masing mengenakan pakaian khas Jawa.

Melalui peringatan itu, Komunitas Lima Gunung hendak menghadirkan ruang dan waktu pencarian kembali kearifan desa dan warisan nilai luhur untuk menjadi pusaka menghadapi tantangan perkembangan zaman yang kompleks, perubahan lingkungan alam yang sedemikian rupa, dan meneguhkan keadaban baru agar tetap berpijak kepada keluhuran bangsa.

Oleh pemerhati budaya yang sedang menjalani studi program doktoral untuk ilmu kajian budaya di Universitas Amsterdam Belanda, Brian Trinanda K Adi, tema "Napak Bumi" dipandang bukan sekadar ajakan kepada elemen bangsa menghindari jebakan hiruk-pikuk peradaban modern, namun sebagai seruan lantang yang mengoyak kekosongan batin bangsa.

Terlebih kepada para elite, "Napak Bumi" menjadi gema menembus batas-batas ego yang mengingatkan mereka tentang keadilan sejati, yang mesti lahir dari keberanian mendengar, memahami, dan akhirnya menapakkan kaki secara sungguh-sungguh menyentuh bumi.

Tentu saja, ikhwal itu sebagai tak mudah terwujud di tengah kepemimpinan negeri di tangan penguasa yang dikerumuni oligarki. Meski demikian, "Napak Bumi" pada Hari Peradaban Desa tahun ini justru beroleh ruang refleksi yang substansial agar bangsa dan negara ini selamat dari jurang keterasingan dan ketidakadilan.

Barangkali "Napak Bumi" sebagai suatu bahasa asing yang tak layak diterjemahkan para elite yang terkesan sibuk menggapai langit, melupakan tanah tempat mereka berpijak. Stereotipe seperti ruwet, lambat, kuno, tertinggal, dan primitif, menjadi tembok tak kasat mata yang membungkam makna sejati dari suara-suara tersebut.

"Tidak heran jika kebijakan terus mengalir dari atas, tanpa pernah benar-benar mencoba memahami makna dari bawah. Ada kesenjangan, kesalahan penerjemahan yang akut, sehingga keadilan pun menjadi fatamorgana," ucapnya.

Namun, pesan "Napak Bumi" perlu diartikulasikan karena peranan sebagai seruan untuk mereka yang terlena di puncak piramida dan malah berambisi makin terbang tinggi, tanpa menyadari bahwa akar hidup mereka semakin rapuh.

Ironi tentang semakin tinggi mereka terbang menjadikan kian lupa cara mendarat mesti ditangkal dengan kesadaran atas arti kembali, mendarat, dan menyelami makna keadilan sejak dari dalam pikiran.

"Sebagaimana pesan bijak dari Mbah Pram (Sastrawan Pramoedya Ananta Toer/1925-2006)," ucap Brian yang berasal dari Kabupaten Pati, Jawa Tengah itu.

Kenduri

Sebelum tengah malam mengantar Selasa (20/5) beralih kepada jatuhnya hari peringatan itu, acara Hari Peradaban Desa ditandai dengan kenduri tumpeng "Selametan", pembacaan doa dan mantra kejawen oleh pimpinan Padepokan Tjipto Boedojo, Sitras Anjilin (66). Hadir pula dengan duduk bersila di atas tikar antara lain Rektor Universitas Tidar (Untidar) Magelang Sugiyarto, sejumlah perwakilan kelompok seniman "Kiai Kanjeng" Yogyakarta, dan beberapa peneliti serta pemerhati budaya.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Luar Negeri
Disapu Topan Jangmi, 23 War...

Babel Gatiskan 6.000 Sertifikat Halal

30 menit yang lalu | Sujar

Daerah
Babel Gatiskan 6.000 Sertif...
Luar Negeri
Bandara Dihantam Rudal, Kuw...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Rupiah Tembus Rp18.000 per Dollar Pagi Ini, Dibayangi Tekanan Global dan Domestik

Rupiah Tembus Rp18.000 per Dollar Pagi Ini, Dibayangi Tekanan Global dan Domestik

04 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.