Kompensasi Tambang Parung Panjang Tetap Jalan di 2026
📅 Kamis, 22 Jan 2026, 12:15 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: ANTARA FOTO/ Sulthony Hasanuddin.
BANDUNG – Pemerintah Provinsi Jawa Barat memastikan penyaluran bantuan kompensasi sebesar Rp3 juta per kepala keluarga bagi warga terdampak penutupan tambang di Parung Panjang tetap berlanjut pada 2026.
Bantuan tersebut akan dialokasikan melalui skema anggaran belanja langsung, sebagai upaya menjaga daya beli sekaligus meredam dampak sosial pascapenutupan aktivitas tambang.
Langkah ini menunjukkan komitmen pemprov untuk memastikan proses transisi ekonomi masyarakat berjalan lebih stabil, sambil menunggu penguatan sumber penghidupan alternatif di wilayah terdampak.
Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMDes) Jabar Ade Afriandi di Bandung, Rabu (21/1), menjelaskan skema tersebut merubah mekanisme penganggaran dari tahun sebelumnya yang memakai Belanja Tidak Terduga (BTT).
Dengan alokasi anggaran yang mencapai Rp45 miliar pada 2026 ini, skema yang baru ini mewajibkan adanya pertanggungjawaban serta semangat pemberdayaan masyarakat di tingkat desa, serta menuntut akuntabilitas yang lebih tinggi, baik dari sisi penerima maupun aparatur kewilayahan.
Sebaiknya Anda baca juga:
"Karena ini belanja langsung, harus ada akuntabilitas. Ada timbal balik dalam bentuk mendorong kembali semangat gotong royong dalam konteks pemberdayaan masyarakat desa" ujar Ade saat dikonfirmasi.
Ade memaparkan, berdasarkan pemetaan komprehensif, total potensi penerima bantuan di wilayah terdampak mencapai 18.231 kepala keluarga yang tersebar di 24 desa di tiga kecamatan, yakni Parung Panjang, Cigudeg, dan Rumpin.
Penerima bantuan diprioritaskan bagi warga yang bekerja di luar sektor tambang, namun kehilangan mata pencaharian akibat berhentinya aktivitas ekonomi di jalur tambang tersebut. Sepanjang 2025, sebanyak 2.938 kepala keluarga telah tuntas menerima bantuan.
Sebaiknya Anda baca juga:
"Nilainya tetap, satu keluarga Rp3 juta. Penyalurannya akan dilakukan sesuai ketentuan yang berlaku," kata Ade.
Saat ini, Pemprov Jabar tengah memvalidasi data tambahan. Dari usulan tahap ketiga sebanyak 6.216 kepala keluarga, seluruh data telah dinyatakan valid dan siap disalurkan secara bertahap di Cigudeg dan Rumpin pada tahun anggaran 2026.
Namun, untuk usulan tahap keempat sebanyak 9.077 kepala keluarga, proses verifikasi masih terus berjalan dan baru mencapai angka 47 persen. Penundaan penyaluran ke tahun 2026 dilakukan guna memastikan ketepatan sasaran serta menyesuaikan dengan ketersediaan anggaran.
"Kami baru memperoleh data valid sebanyak 6.216 KK. Karena posisinya sudah di akhir tahun anggaran dan keterbatasan anggaran, penyalurannya ditunda ke 2026," ujarnya.
Untuk menjamin kelancaran transisi mekanisme dari BTT ke belanja langsung, DPMDes Jabar telah berkoordinasi dengan BPKAD dan Inspektorat Jabar. Dalam waktu dekat, pihak dinas akan memberikan pengarahan teknis kepada para camat, kepala desa, hingga ketua RT/RW mengenai prosedur pelaporan dan pertanggungjawaban dana tersebut.
Pemerintah berharap, tambah Ade, bantuan senilai total Rp45 miliar ini tidak hanya menjadi jaring pengaman ekonomi sementara, tetapi juga menjadi stimulan untuk menggerakkan kembali roda ekonomi desa melalui program pemberdayaan yang terukur.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!