Jepang Sita Kapal Nelayan Tiongkok di Lepas Pantai Nagasaki, Kapten Kapal Ditangkap
📅 Jumat, 13 Feb 2026, 10:46 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: AFP/Badan Perikanan Jepang
TOKYO - Otoritas Jepang menyita sebuah kapal nelayan Tiongkok dan menangkap kaptennya, kata pihak berwenang, Jumat (13/2), langkah yang kemungkinan akan semakin meningkatkan ketegangan dengan Beijing.
Pada bulan November, Perdana Menteri Sanae Takaichi membuat marah Tiongkok dengan menyatakan bahwa Jepang akan melakukan intervensi militer jika Beijing berupaya merebut Taiwan dengan kekerasan.
"Kapten kapal diperintahkan untuk berhenti untuk diperiksa oleh inspektur perikanan, tetapi kapal tersebut gagal mematuhi dan melarikan diri," kata badan perikanan Jepang.
"Akibatnya, kapten kapal ditangkap pada hari yang sama," menurut sebuah pernyataan.
Insiden itu terjadi pada hari Kamis (12/2) di dalam zona ekonomi eksklusif (ZEE) Jepang di lepas pantai Prefektur Nagasaki, 165 km selatan-barat daya pulau Meshima, tambahnya.
Sebaiknya Anda baca juga:
Ini adalah pertama kalinya sejak 2022 badan tersebut menyita kapal nelayan Tiongkok.
Kapten dalam insiden terbaru ini adalah warga negara Tiongkok berusia 47 tahun. Ada 11 orang di atas kapal termasuk kapten.
Tiongkok memiliki sejumlah sengketa teritorial dengan Jepang, dan telah terjadi insiden berulang di sekitar Kepulauan Senkaku, yang dikenal sebagai Diaoyu di Tiongkok.
Sebaiknya Anda baca juga:
Penangkapan kapten kapal nelayan Tiongkok lainnya pada tahun 2010 di lepas pantai pulau-pulau tersebut di Laut Tiongkok Timur menjadi insiden diplomatik besar antara kedua negara.
Isu Taiwan
Jepang dan Tiongkok memiliki hubungan ekonomi yang erat, tetapi komentar Takaichi tentang Taiwan telah membuat hubungan kembali memburuk.
Tiongkok telah lama bersikeras bahwa Taiwan, yang diduduki selama beberapa dekade oleh Jepang hingga tahun 1945, adalah wilayahnya dan tidak mengesampingkan penggunaan kekuatan untuk mencapai "penyatuan kembali".
Presiden Taiwan Lai Ching-te mengatakan kepada AFP dalam sebuah wawancara minggu ini bahwa negara-negara di kawasan itu akan menjadi target Tiongkok berikutnya jika Beijing merebut pulau demokratis tersebut.
Lai mengatakan jika Tiongkok mengambil Taiwan, Beijing akan menjadi "lebih agresif, merusak perdamaian dan stabilitas di Indo-Pasifik dan tatanan internasional berbasis aturan".
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!