Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Hati-hati, Glaukoma Muncul Tanpa Gejala, Perlu Deteksi Dini Cegah Kebutaan

📅 Jumat, 14 Mar 2025, 12:00 WIB | Oleh: Tim Penulis
Hati-hati, Glaukoma Muncul Tanpa Gejala, Perlu Deteksi Dini Cegah Kebutaan Doc: ANTARA
Ket. Konsultan oftalmologi JEC Eye Hospitals and Clinics dr. Iwan Soebijantoro memaparkan tindakan pencegahan terhadap penyakit glaukoma dalam rangka kampanye World Glaucoma Week 2025 di Kebon Jeruk, Jakarta Barat, Kamis (13/3/2025).

JAKARTA - Konsultan oftalmologi Jakarta Eye Center (JEC) Eye Hospitals and Clinics dr. Iwan Soebijantoro menganjurkan perlunya deteksi dini untuk mengantisipasi glaukoma yang dapat berdampak pada kebutaan lantaran glukoma muncul tanpa gejala.

Glaukoma adalah kondisi terjadinya peningkatan tekanan di dalam bola mata yang merusak saraf optik, sehingga mengakibatkan terjadi penurunan fungsi penglihatan.

"Glaukoma merupakan penyakit mata yang sering kali berkembang tanpa gejala di tahap awal, sehingga banyak penderita baru menyadari ketika sudah mengalami gangguan penglihatan yang permanen, sehingga perlu deteksi dini," kata Iwan kepada wartawan dalam rangka "World Glaucoma Week 2025" di Jakarta, Kamis.

Menurut data Kementerian Kesehatan RI tahun 2023, dari 39 juta kasus kebutaan di dunia, sebanyak 3,2 juta disebabkan oleh glaukoma dan prevalensi glaukoma mencapai 0,46 persen, atau sekitar 4 hingga 5 orang per 1.000 penduduk.

Iwan mengatakan bahwa sekitar 80 persen kasus glaukoma tidak memiliki gejala, sehingga banyak pasien yang baru terdiagnosis secara tidak sengaja saat menjalani pemeriksaan kesehatan mata rutin.

"Namun, dalam kasus glaukoma akut, gejala seperti sakit kepala hebat, pandangan tiba-tiba kabur, mual, muntah, dan nyeri mata intens dapat muncul," kata dia.

Dalam kondisi ini, lanjut dia, pasien hanya memiliki waktu 2 x 24 jam untuk menurunkan tekanan bola mata sebelum kerusakan menjadi permanen.

"Makanya, pemeriksaan mata berkala sangat dianjurkan, terutama bagi individu dengan faktor risiko seperti usia di atas 40 tahun, riwayat keluarga dengan glaukoma, diabetes, atau tekanan bola mata tinggi," ujarnya.

Kendati penyakit glaukoma tidak dapat disembuhkan, namun penanganan penyakit ini tetap dapat dilakukan untuk memperlambat dampak buruk penglihatannya.

Sementara itu, Head of Glaucoma Service JEC Eye Hospitals and Clinics dr. Widya Artini Wiyogo, mengatakan, teknologi modern dalam deteksi dini glaukoma, memungkinkan diagnosis lebih cepat dan akurat.

Adapun beberapa teknologi yang digunakan meliputi Optical Coherence Tomography (OCT), yakni Pemindaian non-invasif yang menampilkan ketebalan saraf optik guna mendeteksi tanda-tanda awal glaukoma.

Kemudian, tes lapangan penglihatan (Perimetri) yakni pemeriksaan untuk mengidentifikasi kehilangan penglihatan perifer, gejala khas glukoma.

Selanjutnya, Tonometri Non-Kontak (Air Puff Test) and Goldmann Applanation Tonometry yakni teknik modern untuk mengukur tekanan bola mata dengan lebih akurat.

Serta gonioskopi, yakni pemeriksaan untuk menilai sudut drainase mata guna menentukan jenis glaukoma yang diderita pasien.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Nasional
Keren, Unika Atma Jaya Masu...
Daerah
BPJS Kesehatan Edukasi Pold...
Rona
6 Drama Korea Baru yang Waj...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Wakil Menteri Imipas Silmy Karim Ditahan KPK

Wakil Menteri Imipas Silmy Karim Ditahan KPK

04 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.