Bahan Bakar Bobibos akan Diproduksi Massal Tahun Depan, Sudah Layak Edarkah?
📅 Kamis, 13 Nov 2025, 11:31 WIB | Oleh: Lili Lestari
Doc: Instagram/@kangmulyadi70
JAKARTA – Bahan Bakar “Bobibos” kembali diperbincangkan setelah diluncurkan di Jonggol, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, awal November 2025. Biofuel ini akan diproduksi massal tahun depan.
Bobibos merupakan singkatan dari "Bahan Bakar Original Buatan Indonesia Bos", produk bahan bakar nabati atau biofuel yang diklaim dibuat dari tanaman lokal (jerami) dan digadang-gadang memiliki emisi sangat rendah (mendekati nol) serta angka oktan tinggi setara RON 98.
Klaim itu disampaikan oleh tim penemu Bobibos yang dipimpin M Ikhlas Thamrin saat peluncuran dan unggahan di media sosial pada 2 November lalu.
Perusahaan yang memproduksi Bobibos yakni PT Inti Sinergi Formula menyebutnya sebagai Bahan Bakar Nabati. “Insya Allah ini akan menjadi energi alternatif terbarukan di sektor bahan bakar,” kata Mulyadi, Komisaris Utama PT Inti Sinergi Formula di Jonggol, Kabupaten Bogor, Jawa Barat , Selasa (11/11), dikutip dari Tempo.
Mulyadi mengatakan, pihaknya akan memulai produksi massal pada Februari 2026. Dan akan diuji coba serta dibagikan ke warga di sekitar Jonggol.
Sebaiknya Anda baca juga:
“Saya ingin membantu masyarakat, setidaknya meringankan beban mereka dengan memberi bahan bakar nabati ini, dan sekaligus uji coba massal," kata legislator di Fraksi Gerindra di DPR RI.
Mulyadi menyatakan, riset dan pengembangan Bobibos dilakukan 100 persen di dalam negeri, oleh putra-putri Indonesia. Pengembangan masih terus dilakukan sambil menunggu izin produksi massal dari pemerintah. Ia mengatakan, saaat ini sudah tersedia sekitar 3 ribu liter.
Menurut artikel di laman Universitas Airlangga, Bobibos menjadi perhatian publik karena klaim performa dan emisi rendah yang menawarkan harapan pada masalah energi dan kualitas udara di Indonesia. Inisiatif ini juga diposisikan sebagai produk anak bangsa yang bisa mendorong kemandirian energi dan pemanfaatan sumber daya lokal.
Sebaiknya Anda baca juga:
Klaim tersebut memicu optimisme sekaligus keraguan, terutama karena peredaran bahan bakar komersial harus melalui proses pengujian dan regulasi ketat. Sebagian publik menyambutnya dengan antusias, sebagian lain mempertanyakan keamanan, keandalan mesin, dan keabsahan tes laboratorium.
Kementerian Energi dan Sumber Daya Minderal (ESDM) menegaskan, produk BBM harus melalui serangkaian uji terstandar sebelum diperjualbelikan secara luas dan mengingatkan bahwa proses evaluasi dapat memakan waktu berbulan bulan.
Menurut pejabat ESDM, pihak penemu memang mengajukan uji di laboratorium namun hasilnya belum final dan belum ditetapkan sebagai layak edar. Pernyataan ini memperkuat alasan konsumen untuk menunggu bukti ilmiah yang terbuka.
Klaim Ilmiah dan Bukti yang Tersedia
Penemu Bobibos menyatakan bahwa risetnya berlangsung lebih dari satu dekade dan menyebut ada data uji laboratorium serta uji fungsi pada berbagai kendaraan yang menunjukkan performa baik dan tingkat emisi rendah.
Mereka juga mengklaim Bobibos tersedia dalam varian bensin dan solar serta mampu mencapai angka oktan mendekati 98. Namun, beberapa laporan menyebut dokumen uji masih berada dalam kesepakatan tertutup antara penemu dan lembaga penguji, sehingga publik belum bisa memverifikasi data tersebut secara independen.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!