Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Kode Ur Nammu, Inspirasi Hukum Selanjutnya di Mesopotamia

📅 Selasa, 15 Agu 2023, 06:10 WIB | Oleh:
Kode Ur Nammu, Inspirasi Hukum Selanjutnya di Mesopotamia Doc: AFP/ Asaad NIAZI

Dalam kode Ur-Nammu yang ditulis Raja Ur-Nammu diklaim lahir dari para dewa agar masyarakat tunduk. Undang-undang ini menjadi model bagi kode hukum selanjutnya seperti Hammurabi, dan juga aturan hukum selanjutnya.

Kode Ur-Nammu (The Code of Ur-Nammu) yang berlaku pada 2100-2050 SM adalah kode hukum tertua yang ada di dunia. Undang-undang tersebut ditulis oleh Raja Sumeria, Ur-Nammu (yang memerintah 2047-2030 SM). Ia anak dari Shulgi dari Ur yang memerintah pada 2029-1982 SM.

Hukum tersebut ditulis pada sebuah masa berabad-abad sebelum Kode Hammurabi yang ditulis oleh Raja Babilonia Hammurabi (yang memerintah 1795-1750 SM).

Kronologi singkat menempatkan antara 2050-2047 SM, tepat sebelum atau pada awal pemerintahan Ur-Nammu. Namun demikian kode hukum paling awal dari Mesopotamia adalah Kode Urukagina sekitar abad ke-24 SM yang hanya disebut dalam sebagai referensi dalam karya kuno lainnya.

Kode Ur-Nammu yang ditulis pada sebuah tablet memungkinkan para sarjana memahami visi raja tentang hukum dan ketertiban di negerinya kala itu, dan di dalam hukum itu, ia menampilkan dirinya sebagai bapak bangsa.

Ur-Nammu mendorong rakyatnya untuk menganggap diri mereka sebagai satu keluarga dan hukumnya sebagai aturan di rumah itu. Menurut lamanHistory, Ur-Nammu mengeluarkan undang-undang itu dengan pengertian bahwa rakyatnya tahu bagaimana memperlakukan satu sama lain dengan hormat dan negara akan memberi denda bagi yang melakukan penyimpangan dengan fungsi sebagai pengingat.

Kode Ur-Nammu dikeluarkan atas nama raja, namun undang-undang itu diperkirakan diterbitkan oleh putranya, Shulgi, setelah kematian Ur-Nammu. Kode tersebut dikembangkan lebih lanjut oleh penerus Shulgi dan mempengaruhi bentuk dan visi yang mendasari kode-kode selanjutnya seperti Hukum Eshnunna (1930 SM) dan hukum yang ditetapkan di bawah pemerintahan Lipit-Ishtar (1870 hingga 1860 SM).

Kode-kode ini, pada gilirannya, berfungsi sebagai model untuk Kode Hammurabi yang lahir berikutnya. Kode ini mempengaruhi hukum peradaban lain yang mengatasnamakan kekuatan ilahi.

Dalam undang-undang itu, Ur-Nammu mengklaim sebagai representasi kekuatan dewa untuk mempengaruhi perilaku pribadi. Ia mengatakan hukum yang diterimanya dari para dewa. Sedangkan raja seperti dirinya hanyalah administrator bukan pembuat kode, dan ketika seseorang melanggar hukum, mereka memberontak melawan dewa.

Sejarawan Paul Kriwaczek dalam bukuBabylon: Mesopotamia and the Rise of Civilization(St. Martin's Griffin - 2012) mengatakan: "Meskipun ini bukan kode hukum yang sebenarnya, jauh dari komprehensif; atau, ada yang mengatakan, bahkan diperkenalkan oleh Ur-Nammu tetapi oleh putranya Shulgi, kode atau tidak, meskipun kami hanya memiliki fragmen, itu cukup untuk menunjukkan bahwa hukum mencakup masalah perdata dan pidana," tulis Kriwaczek.

Dalam ketentuan itu ditentukan hukum pidana mana yang harus menjadi pelanggaran berat, seperti pembunuhan, perampokan, merendahkan istri pria lain, dan perzinahan jika dilakukan oleh seorang perempuan. Sementara untuk pelanggaran ringan lainnya, hukumannya adalah denda membayar perak.

Kode tersebut dipublikasikan secara luas pada masa pemerintahan Shulgi agar diketahui secara luas. Masyarakat di bawah Ur-Nammu dan Shulgi disebut memiliki seperangkat nilai dan tradisi yang sama, dan undang-undang tersebut dimaksudkan untuk mendorong perilaku yang tepat dalam parameter yang telah ditetapkan.

Sejarawan Kramer SN dalam bukuHistory Begins at Sumer(1988) menjelaskan aturan tersebut muncul di kolom pada tablet tanah liat dalam tulisan paku. "Tablet itu dibagi oleh juru tulis kuno menjadi delapan kolom, empat di depan dan empat di belakang. Setiap kolom berisi sekitar empat puluh lima ruang kecil beraturan, kurang dari setengahnya yang dapat dibaca. Bagian depan berisi prolog panjang yang hanya dapat dipahami sebagian karena banyaknya jeda dalam teks," tulis Kramer.

Dalam prolog merinci disebutkan Dewa Bulan, Nanna, memilih Ur-Nammu sebagai Raja Ur, membantunya mengalahkan Kota Larsa, dan memberinya undang-undang di mana semua subjek dianggap sama tanpa memandang status sosial. Hal ini untuk menjamin agar anak yatim tidak dimangsa orang kaya, janda tidak menjadi mangsa orang kuat, pria satusyikaltidak menjadi mangsa pria enam puluhsyikal.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Megapolitan
Perum Bulog Lebak-Pandeglan...

BPJS Kesehatan Edukasi Polda Kepri Terkait Program JKN

39 menit yang lalu | Bambang Wijanarko

Daerah
BPJS Kesehatan Edukasi Pold...
Rona
6 Drama Korea Baru yang Waj...
Daerah
Bus Transjateng Akan Tambah...

Wakil Menteri Imipas Silmy Karim Ditahan KPK

1.5 jam yang lalu | Lili Lestari

Nasional
Wakil Menteri Imipas Silmy ...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Wakil Menteri Imipas Silmy Karim Ditahan KPK

Wakil Menteri Imipas Silmy Karim Ditahan KPK

04 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.