Fosil Manusia Purba dari Bulgaria Tantang Teori “Out of Africa”
📅 Kamis, 02 Apr 2026, 07:09 WIB | Oleh: Haryo BronoSEBUAH fragmen tulang paha kuno yang terkubur selama jutaan tahun di situs ekskavasi Azmaka, Bulgaria, kini berada di pusat badai perdebatan ilmiah global. Penemuan ini bukan sekadar menambah koleksi museum, melainkan berpotensi meruntuhkan narasi tunggal “Out of Africa” yang selama puluhan tahun diyakini sebagai dogma asal-usul manusia.
Fosil tulang paha tersebut, yang diperkirakan berusia 7,2 juta tahun, memberikan indikasi anatomi yang mengejutkan: kemampuan untuk berjalan tegak dengan dua kaki atau bipedalisme. Jika terbukti benar, penemuan ini akan menempatkan spesies kera purba Eropa di garis depan silsilah keluarga manusia, mendahului banyak kandidat hominin awal dari benua Afrika.
Graecopithecus freybergi: Kandidat Kontroversial
Fosil yang ditemukan di tanah Bulgaria ini diidentifikasi sebagai milik Graecopithecus freybergi. Spesies ini sebelumnya merupakan sosok misterius dalam paleoantropologi, hanya dikenal melalui dua bukti fragmen yang sangat terbatas: sebuah tulang rahang bawah yang ditemukan di Yunani pada tahun 1944 dan satu gigi premolar yang ditemukan di Bulgaria pada 2012.
Dalam laporan penelitian terbaru, tim ilmuwan internasional mendeskripsikan bahwa tulang paha tersebut berasal dari seorang betina dewasa dengan estimasi berat badan sekitar 24 kilogram secara fisik sebanding dengan simpanse kecil modern. Namun, signifikansi temuan ini bukan terletak pada ukurannya, melainkan pada arsitektur tulangnya yang bercerita tentang cara spesies ini bergerak.
Sebaiknya Anda baca juga:
Anatomi Transisi: Jejak Langkah Pertama
Melalui analisis pemindaian canggih, para peneliti menemukan bahwa leher tulang paha Graecopithecus memiliki struktur yang relatif panjang dan mengarah ke atas. Ini adalah ciri khas morfologi yang biasanya diasosiasikan dengan spesies yang sudah beradaptasi untuk menopang beban tubuh secara vertikal.
Lebih jauh lagi, distribusi ketebalan pada lapisan luar tulang (cortical bone) dan titik-titik perlekatan otot menunjukkan adanya tekanan mekanis yang konsisten dengan aktivitas berjalan tegak.
Sebaiknya Anda baca juga:
“Pada usia 7,2 juta tahun, spesies ini memiliki potensi kuat untuk dinobatkan sebagai salah satu kandidat manusia tertua yang pernah ditemukan,” ujar David Begun, paleoantropolog dari Universitas Toronto yang turut membidani studi ini.
Meski demikian, para peneliti bersikap hati-hati. Mereka mengakui bahwa bipedalisme pada Graecopithecus kemungkinan besar masih bersifat fakultatif—sebuah fase transisi evolusi di mana spesies tersebut mulai berjalan tegak namun tetap mempertahankan karakteristik kera pemanjat pohon.
Sabana Balkan
Lingkungan purba di wilayah Balkan pada akhir zaman Miosen turut memperkuat hipotesis evolusi ini. Data paleoklimatologi menunjukkan bahwa sekitar 7 juta tahun lalu, wilayah tersebut mulai bertransformasi dari hutan lebat menjadi sabana terbuka dengan vegetasi yang jarang akibat perubahan iklim global.
Kondisi lingkungan yang terbuka ini diduga menjadi “tekanan seleksi” yang memaksa kera purba untuk turun dari pohon dan mulai berjalan tegak guna menempuh jarak jauh serta memantau predator di padang rumput yang luas. Adaptasi inilah yang selama ini dianggap sebagai tonggak awal yang memisahkan garis keturunan manusia dari simpanse.
Tantang Dominasi Teori Afrika
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!