Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Guru Besar IPB Bongkar Fakta: Perhutanan Sosial Baru Dikelola Separuh, Potensi Besar Terbuang!

📅 Rabu, 10 Des 2025, 20:58 WIB | Oleh: Tim Penulis
Guru Besar IPB Bongkar Fakta: Perhutanan Sosial Baru Dikelola Separuh, Potensi Besar Terbuang! Doc: ANTARA/Wahdi Septiawan
Ket. Anggota lembaga pengelola hutan adat (LPHA) mengupas kulit pohon kemenyan di Hutan Adat Nenek Limo Hiang Tinggi Nenek Empat Betung Kuning Muara Air Dua, Kerinci, Jambi, Sabtu (28/6/2025).

KOTA BOGOR – Pengelolaan perhutanan sosial menjadi kunci untuk menyeimbangkan kebutuhan ekonomi masyarakat dan keberlanjutan lingkungan.

Melalui skema ini, akses kelola diberikan langsung kepada komunitas lokal sehingga pemanfaatan hutan lebih terarah, transparan, dan berbasis konservasi.

Penguatan kapasitas kelompok tani hutan, pendampingan usaha, serta kepastian legalitas lahan memungkinkan masyarakat memperoleh nilai tambah ekonomi dari hasil hutan tanpa mengorbankan kelestarian ekosistem.

Dengan demikian, perhutanan sosial bukan hanya instrumen pemberdayaan, tetapi juga strategi efektif menekan deforestasi dan meningkatkan kesejahteraan secara berkelanjutan.

Guru Besar Fakultas Kehutanan IPB University Prof Dr Ir Dodik Ridho Nurrochmat, MScF, menyebutkan dari total 8,3 juta hektare perhutanan sosial, baru sekitar separuh yang dikelola.

Prof Dodik, sebagaimana dilansir dari laman resmi IPB University di Kota Bogor, Rabu (10/12), menyampaikan hal itu saat IPB University baru-baru ini memperkenalkan IPB Center for Applied Research in Nature-based Solutions (ICAN) sebagai pusat riset unggulan untuk pengembangan solusi berbasis alam, termasuk perhutanan sosial.

Prof Dodik yang juga Dekan Sekolah Pascasarjana IPB University menyebutkan dari 15.758 kelompok usaha perhutanan sosial, hanya 1.470 atau sekitar 9 persen yang dinilai produktif.

"Pendapatan masyarakat pun masih rendah. Per hektare per tahun itu hanya sekitar 600 ribu rupiah, jauh di bawah pengelolaan nonperhutanan sosial yang mencapai 4 juta rupiah," katanya.

Jika dibandingkan dengan pengelolaan lahan sawit, angkanya lebih kecil lagi.

"Ini bisa memicu konversi lahan,” ujarnya.

Ia menyoroti belum optimalnya manfaat sosial ekonomi dari perhutanan sosial.

"Tata kelola masih belum inklusif. Ada jarak antara konsep ideal dan kenyataan di lapangan,” katanya.

Untuk itu, menurut Prof Dodik, pengembangan ekosistem berbasis alam di Indonesia sangat penting.

Prof Dodik menambahkan bahwa ICAN diproyeksikan menjadi mitra pemerintah dalam berbagai program lingkungan.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Daerah
Taman Safari Prigen Perkena...
Ekonomi
Rupiah Tembus Rp18.000 per ...
Megapolitan
PIN SPMB Belum Masuk? Ini P...
Nasional
Atap bangunan sekolah SDN d...
Ekonomi
Nilai tukar rupiah terendah...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Rupiah Tembus Rp18.000 per Dollar Pagi Ini, Dibayangi Tekanan Global dan Domestik

Rupiah Tembus Rp18.000 per Dollar Pagi Ini, Dibayangi Tekanan Global dan Domestik

04 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.