Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Dolar AS Melemah di Asia, Yen Jadi Sorotan Jelang Pertemuan BoJ

📅 Senin, 18 Sep 2023, 09:40 WIB | Oleh: Tim Penulis
Dolar AS Melemah di Asia, Yen Jadi Sorotan Jelang Pertemuan BoJ Doc: ANTARA/Shutterstock
Ket. Uang kertas dolar AS dan yen Jepang.

SINGAPURA - Dolar AS dan sebagian besar mata uang utama lainnya melemah di awal sesi Asia pada perdagangan Senin (18/9) pagi, ketika hari libur di Jepang dan serangkaian pertemuan bank sentral yang akan datang menyedot perhatian pasar.

Pertemuan kebijakan Bank Sentral Jepang (BoJ) pada Jumat (22/9) merupakan puncak minggu ini di Asia, setelah Gubernur Kazuo Ueda memicu spekulasi akan segera menjauh dari kebijakan ultra-longgar.

Dalam seminggu yang penuh dengan pertemuan bank sentral, keputusan juga akan diambil dari Federal Reserve AS pada Rabu (20/9) dan Bank Sentral Inggris (BoE) pada Kamis (21/9).

Yen melemah terhadap greenback pada 147,82 per dolar karena pasar di Jepang tutup untuk hari libur nasional. Seminggu sejak pernyataan Ueda tentang langkah awal dari suku bunga negatif, yen telah turun 1,3 persen dan mengalami kerugian tahun 2023 menjadi lebih dari 11 persen.

Carol Kong, ekonom dan ahli strategi mata uang di Commonwealth Bank of Australia (CBA), mengatakan dia memperkirakan yen akan bergejolak menjelang pertemuan kebijakan.

"Dalam hal arah pergerakan, dolar/yen pasti bisa bergerak lebih tinggi," kata Kong.

Investor mungkin berpotensi salah menafsirkan komentar Ueda. Dan melemahnya upah di Jepang baru-baru ini dan kemungkinan harga juga dapat melemah dan mendorong BoJ lebih jauh dari target inflasinya, sehingga alasan untuk melakukan pengetatan kebijakan BoJ masih belum terlalu kuat, kata Kong.

"Jadi itu berarti dolar yen bisa menguat, terutama jika Gubernur Ueda terdengar dovish dan menghilangkan harapan pengetatan kebijakan pada pertemuan mendatang," katanya.

Indeks dolar sedikit lebih rendah pada 105,23, dengan euro naik 0,11 persen pada 1,0667 dolar. Sterling terakhir diperdagangkan pada 1,2397 dolar, naik 0,06 persen pagi ini.

Sebagian besar investor memperkirakan perbedaan dalam pertumbuhan ekonomi dan imbal hasil(yield)akan membuat dolar tetap tertopang, terutama terhadap euro. Sterling telah merosot hampir 6,0 persen terhadap dolar sejak pertengahan Juli, sementara euro telah turun lebih dari 5,0 persen karena pasar tenaga kerja dan perekonomian Inggris serta perekonomian zona euro melambat.

Bank Sentral Eropa (ECB) menaikkan suku bunga menjadi 4,0 persen pada minggu lalu tetapi mengatakan kenaikan ini bisa menjadi yang terakhir.

Dengan ditutupnya Jepang, pasar obligasi pemerintah tidak diperdagangkan pada Senin.

Imbal hasil obligasi pemerintah AS telah naik tipis, dengan imbal hasil obligasi dua tahunnya berada di atas ambang batas 5,0 perwsen dan naik 25 basis poin bulan ini, didorong oleh kenaikan belanja pemerintah dan antisipasi The Fed untuk mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama dan menghadapi pengendalian inflasi yang masih di atas target. Data penjualan ritel AS minggu lalu berperan dalam mengurangi kemungkinan resesi lebih jauh lagi.

Kontrak berjangka memperkirakan hanya ada 3,0 persen peluang bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga pada akhir pertemuan dua harinya pada Rabu (20/9) depan.

"Dengan pertumbuhan yang masih kuat dan masih adanya bukti tentatif bahwa pasar tenaga kerja dan inflasi mulai normal, para pejabat kemungkinan besar tidak akan bersedia mengirimkan sinyal bahwa mereka sudah selesai menaikkan suku bunga," tulis analis di Deutsche Bank Research.

BoE kemungkinan akan menaikkan suku bunga sekali lagi pada minggu ini, dan pasar sudah memperkirakan jeda dalam siklus pengetatan besar-besaran yang membuat para pembuat kebijakan khawatir terhadap perlambatan perekonomian.

Angka inflasi Inggris untuk Agustus juga akan dirilis pada Rabu (20/9) sesaat sebelum pertemuan BoE.

Sementara itu, harga minyak menambah kerumitan dilema pertumbuhan inflasi yang dihadapi bank sentral. Minyak juga berada di jalur kenaikan kuartalan terbesar sejak invasi Rusia ke Ukraina pada kuartal pertama tahun 2022.

Minyak mentah berjangka Brent mencapai level tertinggi dalam 10 bulan di atas 93 dolar AS per barel pada Jumat (15/9) dan membukukan kenaikan mingguan ketiga karena terbatasnya pasokan yang dipicu oleh pengurangan produksi di Arab Saudi dan beberapa optimisme seputar permintaan Tiongkok.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Daerah
Pemprov Jawa Timur Catat Po...

Keren, Unika Atma Jaya Masuk Top 100 Dunia WURI 2026

1.5 jam yang lalu | Mohammad Zaki Alatas

Nasional
Keren, Unika Atma Jaya Masu...
Daerah
BPJS Kesehatan Edukasi Pold...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Wakil Menteri Imipas Silmy Karim Ditahan KPK

Wakil Menteri Imipas Silmy Karim Ditahan KPK

04 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.