Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Deforestasi Global Menurun, FAO Ingatkan Dunia Jangan Lengah!

📅 Selasa, 21 Okt 2025, 21:05 WIB | Oleh: Tim Penulis
Deforestasi Global Menurun, FAO Ingatkan Dunia Jangan Lengah! Doc: Antara.
Ket. Ilustrasi - Deforestasi atau kerusahan hutan di Indonesia.

JAKARTA – Menekan deforestasi bukan hanya soal menjaga pohon tetap berdiri, tapi juga tentang mempertahankan keseimbangan iklim, keanekaragaman hayati, dan masa depan ekonomi global. Setiap hektare hutan yang hilang berarti berkurangnya kemampuan bumi menyerap karbon, meningkatnya risiko bencana, dan hilangnya sumber penghidupan bagi jutaan orang yang bergantung pada ekosistem hutan.

Menahan laju deforestasi itu ibarat menekan rem sebelum jurang — semakin cepat dilakukan, semakin besar peluang bumi bertahan. Dunia butuh kebijakan nyata, bukan sekadar komitmen di atas kertas: dari moratorium izin pembukaan lahan, insentif ekonomi hijau, hingga penegakan hukum yang konsisten.

Keberhasilan menekan deforestasi akan menentukan kredibilitas global negara-negara dalam menghadapi krisis iklim, sekaligus membuka jalan bagi model pembangunan yang lebih berkelanjutan dan inklusif.

Organisasi Pangan dan Pertanian atau Food and Agriculture Organization (FAO) mencatat, laju deforestasi dunia menunjukkan tren perlambatan dalam satu dekade terakhir berdasarkan laporan Global Forest Resources Assessment (FRA) 2025.

Laporan yang diterbitkan setiap lima tahun itu menunjukkan bahwa luas hutan dunia kini mencapai 4,14 miliar hektare (ha), atau sekitar sepertiga dari total daratan bumi. Laju deforestasi menurun dari 17,6 juta ha per tahun pada periode 1990-2000 menjadi 10,9 juta hektare per tahun pada periode 2015-2025.

"Perkiraan laju deforestasi adalah sebesar 10,9 juta ha per tahun pada tahun 2015-2025, menurun dari 13,6 juta ha per tahun pada tahun 2000-2015 dan 17,6 juta ha per tahun pada tahun 1990-2000. Laju perluasan hutan melambat dari 9,88 juta ha per tahun pada tahun 2000-2015 menjadi 6,78 juta ha per tahun dalam dekade hingga tahun 2025," tulis laporan tersebut, Jakarta, Selasa (21/10).

Laporan FRA 2025 diluncurkan bersamaan dengan Global Forest Observations Initiative (GFOI) Plenary 2025 pada 21 Oktober 2025 di Bali, yang menjadi ajang pertemuan global para pengambil kebijakan, donor, dan praktisi kehutanan.

Selain mencatat penurunan laju kehilangan hutan (deforestasi), laporan FAO juga menyoroti lebih dari setengah kawasan hutan dunia kini berada dalam rencana pengelolaan jangka panjang, serta sekitar seperlima hutan dunia telah masuk kawasan lindung secara hukum.

Namun demikian, salah satu badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) itu mengingatkan bahwa ancaman terhadap ekosistem hutan masih besar.

Hutan di dunia masih hilang hampir 11 juta ha per tahun, yang menunjukkan bahwa upaya konservasi dan kebijakan pengelolaan hutan masih perlu ditingkatkan.

Perlambatan deforestasi juga diimbangi dengan penurunan laju perluasan hutan. Penanaman kembali dan ekspansi hutan baru kini berjalan lebih lambat dibandingkan periode sebelumnya, dari 9,88 juta ha per tahun (2000-2015) menjadi hanya 6,78 juta ha per tahun pada dekade terakhir.

Selain itu, gangguan terhadap hutan akibat kebakaran, hama, penyakit, serta dampak perubahan iklim juga terus menjadi tantangan serius bagi kesehatan dan fungsi ekologis hutan. Gangguan-gangguan tersebut mengancam keanekaragaman hayati dan peran hutan sebagai penyerap karbon.

FAO menyoroti pentingnya menghubungkan pengelolaan hutan dengan tujuan global seperti keanekaragaman hayati, mitigasi iklim, dan penggunaan lahan berkelanjutan. Maka dari itu, data kehutanan harus diintegrasikan ke dalam kebijakan lintas sektor agar manfaatnya lebih luas.

Lebih lanjut, melalui risetnya, FAO mencatat bahwa Indonesia termasuk dalam lima negara dengan area hutan primer terbesar di dunia, bersama Rusia, Brasil, Kanada, dan Republik Demokratik Kongo. Kelima negara itu menyumbang sekitar 75 persen dari total hutan primer global.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Megapolitan
Perum Bulog Lebak-Pandeglan...

BPJS Kesehatan Edukasi Polda Kepri Terkait Program JKN

25 menit yang lalu | Bambang Wijanarko

Daerah
BPJS Kesehatan Edukasi Pold...
Rona
6 Drama Korea Baru yang Waj...
Daerah
Bus Transjateng Akan Tambah...

Wakil Menteri Imipas Silmy Karim Ditahan KPK

1.5 jam yang lalu | Lili Lestari

Nasional
Wakil Menteri Imipas Silmy ...
Olahraga
Janice Tjen Mulus ke Peremp...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Wakil Menteri Imipas Silmy Karim Ditahan KPK

Wakil Menteri Imipas Silmy Karim Ditahan KPK

04 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.