Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

IMT-GT Perkuat Konektivitas Maritim untuk Dorong Pariwisata Regional

📅 Minggu, 07 Sep 2025, 15:30 WIB | Oleh:
IMT-GT Perkuat Konektivitas Maritim untuk Dorong Pariwisata Regional Doc: Jakarta Globe

JAKARTA – Konektivitas pariwisata di kawasan Indonesia–Malaysia–Thailand Growth Triangle (IMT-GT) masih menghadapi tantangan besar meskipun ketiga negara terletak sangat berdekatan secara geografis. Akses lintas batas bagi wisatawan masih terasa jauh, terutama untuk rute pendek yang seharusnya memungkinkan wisatawan menikmati liburan singkat, kuliner, atau sekadar berwisata lintas negara.

Hingga kini, belum ada kapal pesiar yang secara rutin berlayar langsung dari pantai timur Sumatra menuju Malaysia atau Thailand. Jalur pelayaran kapal pesiar masih didominasi oleh Singapura dan Port Klang di Malaysia, sementara pelabuhan di Sumatra seperti Kuala Tanjung hanya berfungsi sebagai pelabuhan singgah, bukan sebagai titik keberangkatan utama.

Konektivitas laut juga masih didominasi kapal feri cepat yang melayani penumpang harian, bukan pariwisata. Rute populer seperti Belawan–Port Klang, Dumai–Melaka, atau Batam–Singapura lebih banyak difokuskan untuk mobilitas pekerja dan perdagangan dibandingkan pengembangan wisata lintas batas.

Jika IMT-GT ingin berkembang di sektor pariwisata, konektivitas maritim menjadi kunci utama. Beberapa pelabuhan di Indonesia, Malaysia, dan Thailand sejatinya siap berperan sebagai hub pariwisata lintas negara.

Di Malaysia, sejumlah pelabuhan di pesisir barat Semenanjung memiliki posisi strategis. Port Klang di Selangor menjadi pelabuhan terbesar sekaligus hub utama kapal pesiar, sementara Penang menjadi pintu masuk untuk wisata sejarah dan kuliner. Melaka memiliki Pelabuhan Tanjung Bruas yang dekat dengan kawasan wisata bersejarah UNESCO. Port Dickson dan Lumut juga berpotensi memberikan akses ke destinasi pantai dan rekreasi keluarga.

Thailand menawarkan peluang besar di pesisir Laut Andaman. Phuket telah menjadi hub utama kapal pesiar dengan koneksi ke pulau-pulau populer seperti Koh Phi Phi, sedangkan Krabi menjadi penghubung penting ke berbagai destinasi wisata lainnya.

Sementara itu, Indonesia memiliki deretan pelabuhan penting di sepanjang pantai timur Sumatra. Belawan di Medan menjadi pelabuhan besar yang berdekatan dengan Danau Toba, salah satu destinasi super prioritas. Kuala Tanjung di Batu Bara diproyeksikan sebagai pelabuhan kelas internasional. Dumai di Riau yang dikenal sebagai pusat CPO dapat diarahkan untuk wisata maritim. Tanjung Api-Api di Sumatra Selatan membuka akses ke Bangka Belitung, sementara Batam dan Tanjung Pinang di Kepulauan Riau tetap menjadi hub utama wisata bahari dan resor.

Langkah strategis pariwisata IMT-GT selanjutnya adalah mengembangkan rute kapal pesiar regional. Jalur reguler seperti Kuala Tanjung–Port Klang–Phuket atau Dumai–Melaka–Krabi dapat dibentuk sebagai paket kapal pesiar wisata kuliner dan pantai.

Selain itu, pariwisata maritim lintas batas juga bisa diwujudkan melalui paket “IMT-GT Island Hopping” yang menghubungkan Batam–Penang–Phuket. Festival maritim bersama di pelabuhan strategis seperti Belawan atau Melaka juga berpotensi menjadi magnet wisata internasional.

Kolaborasi kota kembar pariwisata juga dapat memperkuat konektivitas budaya dan pariwisata. Medan dan Penang bisa dikembangkan untuk rute wisata kuliner dan kesehatan, Dumai dan Melaka untuk wisata sejarah serta maritim, sedangkan Batam dan Phuket untuk resor serta kegiatan MICE.

Semua rencana tersebut harus didukung oleh infrastruktur pariwisata yang memadai. Terminal penumpang modern di pelabuhan utama Sumatra perlu disiapkan, dilengkapi dengan fasilitas imigrasi cepat seperti visa maritim saat kedatangan. Selain itu, promosi bersama dengan tema “IMT-GT Maritime Cruise” akan memperkuat branding kawasan sebagai destinasi pariwisata regional.

Kawasan IMT-GT memiliki modal besar berupa kedekatan geografis, budaya maritim bersama, dan potensi pariwisata kelas dunia. Namun, lemahnya konektivitas pariwisata masih menjadi titik lemah utama. Dengan memperkuat jalur wisata maritim, mengembangkan rute kapal pesiar regional, dan menciptakan paket perjalanan lintas batas, IMT-GT berpeluang tampil sebagai mesin ekonomi sekaligus jembatan peradaban pariwisata di Asia Tenggara.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Ekonomi
Industri sepatu rumahan kua...

Pelaksanaan program penghapusan bentor

18 menit yang lalu | Wahyu AP

Nasional
Pelaksanaan program penghap...
Megapolitan
Pemprov DKI gelar program o...
Megapolitan
Jelang Pertunjukkan Teater ...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Rupiah Tembus Rp18.000 per Dollar Pagi Ini, Dibayangi Tekanan Global dan Domestik

Rupiah Tembus Rp18.000 per Dollar Pagi Ini, Dibayangi Tekanan Global dan Domestik

04 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.