Hasil Riset: Kepuasan Hidup Rendah Jika Hanya Wanitanya yang Mencari Nafkah
📅 Selasa, 11 Jul 2023, 11:15 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: The Conversation/Shutterstock/CrizzyStudio
Helen Kowalewska, University of Bath
Banyak perempuan, setidaknya untuk beberapa waktu, menjadi pencari nafkah hubungan mereka. Perubahan tren pekerjaan dan peran gender memang memengaruhi banyak rumah tangga. Namun, studi telaah sejawat kami yang baru menunjukkan bahwa untuk pasangan heteroseksual, kesejahteraan mereka cenderung lebih rendah ketika hanya perempuannya yang menjadi pencari nafkah - dibandingkan jika laki-lakinya yang mencari nafkah atau jika keduanya sama-sama memiliki penghasilan.
Selama lebih dari 14 tahun, data survei sosial Eropa menunjukkan bahwa laki-laki dan perempuan melaporkan kepuasan hidup yang lebih rendah ketika istri atau pasangan perempuan yang menjadi pencari nafkah - dan dalam kondisi ini, laki-lakinya yang merasa paling menderita. Hal ini berlaku bahkan setelah memasukkan pendapatan, sikap terhadap peran gender, dan karakteristik lainnya ke dalam kontrol variabel.
Kami menganalisis tanggapan survei terhadap lebih dari 42.000 responden usia kerja yang tersebar di sembilan negara. Data kami mengukur kesejahteraan dengan meminta responden memberikan penilaian tentang seberapa puas mereka dengan kehidupan mereka secara keseluruhan saat ini - poinnya dari nol (sangat tidak puas) hingga sepuluh (sangat puas). Mayoritas responden memberikan skor antara lima dan delapan.
"Poin kepuasan hidup" ini memberi kita gambaran tentang perbandingan kesejahteraan antara kelompok-kelompok yang berbeda. Sebelum memasukkan variabel kontrol, poin kepuasan hidup laki-laki adalah 5,86 ketika perempuannya menjadi satu-satunya pencari nafkah, dan 7,16 ketika laki-lakinya itu yang menjadi satu-satunya pencari nafkah. Untuk perempuan, poin yang sesuai adalah masing-masing 6,33 dan 7,10.
Sebaiknya Anda baca juga:
Pasangan-pasangan di Jerman tampaknya yang paling kesulitan menghadapi situasi ketika pencari nafkahnya adalah perempuan, diikuti oleh Inggris, Irlandia, dan Spanyol. Namun, masalah ini cukup umum di seluruh Eropa, bahkan di negara yang kesetaraan gendernya lebih tinggi, seperti Finlandia.
Laki-laki lebih banyak berjuang
Dalam rumah tangga yang pencari nafkahnya adalah perempuan, laki-laki tampak lebih sulit bergulat secara mental ketimbang perempuan. Kami menemukan bahwa pencari nafkah perempuan membawa beban psikologis yang berat bagi laki-laki, sehingga mereka lebih suka perempuan yang tidak bekerja sama sekali. Setelah memperhitungkan karakteristik dasar, pendapatan, dan sikap terhadap peran gender, laki-laki yang tidak bekerja melaporkan kepuasan hidup yang jauh lebih tinggi ketika mereka dan pasangannya sama-sama menganggur.
Sebaiknya Anda baca juga:
Melihat pasangan (perempuan) mereka pergi ke kantor (atau bekerja dari rumah) setiap hari dapat membuat laki-laki yang tidak bekerja merasa lebih buruk terhadap diri mereka sendiri. Namun, ketika pasangan mereka berada di "perahu" yang sama dengan mereka, laki-laki pengangguran mungkin malah merasa kekurangan mereka dalam hal pekerjaan bukanlah hal yang "menyimpang".
Laki-laki yang pasangannya menjadi pencari nafkah melaporkan kesejahteraan terendah saat mereka menganggur daripada saat mereka "tidak aktif" (dalam hal mencari pekerjaan dan/atau melakukan pekerjaan rumah tangga atau tanggung jawab domestik lainnya). Pengangguran sangat lekat dengan "biaya psikologis" yang besar, seperti keraguan diri, ketidakpastian, rasa kesepian, dan stigma. Dalam riset ini, kami tidak menyertakan orang yang tidak aktif atas alasan kesehatan atau disabilitas.
Bahkan, laki-laki yang menganggur lebih suka bertukar tempat dengan pasangan mereka dalam mencari nafkah. Kesejahteraan laki-laki secara signifikan menjadi lebih tinggi saat perempuannya menganggur, sedangkan perempuan melaporkan kesejahteraan yang sama rendahnya saat salah satu di antara mereka ada yang menganggur.
Rumah tangga yang perempuannya menjadi pencari nafkah
Ada beberapa faktor tertentu dapat menyebabkan rendahnya kesejahteraan pasangan yang perempuannya menjadi pencari nafkah. Misalnya, pasangan ini memiliki pendapatan rumah tangga rata-rata yang lebih rendah daripada rumah tangga yang keduanya memiliki penghasilan atau yang laki-lakinya menjadi pencari nafkah, dan lebih cenderung merasa "sulit" atau "sangat sulit" untuk mengatasi pendapatan mereka saat ini. Selain itu, lebih banyak laki-laki yang pasangannya menjadi pencari nafkah melaporkan kondisi kesehatan yang "cukup", "buruk", atau "sangat buruk" dan mereka lebih kurang secara derajar pendidikan.
Ketika kami mengatur indikator dan karakteristik dasar lainnya (seperti usia dan anak-anak) serta sikap peran gender dan pembagian pendapatan rumah tangga masing-masing pasangan, kesejahteraan perempuan hanya sedikit lebih rendah (-0,048 poin kepuasan hidup) ketika mereka, dan bukan laki-lakinya, yang menjadi satu-satunya pencari nafkah.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!